Kantor Bukalapak di Medan Tutup, Begini Tanggapan Dua Pengamat Ekonomi

Salah satu efisiensi yang dapat dilakukan adalah pengurangan jumlah karyawan. Konsumen pasti mencari marketplace

Kantor Bukalapak di Medan Tutup, Begini Tanggapan Dua Pengamat Ekonomi
TRIBUN MEDAN/Ist
FOTO ILUSTRASI: Bukalapak

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN-
Kantor Bukalapak dikabarkan tutup di Medan. Menanggapi hal ini, Pengamat ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Wahyu Ario Pratomo mengatakan persaingan di marketplace-marketplace yang ketat memaksa Bukalapak harus melakukan efisiensi.

"Salah satu efisiensi yang dapat dilakukan adalah pengurangan jumlah karyawan. Konsumen pasti mencari marketplace yang memberikan keuntungan yang besar melalui harga yang bersaing. Di samping itu, bonus free ongkos kirim juga menjadi pendorong konsumen melakukan transaksi di market place itu," ujar Wahyu, Rabu (11/9/2019).

Ia menjelaskan ada beberapa marketplace yang memiliki sendiri perusahaan logistiknya, sehingga menjadi lebih murah bahkan gratis. Selain itu, bonus-bonus pada waktu-waktu tertentu menjadi media promosi dan peningkatan penjualan. Dengan demikian, marketplace yang kuat, akan lebih dapat bersaing

Pada saat Tribun Medan menanyakan apakah kantor marketplace itu perlu, kata Wahyu, sebenarnya kantor marketplace tidak perlu juga. Hanya saja untuk memfasilitasi pelaku usaha di daerah.

"Karena kalau marketplace itu semakin lengkap, maka semakin disenangi konsumen.
Bisa jadi juga, karena pelaku usaha yang terdata sudah sangat banyak di Bukalapak, sehingga dapat dikurangi jumlah kantornya untuk alasan efisiensi," tambahnya.

Ia menjelaskan marketplace tetap diperlukan sebagai media penjualan yang berperan bagi UMKM. Hanya saja memang persaingan sehat antar marketplace perlu dijaga. Jangan sampai nanti menjadi perusahaan monopoli atau oligopoli. Sehingga tidak menguntungkan konsumen.

"Kita tentunya berharap tidak ada satu perusahaan pun di Kota Medan yang menutup kantor atau usahanya karena akan menambah jumlah angka pengangguran di wilayah ini," kata Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin.

Dijelaskannya, penambahan jumlah pengangguran akan membuat usaha pengentasan kemiskinan semakin sulit untuk dilakukan. "Namun, jika kita bicara mengenai kondisi ekonomi belakangan ini, usaha apapun yang dilakukan tidak akan mudah untuk keluar. Saat ini kita tengah berhadapan dengan perang dagang yang bisa saja membuat negara masuk dalam jurang resesi," ungkapnya.

Gunawan mengatakan harga komoditas juga anjlok. Inflasi lumayan tinggi di Sumut. Jadi pada dasarnya tidak mudah menjalankan bisnis di tengah kondisi seperti ini.

"Bukalapak yang tutup kantor, ini sekaligus membantah bahwa industri online lebih mampu bertahan di tengah gempuran tekanan ekonomi. Jadi saya berkesimpulan pada dasarnya sama saja industri online maupun konvensional," ungkapnya.

Ia menjelaskan pada dasarnya kehadiran kantor Bukalapak di Medan akan menambah daya dobrak pemasaran Bukalapak itu sendiri. Tetapi, Bukalapak memang tidak sendirian, ada pesaing lainnya antara lain Shopee, Lazada maupun industri berbasis online lain.

"Perlu didalami kembali memang untuk masalah persaingan tersebut. Apakah memang Bukalapak sendiri yang justru tergerus dengan persaingan tersebut. Saya menilai ini masih masalah bisnis ataupun ekonomi yang menjadi alasan ditutupnya kantor di Medan tersebut. Kalau ditanya butuh atau tidak adanya kantor. Tentunya akan lebih baik memang jika ada kantor representatif yang mendekatkan diri ke masyarakat. Dan yang paling penting kantor tersebut memberikan kontribusi laba bagi perusahaan," kata Gunawan.

(nat/tribun-medan.com)

Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved