Kisah Nurdiana, Seorang Mualaf Tuna Netra yang Ikut MTQ

Ia merupakan seorang mualaf, sehingga perjalanannya membaca Al Quran Braille memiliki tantangan yang cukup besar

Kisah Nurdiana, Seorang Mualaf Tuna Netra yang Ikut MTQ
TRIBUN MEDAN/GITA TARIGAN
Puluhan masyarakat tuna netra yang tergabung dalam Persatu Tuna Netra Indonesia (Pertuni) cabang Medan, membaca Al Quran dalam acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang diselenggarakan di Kantor Pertuni Jalan sampul nomor 30 Medan, Rabu (11/9/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Lantunan Ayat Suci Al Quran memenuhi seisi ruangan, ayat demi ayat dibaca dengan merdu dan apik oleh sekumpulan masyarakat tuna netra yang tergabung dalam Persatu Tuna Netra Indonesia (Pertuni) cabang Medan, dalam acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang diselenggarakan di Kantor Pertuni Jalan sampul nomor 30 Medan, Rabu (11/9/2019).

Saat disambangi Tribun Medan, para peserta MTQ tampak mempersiapkan diri dengan mengulang-ulang pembacaan Al Quran yang dibuat dalam huruf Braille. Perlu diketahui bahwa huruf Braille merupakan sistem tulisan sentuh yang digunakan oleh penyandang tuna netra.

Satu diantara peserta yang terlihat sangat antusias bernama Nurdiana (45), saat berbincang dengan tribun medan, Nur mengaku sudah tiga kali mengikuti MTQ Pertuni, dan pernah mendapat juara tahun lalu.

Sebelumnya, Nur bercerita bahwa Ia merupakan seorang mualaf, sehingga perjalanannya membaca Al Quran Braille memiliki tantangan yang cukup besar, belum lagi katanya saat itu Ia harus bekerja dan mengurus ketiga anaknya.

"Saya sudah nggak ingat lagi lagi tahun berapa masuk Pertuni, pokoknya udah lama kali lah, saya ini mualaf, alasan masuk Islam dulu sebenarnya sulit dijelaskan, seperti ada rasa ingin belajar, sebab waktu itu saya di asrama banyak berteman dengan yang agama muslim dan mereka sholat, puasa, baca Al Quran, ketika saya ingin gabung mereka bilang tidak boleh karena mereka tau agama saya berbeda, saya juga coba puasa, sholat, namun rasanya nggak ada gunanya kalau belum masuk agama Islam," katanya.

Selanjutnya Nur bercerita bahwa selama dua tahun penuh Ia belajar tentang agama Islam, baik sholat, Iqra, puasa serta ilmu-ilmu agama lainnya. Meski demikian Ia saat itu belum bisa baca Al Quran.

Setelah menikah dan memiliki tiga anak yang lancar membaca Al Quran, Nur merasa malu dan memutuskan belajar di Pertuni.

"Saya malu, Anak-anak kan belajar di Islamiyah Guppi, jadi orang itu semua udah pande ngaji, kami orangtuanya kok belum, akhirnya kami dua belajar di pertuni, belajarnya susah sekalu selama bertahun-tahun kami belajar, tajwidnya aja sulit, belum lagi membedakan huruf hijaiyahnya kan ada beberapa yang hampir-hampir sama pengucapannya," jelasnya

Tidak dipungkiri Ia mengaku kesulitan saat awal-awal belajar, selain faktor umur, pekerjaan, serta tanggungjawabnya sebagai Ibu tiga anak harus Ia lakoni sembari belajar Al Quran.

"Ya, sekali belajar kami bisa seharian, tapi Alhamdullilan semua bisa dilalui, kita hidup jangan hanya mengincar dunia saja, harus lengkap dunia dan akhirat, Alhamdulillah setiap tahun saya ikut khataman, saya cinta Islam, kalau kita cinta, pasti mau belajar, bahkan sekarang kalau meninggalkan sholat dengan sengaja, saya takut," katanya.

Ibu empat anak ini mengaku memiliki pendapatan yang tidak menentu setiap harinya, meski demikian keempat anaknya telah berhasil menempuh pendidikan dengan baik. Seperti anak pertamanya yang baru selesai S-1, anak kedua dan ketiga sedang berkuliah di Yogya dan anak terakhirnya masih sekolah Dasar (SD).

"Perharinya nggak menentu, bisa juga nggak dapat, kalau suami apa aja dikerjainnya. Saya belajar pijat massage di Tebing, sekolah dari Dinas Sosial," katanya

Ketua Bidang Kesejahtraan Pertuni, Irfan menambahkan selain untuk menyemarakkan tahun baru Islam, kegiatan ini juga sebagai wujud semangat para anggota untuk menguji kembali ketepatan membaca. MTQ ini juga katanya sebagai bentuk syiar Islam kepada seluruh umat muslim.

"Kegiatan ini dilaksanakan oleh kelompok pengajian tuna netra unit Pertuni DPC Kota Medan, ini diselenggarakan guna menyemarakkan tahun baru Islam 1441 H, supaya Pertuni ini lebih baik dan menjunjung nilai-nilai keagamaan yang baik," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved