Bedah Film Cerita Pekerja Anak Berlangsung Haru, Vina: Aku Janji Sukses Meski Belum Bekerja Sekarang

Film mengisahkan perjalanan seorang anak Joki PR Tugas Sekolah berdurasi selama 10 menit.

Bedah Film Cerita Pekerja Anak Berlangsung Haru, Vina: Aku Janji Sukses Meski Belum Bekerja Sekarang
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Diskusi, Nonton Bareng dan Bedah Film Karya Anak PKPA Medan yang berlangsung di Aula Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Medan, Kamis (12/9/2019)

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Kota Medan menggelar nonton bareng dan bedah film yang mereka buat sendiri bersama anak jalanan sekitar Kota Medan.

Film mengisahkan perjalanan seorang anak Joki PR Tugas Sekolah berdurasi selama 10 menit.

Meski begitu singkat, film ini menjadi awal diskusi yang berlangsung haru di Aula Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Medan, Jalan AH Nasution, No.112, Kelurahan Kwala Bekala, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, Kamis (12/9/2019) sore.

Koordinator acara Ayu Lestari mengatakan, pemeran film dokumenter ini adalah anak anak jalanan dan pekerja yang berada di beberapa titik di Kota Medan. Film ini digarap sejak sebulan yang lalu, untuk menyampaikan pesan mereka sebagai anak pekerja pada dunia luas.

"Mereka ini ada yang sudah tidak sekolah lagi. Bekerja dengan keterpaksaan ekonomi keluarga yang lemah. Dan ini yang menjadi konsentrasi kita bagaimana mengembalikan hak hak mereka, sehingga coba dibuat dengan film agar memberikan pesan," ujar Ayu dalam kesempatannya.

Sembari memegang kamera DSLR yang ia punya, Ayu berujar perhatian kepada mereka bukan berarti tidak ada, melainkan kurang fokus. Sejauh ini PKPA Medan sudah menjangkau sekitar 250 anak dengan beberapa kriteria.

PKPA membagi tiga kriteria anak layak perhatian, pertama, Anak rentan yaitu anak yang menyempatkan waktunya untuk bekerja paruh waktu seusai sekolah untuk membantu ekonomi keluarga. Kedua, Hight Risk, yaitu anak anak yang memang hidup di jalanan dan ketiga, anak miskin kota yaitu anak yang memiliki keluarga, tidak bekerja namun layak diperhatikan.

Saban kali ditemui, sejumlah anak anak kerap mengaku putus sekolah. Tak cukup hak pendidikannya yang kandas. Mereka juga sering bercerita tentang ancaman yang diterima saat bekerja di jalanan.

"Saya dulu kerja sama nenek pulang sekolah. Ikut bantu jualan Mi Sop. Saya sudah bilang saya gak bisa ikut jualan lagi. Saya mau belajar dan kumpul, main dengan teman teman. Saya bilang, saya akan sukses kok, suatu saat meski mulai kerjanya setelah selesai pendidikan," ujar Vina dengan mata berkaca.

"Saya terus bilang, saya gak bisa kerja. Saya janji akan sukses kok kalau sudah besar," cetusnya yang membuat hening seisi aula.

Perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Medan Robert Napitupulu menjelaskan perlunya kajian teknis guna mencegah terjadinya anak pekerja atau anak yang terpaksa bekerja.

Ia berjanji untuk menyampaikan hal terkait tugas pokok dan fungsinya ke ranah yang lebih tinggi. Sebab perlindungan anak sangat jelas diatur dalam UUD 1945 dan petunjuk International Labour Organization, Badan PBB yang konsen terhadap buruh dan pekerja.

(cr15/tribun-medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved