INILAH Guru Intelektual BJ Habibie hingga Indonesia jadi Negara Demokrasi dan Punya Kebebasan Pers

Indria Samego, mantan asisten wakil presiden bidang politik dan keamanan mengatakan, BJ Habibie orang yang mau mendengar dan mengakui kesalahannya.

INILAH Guru Intelektual BJ Habibie hingga Indonesia jadi Negara Demokrasi dan Punya Kebebasan Pers
kontan.co.id
INILAH Guru Intelektual BJ Habibie hingga Indonesia jadi Negara Demokrasi dan Punya Kebebasan Pers . Presiden Soeharto mengundurkan diri dan BJ Habibie menjadi Presiden Ke-3 RI, 21 Mei 1998 

Keduanya menikah pada tanggal 12 Mei 1962 dan pindah ke Jerman, menetap di Aachen. Pada tahun 1965, Habibie menyelesaikan pendidikan doktoralnya dan mendapatkan gelar Dr. -Ing.

Penelitiannya membuat perusahaan penerbangan Boeing dan Airbus tertarik untuk merekrutnya, tetapi Habibie menolaknya dan kemudian memilih bekerja untuk perusahaan penerbangan Jerman, Messerschmitt-Bölkow-Blohm di Hamburg dan mengembangkan beberapa teorinya sendiri dalam bidang termodinamika, konstruksi dan aerodinamika.

Pada tahun 1974 Habibie dipromosikan menjadi wakil direktur eksekutif Messerschmitt.

Industri strategis
Pada tahun 1974 itu, Presiden Indonesia ketika itu Soeharto meminta Habibie untuk kembali ke Indonesia.

Habibie sempat menjadi asisten khusus untuk direktur Pertamina Ibnu Sutowo selama dua tahun sebelum ditunjuk menjadi presiden direktur Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang sekarang dikenal dengan nama PT Dirgantara Indonesia.

Di tahun 1978 ia ditunjuk menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi dan saat itu ia mengembangkan "industri strategis" di Indonesia yang mencakup pengembangan teknologi penerbangan (lewat IPTN), perkapalan (lewat PT PAL) dan persenjataan (lewat PT Pindad).

Pada dekade 1980-an, IPTN berkembang pesat dengan spesialisasi mengembangkan pesawat penumpang kecil jarak sedang seperti CN-235 yang bekerja sama dengan perusahaan CASA dari Spanyol.

IPTN juga menjadi pabrikan bagi helikopter Puma dan mengembangkan pesawat kecil N-250 yang dijuluki Gatotkaca.

Menjadi wakil presiden
Selama masa pemerintahan Soeharto, Habibie enam kali menjadi anggota kabinet dalam rentang waktu 20 tahun untuk jabatan yang kurang lebih sama: menteri negara riset dan teknologi.

Pada bulan Januari 1998, Soeharto secara tidak langsung mencalonkan Habibie menjadi wakil presiden ketika menyebut bahwa untuk masa jabatan ketujuhnya, calon wakil presiden yang mendampingi harus memiliki pengetahuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Halaman
1234
Editor: Tariden Turnip
Sumber: bbc
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved