Sail Nias Bangkitkan Ragam Budaya Khas Daerah

Grup musik yang dibantu Kemendes berupa Keyboad dan satu set guitar lengkap ini, lanjut Fau akan tampil bersama 100 lebih penyanyi.

Sail Nias Bangkitkan Ragam Budaya Khas Daerah
Istimewa
Grup Musik Solare dari Nias Selatan sedang berlatih dalam rangka memeriahkan puncak Sail Nias 2019 di Telukdalam, Nias Selatan, Kamis (12/9/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Taufik Madjid mengharapkan momentum Sail Nias 2019 dapat membangkitkan ragam budaya khas daerah sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk datang ke Nias.

Hal tersebut disampaikan Dirjen dalam rapat evaluasi kesiapan puncak acara Sail Nias 2019 di Hotel Howu-Howu, Nias Selatan, Selasa dan Rabu, (10 dan 11/09/2019).

Di hadapan panitia, Kadis PMD Nias Selatan dan Pendamping Desa, Taufik yakin di setiap daerah memiliki ragam budaya dan kesenian khas sehingga memiliki potensi untuk berkembang dan maju.

"Momentum Sail Nias 2019 ini secara langsung maupun tidak langsung dapat membangkitkan gairah seni budaya khas daerah. Kita fasilitasi grup seni budaya di puncak acara nanti agar menjadi motivasi dan inspirasi bagi yang lain," tegasnya.

Sebagaimana diketahui, di puncak acara tanggal 13-14 nanti akan ditampilkan berbagai pagelaran, antara lain Farmozi Gondra, Orahu (Syair Lokal), Tari Fame Afo dan Suara Anak Nias.

Sementara itu, menurut koordinator vocal grup Solare Li, Veniator Fau, grup nya nanti diminta tampil menyanyikan lagu-lagu khas Nias, selain itu juga ditampilkan tari-tarian kolosal.

Grup musik yang dibantu Kemendes berupa Keyboad dan satu set guitar lengkap ini, lanjut Fau akan tampil bersama 100 lebih penyanyi.

Salah satu lagu favorit yang akan dinyanyikan berjudul TA FABELA-BELA (Mari saling merangkul atau kita semua bersatu-bersaudara).

Lagu rakyat asli Nias Selatan ini, lanjut Fau telah menjadi tradisi-budaya masyarakat yang diwariskan antar generasi secara turun temurun selama ratusan tahun.

"Lagu ini bercerita kondisi masyarakat jaman dulu belum ada listrik dan belum ada sarana hiburan di Desa", katanya.

Saat terang bulan tiba, lanjutnya, masyarakat Desa berkumpul di halaman luas untuk bermain bersama dan menyanyikan lagu ini. Mereka saling merangkul dan akrab tanpa sekat.

"Mari saling merangkul. Kita semua bersatu dan bersaudara", pungkasnya.(*/sky)

Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved