Tobasa Darurat Kekerasan Anak, dari 154 Kasus Pelanggaran, 52 Persen adalah Kasus Kejahatan Seksual

Dari 145 kasus pelanggaran terhadap anak di wilayah Kabupaten Tobasa 52% didominasi oleh kejahatan seksual, dan 42% selebihnya kasus-kasus pelanggaran

Tobasa Darurat Kekerasan Anak, dari 154 Kasus Pelanggaran, 52 Persen adalah Kasus Kejahatan Seksual
Shutterstock
Tobasa Darurat Kekerasan Anak, dari 154 Kasus Pelanggaran, 52 Persen adalah Kasus Kejahatan Seksual. Ilustrasi. 

Tobasa Darurat Kekerasan Anak, dari 154 Kasus Pelanggaran, 52 Persen adalah Kasus Kejahatan Seksual

TRIBUN-MEDAN.com-Tobasa Darurat Kekerasan Anak, dari 154 Kasus Pelanggaran, 52 Persen adalah Kasus Kejahatan Seksual.

Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (KomnasPA) Arist Merdeka Sirait menilai bahwa beruntun dan tingginya angka kekerasan terhadap anak yang terjadi di Kabupaten Tobasa, tidaklah berlebihan.

Kabupaten Toba Samosir masuk dalam kategori darurat kekerasan terhadap anak setelah Kabupaten Simalungun, Tapanuli Utara Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah dan Samosir.

Arist Merdeka Sirait menyebutkan bahwa tidak bisa terbantahkan lagi bahwa dalam kurun waktu Januari - Juni 2019 data kekerasan terhadap anak yang dilaporkan dan dikumpulkan pusat data dan pengaduan Komnas Perlindungan Anak.

Dari 145 kasus pelanggaran terhadap anak di wilayah Kabupaten Tobasa 52% didominasi oleh kejahatan seksual, dan 42% selebihnya kasus-kasus pelanggaran terhadap anak seperti eksploitasi ekonomi, seksual.

Kemudian, penculikan dan perdagangan anak, kejahatan kejahatan seksual, serta anak dengan HIV/ AIDS yang telah menelan puluhan korban anak-anak akibat terpapar HIV AIDS.

Baca: Daftar Prestasi BJ Habibie, Pimpin Proyek Pesawat N250 Gatot Kaca hingga Raih Edward Warner Award

Baca: Ananda Martil Kepala Sugianto saat Lengah usai Diajak Minum Miras bareng Sang Pacar

Baca: Pelajar 17 Tahun Membunuh Begal yang Ingin Perkosa Kekasihnya, Polisi Ungkap Kenapa Tidak Ditahan

Dari angka ini, ditemukan pula sebarannya merata baik di desa Kecamatan maupun kota, dan para predatornya adalah orang-orang yang berada dilingkungan terdekat anak

Ayah kandung maupun tiri, abang, kerabat dekat keluarga, paman, kakek, guru, baik guru reguler maupun non reguler, teman sebaya anak, tetangga, pedagang keliling antar kampung dan kelurahan serta kerabat dari orang tua.

Baca: Detik-detik Siswa Ancam Guru Gunakan Sabit karena Ponselnya Disita saat Main Game Online

Baca: Presiden RI Ke-3 BJ Habibie - Ustaz Abdul Somad Mengenangkan Tatapan Pertama dan Terakhir

Baca: Quraish Shihab Ungkap Peran nan Teramat Penting BJ Habibie di Balik Kitab Tafsir Al Misbah

Baca: Menilik Potret Keseruan Bulan Madu Roger Danuarta dan Cut Meyriska di Singapura

Sementara lingkungan sosial anak, ruang publik dan tempat bermain anak serta pondok-pondok dan panti-panti juga tidak aman lagi bagi anak-anak dari ancaman kekerasan.

Halaman
123
Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Joseph W Ginting
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved