Beda Harga 200 sampai 400 Persen, Peluang Bisnis Impor Barang Cina Makin Moncer

Bukan tanpa alasan, produk-produk ini terkenal dengan harga yang murah sehingga peluang untuk dijual kembali sangat besar.

Beda Harga 200 sampai 400 Persen, Peluang Bisnis Impor Barang Cina Makin Moncer
Tribun Medan/Septrina Ayu Simanjorang
Ronaldo Tan saat menjadi pembicara di Seminar Menjadi Importir Bagi Pemula di Hotel GranDhika Setiabudi Medan, Sabtu (14/9/2019). Ia memberikan ilmu pada anggota, bertepatan pada ulang tahun Komunitas Bukalapak Medan yang keempat 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Barang- barang impor khususnya dari Cina sangat diminati oleh masyarakat. Bukan tanpa alasan, produk-produk ini terkenal dengan harga yang murah sehingga peluang untuk dijual kembali sangat besar.

Peluang ini juga terbuka luas di Medan. Untuk memberikan ilmu pada anggota, bertepatan pada ulang tahunnya yang ke empat, Komunitas Bukalapak Medan menggelar Seminar Menjadi Importir Bagi Pemula di Hotel GranDhika Setiabudi Medan, Sabtu (14/9/2019).

"Kalau kita membicarakan bisnis, sudah pasti muaranya adalah profit. Sekarang yang paling menguntungkan adalah kita impor dari Cina. Di Cina itu barang-barang sangat-sangat murah," ujar  Ronaldo Tan selaku pembicara

Ia mengatakan harga sebuah produk di Cina dibanding produk sudah sampai di Indonesia bisa selisih 200 hingga 400 persen. Peluang ini juga akan semakin terbuka melihat kebutuhan di zaman milenial di mana kebanyakan anak milenial memakai produk-produk bermerek yang kebanyakan diImpor.

"Milenial sekarang 80 persen barang yang dikenakan di badannya adalah produk impor. Misalnya sebuah baju branded kalau kita beli di Indonesia harganya Rp 2 jutaan, tapi kalau kita langsung ke pabriknya di Cina bisa dapat Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu," imbuh Ranger Komunitas Bukalapak Padang ini.

Berbicara mengenai produk yang akan dijual atau diimpor, menurut Ronaldo lihatlah produk yang sedang tren saat ini di negara maju. Ia mengatakan di Cina setiap hari muncul tren dan produk baru.

"Tren-tren ini biasanya berasal dari negara maju yang sampai ke negara berkembang dalam 8 bulan sampai 2 tahun. Kalau kita mau mengimpor barang, kita harus pelajari tren yang sedang berkembang di Singapura misalnya," imbuhnya.

Ketika barang yang diimpor pas dan menjadi trendsetter, keuntungannya pengimpor bisa melakukan set harga awal. Meski begitu, dalam impor juga ada tantangan yang harus dihadapi.

"Masalah utama impor adalah modal, kwalitas barang, tidak ada gudang, pengiriman, pajak, komunikasi dengan penjual karena beda bahasa, dan banyaklah," katanya.

Dalam menghadapi tantangan itu, menurut Ronaldo saat ini sudah banyak solusi dalam mempermudah impor barang. Barang-barang ini bisa dilihat secara online di berbagai website seperti Alibaba, Taobao, dan banyak lagi.

Halaman
12
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved