Petani Mangrove Bangun Rumah Baca Danau Siombak, Hasil Menabung Bertahun-tahun

Sebuah pondok sederhana dengan luas 4×8 meter yang terbuat dari kayu dan bambu berdiri tegak diatas danau Siombak.

TRIBUN MEDAN/GITA TARIGAN
Wibi Nugraha, petani Mangrove beserta anak didik di Rumah Baca Danau Siombak. 

TRIBUN-MEDAN.com - Sebuah pondok sederhana dengan luas 4×8 meter yang terbuat dari kayu dan bambu berdiri tegak diatas danau Siombak.

Pondok sederhana tersebut menjadi wadah anak-anak yang tinggal disekitaran Danau untuk menghabiskankan waktu belajar tentang lingkungan, sejarah, tata krama dan lainnya.

Didirikan oleh seorang petani mangrove Wibi Nugraha, bermodal uang tabungan yang Ia kumpulkan selama beberapa tahun, Wibi memutuskan untuk membangun Rumah Baca Danau Siombak dengan alasan sangat minimnya wadah edukatif bagi anak-anak sekitaran Danau.

"Aku lihat anak-anak disini sehabis dari bantu orangtua, mereka lanjut main kesana kemari, tapi tidak ada kegiatan yang mendidik, jadi bermodal dari uang tabungan, saya dan rekan saya Alam membangun rumah baca ini secara mandiri," katanya.

Meski demikian, Lelaki kelahiran Bangka Belitung ini mengaku perjuangan membangun rumah baca tidaklah mudah, banyak pihak yang menganggap dia aneh bahkan dikatai gila sebab mau menguras tenaga dan materi untuk sesuatu hal yang tidak menghasilkan materi.

"Aku bangun rumah baca ini bukan untuk nyarik duit, murni untuk anak-anak belajar. Maklum lah ada beberapa orang menganggap aku aneh, bahkan dikatai gila. Membangun rumah baca ini kemarin cukup melelahkan karena tukangnya gak ada, yang ngerjain cuma lima orang, tapi kerjanya gila-gila-an bahkan pernah kita kerja dari pagi sampai subuh," katanya.

Sebagian besar buku-buku Rumah Belajar berasal dari sumbangan di berbagai pihak, Wibi mengaku setelah rumah belajar berdiri, masyarakat serta elemen pemerintah mendukung dan menyambut baik.

Meski demikian, Wibi mengaku tidak menerima uang untuk bantuan rumah baca.

"Bukunya dari kawan-kawan, aku nggak mau terima uang kalau mau bantu jangan kasi uang, lebih baik dikasih buku biar saya jemput sendiri," katanya.

Kegiatan rutin di rumah baca selaku diisi oleh anak-anak, baik untuk sekadar belajar atau bermain. Wibi berharap rumah baca ini menjadi tempat anak-anak berkumpul, belajar dan saling berbagi ilmu pengetahuan.

"Aku berharap ini jadi wadah buat anak-anak agar bisa berkreasi dan menambah ilmu, buku-buku disini bagus-bagus tapi aku tekankan buku-buku disini lebih banyak menyinggung soal kepribadian dan tata krama, seperti menghormati orangtua, keluarga dan mencintai lingkungan," katanya.

Ragam buku yang memuat tentang kisah-kisah daerah di Indonesia seperti Malin kundang, serta kisah-kisah pahlawan Indonesia tersusun rapi di rak-rak kayu berwarna-warni.

"Ada juga buku-buku kesehatan, dan buku-buku ilmu pengetahuan lain, soalnya sering juga anak SMP datang kemari belajar pake buku-buku yang ada disini, ya syukur siapa tau nanti setelah baca, mereka terinspirasi menjadi dokter atau apa," katanya

Ia juga mengatakan Rumah Belajar juga terbuka bagi mahasiswa yang ingin melakukan aktifitas belajar mengajar, baik tentang mangrove ataupun lainnya. Selain itu sejauh ini Rumah Baca masih sangat membutuhkan bantuan buku-buku, sebab masih banyak rak yang kosong.

"Kita terbuka buat siapapun, untuk saat ini yang paling kita butuhkan ya buku, soalnya masih banyak rak yang kosong, terkadang sedih juga melihatnya, jadi siapapun yang ingi. menyumbang buku bisa kontak saya di +6285762227820," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved