Sudut Danau Toba pada Wilayah Ini Sangat Kumuh, Kesadaran Warga Jaga Kebersihan Masih Kurang!

Kebanyakan limbah rumah tangga, seperti botol air mineral, serta kantong dan bungkusan plastik. Panorama kumuh danau diperparah oleh maraknya KJA.

Sudut Danau Toba pada Wilayah Ini Sangat Kumuh, Kesadaran Warga Jaga Kebersihan Masih Kurang!
TRIBUN MEDAN/DOHU LASE
Pemandangan kumuh pada satu sudut Danau Toba, tepatnya di Desa Silalahi III, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi. Selain sampah berserakan di pesisir danau, tampak pula keramba jaring apung bercokol di perairan danau, ditaksir berjumlah ratusan petak. Foto diambil Minggu (15/9/2019). 

TRIBUN-MEDAN.COM, DAIRI - Pencanangan Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas dunia agaknya belum mendapat dukungan penuh dari masyarakat di Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi. Kesadaran untuk menjaga kebersihan kawasan danau masih rendah.

Seperti pantauan Tribun Medan, Minggu (14/9/2019) di Desa Silalahi I hingga Desa Silalahi III, sampah-sampah didominasi berbahan plastik bertebaran di pesisir danau hingga ke perairan. Kebanyakan limbah rumah tangga, seperti botol air mineral, serta kantong dan bungkusan plastik.

Panorama kumuh danau diperparah oleh maraknya usaha keramba jaring apung milik warga, di perairan danau. 

Seorang ibu-ibu paruh baya yang ditemui di lokasi menyebut, kondisi tersebut sudah berlangsung sejak lama. Ia mengaku, belum semua masyarakat di Silahisabungan sadar untuk menjaga kebersihan danau

"Bagaimana tak menumpuk. Contohnya, sungai di Silahisabungan, itu kan bermuara ke danau. Nyatanya, masih banyak masyarakat buang sampah ke sungai itu. Otomatis sampah-sampah ke danau lah," ujarnya.

Seorang warga lain mengaku, berusaha keramba di danau lebih beruntung dibandingkan di kolam. Sebab, pertumbuhan ikan lebih cepat di danau.

"Pernah kita coba budidaya ikan nila di kolam. Enggak maksimal hasilnya. Ibaratnya, bila di danau, tiga bulan sudah bisa panen. Sementara, kalau di kolam, empat bulan pun belum tentu ikannya sebesar panenan di danau," ucap pria yang tinggal di sekitaran pesisir, mengaku bermarga Situngkir.

Terkait kondisi ini, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Dairi mengaku telah menyediakan tiga unit bak truk sampah sebagai Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Silahisabungan. Selain itu, juga puluhan tempat sampah dalam ukuran lebih kecil.

"Kita sudah sediakan banyak tempat sampah di sana. TPS ada tiga. Memang bagus juga kalau dibangun TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di sana. Namun, tidak boleh karena itu kawasan Kaldera Toba, masuk dalam kawasan penelitian dan wisata," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Dairi, Posmatua Manurung.

Menurut Posma, sampah-sampah di Silahisabungan tak disumbang oleh penduduk setempat saja, melainkan juga pengunjung dan wisatawan.

Lebih lanjut, Posma menyebut, pihaknya telah membangun tempat pengolahan sampah (daur ulang) di Silahisabungan. Namun sayang, tidak maksimal dimanfaatkan masyarakat.

"Sebenarnya, tahun ini kita sudah bangun TPS 3R (Reduce, Recycle, Reuse) di Desa Silalahi II. Masyarakat juga sudah diajarkan cara mengolah sampah menjadi pupuk kompos. Namun itu lah, tidak dimaksimalkan masyarakat," ungkap Posma.

Posma mengatakan, mulai tahun 2020, Pemkab Dairi akan serius menata kawasan Danau Toba di Silahisabungan. Keramba jaring apung (KJA) yang marak, bakal ditiadakan.

"Kita sudah konsultasi dengan bupati. Kami sepakat, KJA di Silahisabungan harus zero (nol/nihil). Tentu ini harus didahului dengan sosialisasi. Masyarakat di sana kita ajak untuk beralih ke sistem perikanan darat," ujar Posma.

(cr16/tribun-medan.com)

Penulis: Dohu Lase
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved