Banyak Nasehat Kehidupan Dalam Pameran Seni Rupa Kelana

Tiga objek tersebut digambar secara apik menjadi sebuah lukisan yang saling memiliki keterkaitan

Banyak Nasehat Kehidupan Dalam Pameran Seni Rupa Kelana
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI TARIGAN
Suasana Pameran Seni Rupa bertajuk Kelana I yang diselenggarakan oleh Program Studi Seni Rupa Murni Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh di Galeri Baginda Sirait, Jalan William Iskandar V, Deli Serdang, Senin,(16/9/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Sebuah gelas pecah berdiri tegak disamping kuburan yang bertanah retak. Tepat disamping kuburan, cahaya langit memantulkan ombak pantai yang tenang.

Batu nisan kuburan itu musti tidak asing lagi bagi warga Aceh, sebab itulah bentuk asli nisan yang dahulu digunakan masyarakat Aceh.

Persinggahan karya Teuku Shabir, adalah satu diantara lukisan yang dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa bertajuk Kelana I yang diselenggarakan oleh Program Studi Seni Rupa Murni Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh di Galeri Baginda Sirait, Jalan William Iskandar V, Deli Serdang, Senin,(16/9/2019).

Tiga objek tersebut digambar secara apik menjadi sebuah lukisan yang saling memiliki keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya, Shabir mengatakan lukisan tersebut berisi nasehat kehidupan.

"Tanah yang retak itu diartikan sebagai jiwa manusia yang jangan sampai menunggu kering tanpa iman, sedangkan awan mendung diartikan sebagai pikiran yang jangan terlalu suram. Dan soal nisan itu berarti, sepenting apapun pembicaraan yang sedang kita lakukan atau bisnis besar apapun yang sedang kita jalani, semua itu tidak ada yang pasti, yang pasti cuma kematian," katanya.

Selanjutnya Ia menjelaskan bahwa selain pesan kehidupan, lukisan tersebut juga mengangkat suatu benda sejarah yang identik dengan masyarakat Aceh.

"Batu Nisan Aceh adalah suatu sejarah penting yang tidak sepatutnya dilupakan oleh anak muda Aceh, generasi-generasi sekarang harus tahu kalau batu nisan Aceh itu begitu lah bentuknya. Sama kayak ornamen atau khas daerah lain, yang kalau kita liat kita langsung tau, aku juga mau anak-anak muda tau ciri khas Aceh yang satu ini," katanya.

Ketua Himpunan Jurusan Fahrizil Ikhrom menambahkan pameran Seni Rupa Kelana ini menghadirkan lebih dari 30 lukisan yang dibuat oleh mahasiswa stambuk 2014 hingga 2019. Pameran ini pertama kali dilaksanakan di Medan dan sengaja dilaksanakan di Medan guna silaturahmi sesama seniman.

"Pameran ini mengangkat Tema Qiu. Sebenarnya Qiu itu sebuah sapaan akrab kami, yang biasa dipakai perupa, jadi ini istilahnya kita menyapa orang Medan dengan gaya khas kami," katanya.

Ia mengatakan karya yang dipamerkan tidak hanya berpatok pada satu hal saja, namun lebih menggambarkan proses berkelana yang memiliki ragam cerita.

"Karena seni rupa itu bebas. Disini dominannya lukisan Surealis, ada juga Abstrak, Naif, dekoratif, dan lainnya. ISBI kan baru, jadi sekalian kita juga mau memperkenalkannya ke masyarakat Medan," katanya.

Dosen Pembimbing, Yulfa Haris Saputra mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan umpan balik, sebab perupa UNIMED juga pernah melaksanakan pameran di Aceh.

"Kegiatan ini sambut balas, tahun ini kita melakukan eispedisi seni dalam rangka silaturahmi, ini pertama kali kita laksanakan. Diharapkan kedepannya semakin banyak lagi pameran yang kita laksanakan dan diharapkan pemerintah juga terlibat," katanya

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved