Kepala Sekolah Sebut Penggunaan Dana BOS Sudah Sesuai Prosedur

Usai siswa menyampaikan beberapa tuntutannya, Jasua langsung memberikan tanggapan di depan siswa.

Kepala Sekolah Sebut Penggunaan Dana BOS Sudah Sesuai Prosedur
TRIBUN MEDAN/M NASRUL
Kepala Sekolah SMAN 1 Tiganderket Jasua Surbakti, Senin (16/9/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, TIGANDERKET - Ratusan pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Tiganderket, menggelar aksi demo, Senin (16/9/2019).

Aksi mereka ini, menuntut kepada pihak sekolah terutama Kepala Sekolah Jasua Surbakti untuk transparan dalam penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Demo yang berlangsung beberapa jam itu, akhirnya diterima oleh pihak sekolah dengan penyampaian tuntutan oleh perwakilan beberapa orang siswa. Usai siswa menyampaikan beberapa tuntutannya, Jasua langsung memberikan tanggapan di depan siswa.

Kali itu, Jasua mengungkapkan jika pengguna dana BOS untuk sekolah mereka sudah sesuai dengan prosedur yang ada di dalam Petunjuk Teknis (Juknis). Dirinya menyebutkan, salah satu yang sudah dialokasikan ialah pengadaan buku yang diambil 20 persen dari total dana BOS.

"Sudah ada yang digunakan untuk pengadaan buku pegangan siswa, tapi itu enggak bisa juga terpenuhi dalam waktu dua sampai tiga tahun, jadi harus bertahap. Mau ditingkatkan lebih dari 20 persen, menurut Juknis itu tidak bisa," katanya.

Baca: Ratusan Siswa SMAN 1 Tiganderket Menuntut Transparansi Dana BOS

Baca: Aksi Demo Tuntut Transparansi Dana BOS Sempat Diwarnai Aksi Anarkis

Para siswa SMAN 1 Tigandreket yang sudah muak tidak adanya transparansi penggunaan dana BOS.
Para siswa SMAN 1 Tigandreket yang sudah muak tidak adanya transparansi penggunaan dana BOS. (TRIBUN MEDAN/M NASRUL)

Dirinya menyebutkan, sisa dari pengadaan buku digunakan untuk keperluan sekolah yang lain. Seperti peralatan praktek untuk jurusan IPA, misal pelajaran kimia dan fisika. Selain itu, juga dipergunakan untuk membeli kelengkapan fasilitas sekolah seperti lemari.

Namun, sepertinya pernyataan Jasua langsung disambut sorakan dari para pelajar. Seakan fasilitas yang disebutkannya itu hanya omongan belaka, karena seperti dilihat di kelas masih banyak yang fasilitasnya belum lengkap.

Saat disinggung perihal infrastruktur sekolah, seperti banyaknya bangunan yang kondisnya memprihatinkan. Seperti tidak adanya kaca pada beberapa ruang kelas, kondisi kamar mandi yang tidak layak, dirinya mengaku dana BOS tidak dapat dipergunakan untuk membenahi fasilitas tersebut. Dirinya justru berdalih, jika perbaikan hanya bisa dilakukan dengan bantuan dari orangtua siswa melalui komite.

"Untuk dana BOS itu tidak bisa digunakan untuk alokasikan untuk fasilitas sekolah. Seperti kamar mandi itu, harus kita usulkan ke komite, nanti komite mengundang orangtua siswa atas usulan kita, kalau misalnya dibangunkan kamar mandi, bersyukur kita. Kalau untuk membangun total itu, kita tidak dibenarkan sesuai dengan Juknis penggunaan dana BOS," ucapnya.

Menanggapi adanya ruang kelas yang disekat menggunakan triplek dan kardus, dirinya mengaku jika sekolahnya memang kekurangan ruang kelas. Dirinya mengatakan, jika pihaknya sudah melaporkannya ke tingkat provinsi.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Nasrul
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved