Dampak Asap Karhutla, Delapan Penerbangan Delay dan Dua Terpaksa Cancel

Sejumlah jadwal penerbangan dari Kualanamu sempat tertunda. Bahkan ada dua penerbangan yang batal karena jarak pandang yang pendek.

Dampak Asap Karhutla, Delapan Penerbangan Delay dan Dua Terpaksa Cancel
TRIBUN PEKANBARU / MELVINAS PRIANANDA
FOTO ILUSTRASI: ASAP KEBAKARAN HUTAN 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Dampak kabut asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mengganggu penerbangan di Bandara Internasional Kualanamu, Rabu (18/9/2029).

Sejumlah jadwal penerbangan dari Kualanamu sempat tertunda. Bahkan ada dua penerbangan yang batal karena jarak pandang yang pendek.

Manager of Branch Communication & Legal Bandara Kualanamu Wishnu Budi Setianto juga membenarkan hal tersebut.

Data Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan mendeteksi ada enam titik panas di Sumatera Utara.

Dampaknya, Kota Medan dan Deli Serdang diselimuti kabut asap. Data Bandara Kualanamu menunjukkan ada delapan penerbangan yang tertunda keberangkatan. Ditambah dua penerbangan yang dibatalkan dengan tujuan Penang, Malaysia.

Delapan penerbangan yang tertunda antara lain, dua penerbangan tujuan Pekanbaru, dan lima penerbangan ke Penang. Kemudian satu penerbangan rute Singapura-Penang yang dialihkan (divert) ke Kualanamu.

“Penundaan dan pembatalan penerbangan disebabkan karena alasan bandara yang dituju jarak pandangnya sangat rendah,” kata Wishnu, Rabu (18/9/2019) sore.

"Kabut asap sudah ada di Kualanamu sejak beberapa hari terakhir," jelasnya.

Sementara itu, BBMKG menyebut kabut asap berasal dari Karhutla di sejumlah kabupaten. Antara lain, Titik panas terdeteksi di Kabupaten Asahan, Humbang Hasundutan, Padang Lawas Utara dan Labuhan Batu.

“Kami pantau dari satelit Terra dan Aqua ada enam titik panas dengan tingkat kepercayaan kurang dari 50 persen,” kata Kepala BBMKG Wilayah I Medan Edison Kurniawan.

Edison menjelaskan hasil analisis mereka menunjukkan dampak kabut asap tidak memberi dampak serius pada penerbangan. Di Bandara Kualanamu jarak pandang masih cukup jauh sekitar 3 Km. Begitu juga di Bandara Aek Godang (Padang Lawas Utara).

"Di Bandara Binaka (Nias) dan FL Tobing (Tapanuli Tenggara) jarak pandang sekitar 10 Km. Tidak ada pengaruh yang signifikan," tuturnya.

"Saya berharap pihak pemerintah kabupaten kota berkordinasi dengan pihak pemerintah provinsi Sumatera Utara jika ada kemunculan titik api atau hotspot agar cepat ditangani,” jelas Edison.

(mak/tribun-medan.com)

Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved