Jadi Saksi Kasus Penganiayaan Sedarah, Korban Akui Dipukul dan Dicakar Terdakwa Ramly Hati

Dalam keterangannya, Lienawati mengakui, bahwa terdakwa Ramly Hati alias Asim (52) telah memukul dan mencakar dirinya.

Jadi Saksi Kasus Penganiayaan Sedarah, Korban Akui Dipukul dan Dicakar Terdakwa Ramly Hati
TRIBUN MEDAN/VICTORY HUTAURUK
Kasus penganiayaan yang melibatkan kakak-adik dengan terdakwa Ramly Hati alias Asim kembali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (18/9/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kasus penganiayaan yang melibatkan kakak-adik dengan terdakwa Ramly Hati alias Asim kembali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (18/9/2019).

Sidang beragendakan keterangan saksi tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Arta Sihombing menghadirkan adiknya Lienawati sebagai saksi korban di Ruang Cakra III.

Dalam keterangannya, Lienawati mengakui, bahwa terdakwa Ramly Hati alias Asim (52) telah memukul dan mencakar dirinya.

"Saya dipukul dan dicakar sama terdakwa hingga mata saya sebelah kiri merah," ucap Lienawati.

Wanita ini menceritakan kronologis peristiwa penganiayaan tersebut. Awalnya, Lienawati sedang berada di lantai 3, Jalan Gatot Subroto Nomor 75 Kelurahan Petisah Tengah Kecamatan Medan Petisah, untuk sembayang dan naik ke lantai 4 menuju lantai 5 pada tanggal 7 April 2019 sekira jam 12.15 WIB.

Lalu ia menjelaskan dirinya mendengar terdakwa Ramly Hati sedang berkata kasar kepada supir, Syafrizal alias Rizal. Sehingga Lisam turut dalam pembicaraan antara terdakwa dan supir.

"Saya mendengar terdakwa berkata kasar kepada supir. Saya turun dari lantai 4 dan berkata kepada terdakwa 'waktu ibu masih ada gak pernah nya kau urus datang pun jarang'," tandas Lienawati. Alhasil, Lienawati dan terdakwa terlibat cek cok.

Saat itu, lanjut Lienawati, terdakwa langsung memukul ke arah mata sebelah kiri saksi korban dengan menggunakan tangan. Bahkan, terdakwa juga mencakar punggung Lienawati. Melihat hal tersebut, orang-orang yang berada di lokasi langsung melerai terdakwa dan Lienawati.

"Setelah saya dipukul dan punggung saya dicakar, saya melakukan visum di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara. Gara-gara penganiayaan itu pekerjaan saya sebagai ibu rumah tangga sedikit terhalang. Saat penganiayaan itu kami berhadapan. Orang yang ada disitu memisahkan kita," jelas Lienawati.

Kemudian, majelis hakim yang diketuai oleh Nazar Efriandi bertanya kepada saksi korban. "Apakah ada pembicaraan perdamaian ?," tanya hakim Nazar. "Ada, kita bertemu. Hasilnya tidak sepakat karena ada persoalan lain yang belum selesai," jawab Lienawati.

"Mengenai warisan dari orangtua ?," tanya hakim lagi dan dijawab "ya" oleh Lienawati.

"Mengenai persoalan itu, cobalah dibicarakan baik-baik. Besar kecilnya, cobalah dibicarakan baik-baik lagi," saran hakim Nazar. "Iya, Yang Mulia," ucap saksi korban.

Keterangan saksi korban dibantah oleh terdakwa. Ramly Hati mengaku bahwa dirinya tidak ada melakukan pengianayaan terhadap Lienawati.

Dalam dakwaan JPU Arta Sihombing, perbuatan terdakwa Ramly Hati sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 351 ayat (1) KUHPidana.

(vic/tribunmedan.com)

Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved