Inspirasi Usaha Kue Kacang, Rusmania Jatuh Bangun hingga Pinjam Modal tanpa Agunan

Rusmiana Rajagukguk mengatakan masalah permodalan menjadi salah satu hambatannya dalam merintis usaha.

Inspirasi Usaha Kue Kacang, Rusmania Jatuh Bangun hingga Pinjam Modal tanpa Agunan
TRIBUN MEDAN/NATALIN SINAGA
Pemilik UD Gita Mandiri Jaya sekaligus nasabah BTPN Syariah, Rusmiana Rajagukguk bersama keluarganya dan Bussiness Coach Sumatera Utara BTPN Syariah, Fauzan Ridha di Pancurbatu, Deliserdang. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Manfaat program pemberdayaan nasabah perempuan pada segmen prasejahtera produktif Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) Syariah dirasakan masyarakat di Pancur Batu, Deliserdang. Nasabahnya mampu mengubah kondisi perekonomian keluarganya menjadi semakin baik.

Pemilik UD Gita Mandiri Jaya sekaligus nasabah BTPN Syariah, Rusmiana Rajagukguk mengatakan masalah permodalan menjadi salah satu hambatannya dalam merintis usaha. Namun,
Rusmiana bersama suaminya, Rudi Pardosi tak putus asa untuk membangun bisnis roti kacang tersebut.

"Awal mulanya usaha kita ini, tahun 2002, jadi kita terinspirasi dari keluarga juga, abang dari suami saya yang sudah lebih dulu buka usaha. Dulu modal usaha kita itu Rp 2 juta, yang kemudian kita beli oven, gas, dan bahan-bahan roti. Dulu masih segoni tepung kami olah, jatuh bangun kami merintis usaha roti kacang ini," kata Rusmiana.

Saat pertemuannya dengan Tribun Medan, Rusmiana juga menceritakan jatuh bangunnya usaha kue kacang ini. Roti kacang diproduksi oleh Rusmiana. Kue yang sudah dimasak akan dipasarkan oleh sang suami ke kedai-kedai.

"Jadi kadang kami bentrok, namanya juga modal terbatas. Tapi bapak (suami) juga manusia gigih, dia berprinsip bahwa usaha ini harus besar. Usaha kami konsinyasi, kami titip dulu kue itu, lalu dua minggu kemudian kami bisa mengutip yang pertama. Yang kedua lalu dititip lagi jadi kami harus punya tiga kali modal," ucapnya.

Saat itu, suaminya masih menggunakan sepeda untuk mengantarkan roti kacang ini kepada pelanggan. Dengan jalan yang mendaki, terjal dan berliku, membuat suaminya terjatuh saat mengantar kue dan membuat roti itu hancur dan berserakan di jalan.

"Dulu kami tidak punya kendaraan, kami pinjam sepeda dayung, bapak yang mengantar roti ke kedai-kedai, kadang namanya jalan, enggak semua mulus, dakian, terkadang bapak pulang dengan keadaan roti yang sudah hancur karena jatuh, karena menanjak jalan tadi. Kami juga belum ada rumah, roti sudah hancur, sepeda sudah bengkok, pulang ke rumah sudah menetes air mata," ungkapnya.

Dengan usaha keras, tak kenal lelah, mereka terus mencari pelanggan. Pasangan suami istri ini pun mencari pinjaman kredit untuk bisa membeli sepeda motor. Dengan bantuan saudaranya, mereka bisa mendapatkan pinjaman untuk kredit sepeda motor.

Diakui Rusmiana, mereka juga pernah meminjam uang dari toko untuk membeli bahan-bahan kuenya. Namun, karena saat itu usahanya belum berkembang, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dari pihak toko.

"Yang paling sedihnya, kami pinjam uang dari toko, karena enggak bisa kami bayar, pihak toko itu datang ke rumah, televisi kami diangkat, loyang adonan roti disepak," ucapnya.

Halaman
12
Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved