BERIKUT 7 Tips Ngemil Tanpa Takut Gemuk, Kamu Bisa Tetap Makan Tanpa Harus Khawatir Berat Badan Naik

Mi dan nasi, keduanya sama-sama karbohidrat yang dibutuhkan yang bisa kamu pilih salah satu dalam sekali makan

BERIKUT 7 Tips Ngemil Tanpa Takut Gemuk, Kamu Bisa Tetap Makan Tanpa Harus Khawatir Berat Badan Naik
net
ilustrasi wanita ngemil. 

TRIBUN-MEDAN.Com - Mi instan dan nasi adalah makanan yang banyak ditemui di Indonesia.

Namun, bagi kamu yang sedang menjaga berat badan, memilih di antara kedua jenis makanan ini bisa jadi cukup sulit karena keduanya gampang bikin gemuk.

Sebenarnya yang mana yang lebih cepat bikin gemuk dan harus dihindari ketika sedang menurunkan atau mempertahankan berat badan?

Mi instan dan nasi berasal dari biji-bijian olahan. Keduanya sama-sama berfungsi sebagai sumber karbohidrat.

Baik mi dan nasi, keduanya sama-sama karbohidrat yang dibutuhkan yang bisa kamu pilih salah satu dalam sekali makan (sebaiknya tidak dimakan bersamaan, misalnya mi instan pakai nasi putih).

Satu bungkus mi instan biasanya besar porsinya bervariasi, yaitu sekitar 75-90 gram. Jumlah kalori sebungkus mi pun akan berbeda-beda, umumnya sekitar 350-500 kalori.

Ilustrasi seorang wanita mengonsumsi makanan.
Ilustrasi seorang wanita mengonsumsi makanan. (NET)

Jika dilihat dari ukuran rata-ratanya, mi instan yang beratnya 85 gram mengandung:

- 460 kalori

- 18,8 gram lemak

- 9 gram protein

- 66 gram karbohidrat

Sedangkan jika kamu mengambil secentong penuh nasi putih atau sekitar 100 gram, maka kandungannya:

- 175 kalori

- 0,2 gram lemak

- 4 gram protein
- 40 gram karbohidrat

Dari nilai-nilai tersebut, jika keduanya sama-sama diolah tanpa tambahan minyak atau zat yang mengandung kalori lain, maka mi instan menjadi makanan yang lebih berat dibandingkan nasi.

Artinya, dengan jumlah porsi yang sama, sebungkus mi instan menyumbang lebih banyak jumlah kalori, lemak, dan karbohidrat untuk tubuh.

Dilansir dalam laman NHS UK, salah satu faktor yang membuat berat badan meningkat adalah konsumsi makanan yang tinggi kalori, khususnya lemak dan gula.

Berdasarkan nilai gizi yang sudah dibandingkan di atas, itu berarti mi instan bisa menumpuk kalori, lemak, dan gula yang lebih banyak dibanding nasi.

Maka, kemungkinan mi bisa meningkatkan berat badan lebih cepat. Akan tetapi, tentunya ini akan terjadi jika kamu mengonsumsinya tanpa diiringi dengan aktivitas fisik yang sepadan.

Jadi, sebaiknya kalau tidak ingin kegemukan makan yang mana? 

Sebenarnya, makan nasi dan makan mi tidak ada yang dilarang. Yang harus menjadi pertimbangan adalah jumlah yang dimakan dan bagaimana cara pengolahannya.

Meskipun nasi menyumbang kalori, lemak, dan gula yang lebih kecil, jika porsinya berlebihan dan ditambah lauk pauk berisi aneka ragam gorengan, nasi bisa juga cepat membuat gemuk.

Sebaiknya hindari konsumsi mi instan setiap hari karena berisiko memengaruhi tekanan darah.

Sebungkus mi instan bisa mengandung 900-1.700 mg natrium.

Padahal batas asupan natrium per hari orang dewasa saja 1.500 mg.

Jika setiap hari makan mi instan, berapa banyak natrium yang akan terkumpul dalam tubuh?

Kebanyakan natrium bisa memicu kondisi tekanan darah tinggi (hipertensi).

Yang paling penting, jika tidak ingin cepat gemuk dan tetap sehat, tambahkan sumber karbohidrat lain dalam menu makan yang kaya akan serat seperti sayur dan buah-buahan.

Ngemil sembari nonton TV.
Ngemil sembari nonton TV. (www.hindishows.com)

////

7 Tips Ngemil Tanpa Takut Gemuk, Pilih Waktu yang Tepat hingga Selektif Memilih Camilan

Bagi sebagian orang, ngemil mungkin sudah menjadi kebiasaan, terutama perempuan.

Di sisi lain, beberapa orang yang suka ngemil takut jika berat badannya bertambah.

Namun tidak perlu khawatir, ada beberapa tips yang bisa kita lakukan agar tetap bisa ngemil tanpa takut gemuk.

Dikutip dari brightside.me, berikut 7 tips ngemil tanpa takut gemuk:

1. Pilih waktu yang tepat

Waktu terbaik untuk mengudap camilan adalah di antara jam 12 siang hingga jam 5 sore.

Makanan ringan dalam rentang waktu ini tidak hanya akan mencegah pesta makan, tetapi juga membantu mengekang pilihan makanan ringan yang tidak sehat.

Hal ini yang sering menjadi alasan untuk mendapatkan berat badan berlebih.

2. Pilih panggang, bukan digoreng

Pilih cemilan yang dipanggang bukan digoreng.

Sebagai contoh, pisang dan kentang lebih baik dipanggang, bukan digoreng.

Faktanya jika digoreng akan menggunakan minyak, dan minyak goreng bukanlah teman yang sangat baik bagi tubuh kita.

3. Jangan makan camilan di meja Anda

Makan tanpa berpikir di meja Anda, terutama tanpa mengontrol porsi bisa berbahaya.

Tumpukan camilan terbuka di depan komputer dapat luput dari perhatian saat Anda sedang mengerjakan proyek.

4. Pilih alternatif camilan yang sehat

Ketika teman Anda minum teh atau kopi dengan manis, bawalah alternatif yang sehat: seperti keju dan buah.

5. Makan lebih banyak serat dan produk susu.

Makanlah makanan yang lebih banyak serat dan produk susu.

Ini akan membantu usus Anda dalam proses pencernaan.

Serat ditemukan di semua sayuran dan banyak buah-buahan, serta roti gandum.

6. Jangan kebanyakan makan camilan yang mengandung kalori

Minuman berkalori tinggi seperti jus atau smoothie tidak akan memuaskan Anda untuk waktu yang lama dan mungkin akan melebihi batas yang diperbolehkan untuk kandungan kalori dan gula.

7. Siapkan makanan ringan dari rumah

Di toko-toko atau restoran cepat saji, Anda jarang dapat menemukan sesuatu yang sehat.

Anda bisa menyiapkan makanan ringan yang sehat di rumah seperti kue yang sehat, pisang kering di oven, irisan apel.

Anda memiliki kontrol lebih besar atas bahan yang Anda makan dan tentunya akan menjadi camilan yang sehat untuk Anda. 

Wanita gemuk
Wanita gemuk (NET)

////

Gemuk Tapi Sehat Ternyata Ada, Ini Ciri-ciri yang Wajib Diketahui!

Selama bertahun-tahun para ahli tidak begitu saja percaya bahwa mungkin saja bagi seseorang untuk menjadi ‘gemuk tapi sehat’.

Kini sejumlah peneliti memberi gagasan baru bahwa “risiko kematian akibat obesitas dapat ditanggulangi dengan menjadi sehat secara fisik” dengan menunjukkan bukti-bukti terbaru.

Para penelitian di York University, Toronto menemukan, kegemukan atau obesitas tidak meningkatkan risiko kematian kecuali hal tersebut ditambahkan dengan faktor risiko lain seperti gula darah tinggi atau tingkatkolesterol jahat yang tinggi.

"Ini sangat berbeda dengan kebanyakan literatur," tulis Jennifer Kuk, profesor kinesiologi York University dalam siaran persnya, dilansir dari New York Pos.

Dia mengatakan, sebelumnya banyak studi yang mendefinisikan obesitas "sehat" sebagai memiliki sampai satu faktor risiko metabolik, yang merupakan masalah karena kondisi seperti gula darah tinggi dan kolesterol jahat, yang bisa saja membunuh siapa saja, baik orang gemuk atau kurus.

"Ini mungkin mengapa sebagian besar penelitian telah melaporkan bahwa obesitas yang sehat masih terkait dengan risiko kematian yang lebih tinggi," tambah Kuk.

Dari hasil penelitian itu paling tidak kita bisa melihat, jika Moms dan Dads kelebihan berat badan,  tapi melakukan olahraga rutin dan intens akan mencegah Moms dan Dads dari kematian dini.

Gagasan bahwa Moms dan Dads bisa “gemuk tapi sehat” didasarkan pada teori bahwa konsentrasi tinggi dari kebugaran aerobik — seberapa efisien jantung dan paru-paru dapat menggunakan oksigen — dapat menebus komplikasi obesitas.

Moms dan Dads bisa saja “gemuk tapi sehat”, menurut laporan Clinical Guidelines on the Identification, Evaluation and Treatment of Overweight and Obesity in Adults tahun 1998  dari National Institutes of Health, dilansir dari WebMD.

Mereka menemukan bahwa orang yang kelebihan berat badan juga dapat dianggap sehat, jika memenuhi kriteria seperti: ukuran pinggang mereka berada dalam lingkar yang sehat (maksimum 89 cm untuk wanita dan 101 cm untuk pria).

Kriteria lain, tidak memiliki dua atau lebih kondisi berikut: tekanan darah tinggi, gula darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi. Faktor risiko lain, seperti merokok, juga mempengaruhi apakah seseorang bisa dianggap sehat.

Namun demikian,  gagasan ‘gemuk tapi sehat’ tidak boleh digunakan sebagai pembenaran untuk memiliki kelebihan berat badan.

Mohon tetap harus diingat bahwa kombinasi gaya hidup aktif dan membiasakan pola makan sehat merupakan solusi yang jauh lebih penting untuk kesehatan Moms dan Dads secara keseluruhan daripada angka di timbangan Moms dan Dads.

Kepala peneliti Thanh-Binh Nguyen dari University of Sydney mengatakan, “Jika Moms dan Dads memiliki kelebihan berat badan, hanya hidup aktif secara fisik tidak dapat banyak membantu Moms dan Dads dalam mencegah diabetes tipe 2.

Yang akan membantu justru upaya mengurangi berat badan Moms dan Dads. Jadi, penting untuk terus aktif secara fisik dan mulai menerapkan kebiasaan makan sehat.”

Asal Moms dan Dads tahu, laki-laki yang ramping dan aktif memiliki penurunan risiko kematian dini hingga 30% lebih rendah dibandingkan mereka yang “gemuk tapi sehat”. (*)

Sebagian artikel telah tayang di Tribunwow.com dengan judul 7 Tips Ngemil Tanpa Takut Gemuk, Pilih Waktu yang Tepat hingga Selektif Memilih Camilan

Editor: Abdi Tumanggor
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved