Kalapas Tanjung Gusta Ancam Napi Terlibat Peredaran Narkotika Dipindahkan ke Nusakambangan

Nico menjelaskan bahwa para narapidana yang memiliki alat selular tersebut bukan seluruhnya untuk peredaran narkotika.

Kalapas Tanjung Gusta Ancam Napi Terlibat Peredaran Narkotika Dipindahkan ke Nusakambangan
Tribun Medan / Victory
Kalapas Kelas IA Tanjung Gusta, Frans Elias Nico menyebutkan tidak ada menolak pemindahan napi dari Rutan Tanjung Gusta. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kepala BNN Komjen Heru Winarko menyebutkan Lapas Tanjung Gusta Medan menjadi salah satu pemasok narapidana yang menjadi otak peredaran narkotika di Indonesia.

Hal ini ditanggapi Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IA Tanjung Gusta Medan Frans Elias Nico bahwa pihaknya telah mengultimatum bagi narapidan yang masih berani terlibat narkotika akan dipindahkan ke Lapas Nusakambangan.

"Saya ancam, saya bilang kalau kamu bermain saya buang ke (LP) Nusakambangan. Saya suruh tidur sama orang-orang disana. Tapi memang sudah tidak ada sih," tuturnya kepada Tribun, Sabtu (21/9/2019).

Ia juga membenarkan pihaknya telah membuang para bandar narkotika yang telah terbukti terlibat ke Nusakambangan.

"Sudah kita pindahin ke LP Nusa kambangan 12 orang narapidana narkotika yang dianggap bandar. Sudah itu sebelum lebaran, waktu saya belum disini itu waktu masa-masa pergantian Kalapas," ungkapnya.

Ia menjelaskan pihaknya terus gencar untuk melakukan pemeriksaan ke dalam Lapas dan hampir setiap sidak menemukan alat selular.

"Pasti adalah, kemarin kita geledah-geledah masih ada. Ini sisa-sisa yang dulu-dulu ini, masih lumayan lah hampir setiap hari selalu ada, 3,4 atau 5 telefon ditemukan. Tiga ribu narapidana susah, jadi makanya kita berusaha untuk kurangi terus," tegas Eks Kadivpas Kemenkumham Maluku.

Nico menjelaskan kurangnya jumlah pegawai juga menjadi faktor sulitnya memberantas alat selular di dalam Lapas. "Iya itulah pegawai kita kurang terus, tapi isinya makin banyak. Sebenarnya kita mau batasi untuk menerima narapidana," tegasnya.

Ia juga menerangkan pihaknya melakukan penelusuran mendalam menggunakan metode berantai saat ditemukan alat selular.

"Ini sekarang sudah berkurang, kalau ada mungkinlah, pokoknya setiap hari saya geledah lagi. Kalau dapat kita periksa dan ditanya sumbernya dari mana, jadi sistem ini diterapkan pertama kali, kita ambil hari ini, besok kalau masih ada kita tnya lagi dapat dari mana. Sistemnya kita pakai berantai," jelas Nico.

Halaman
123
Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved