Sumatera Utara Mulai Terpapar Kabut Asap, Begini Respon Gubernur Edy Rahmayadi

Edy Rahmayadi juga meminta para bupati/walikota mengaktifkan Satgas Karhutla dan melibatkan masyarakat secara intensif.

Sumatera Utara Mulai Terpapar Kabut Asap, Begini Respon Gubernur Edy Rahmayadi
Tribun Medan/Riski Cahyadi
Kabut asap menyelimuti kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (17/9/2019). Tribun Medan/Riski Cahyadi 

TRIBUN MEDAN.COM, MEDAN - Kabut asap menyelimuti sebagian wilayah Sumatera Utara, sejak beberapa hari terakhir. Setidaknya, kabut asap yang diduga dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) itu dirasakan masyarakat di Labuhanbatu Selatan dan Nias, Sabtu (21/9/2019).

Untuk menghindari dampak buruk Karhutla tersebut, Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi meminta seluruh komponen pemerintah dan masyarakat peduli terhadap dampak Karhutla.

“Setiap kabupaten/kota harus membentuk posko kesehatan akibat asap Karhutla dan membagikan masker kepada masyarakat yang terdampak,” kata Edy, ketika memimpin rapat koordinasi Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Medan.

Rapat dihadiri Pangdam I/BB Mayjen TNI MS Fadhilah, Wakapolda Sumut Brigjen Pol Mardiaz Kusin Dwihananto, mewakili unsur Forkopimda lainnya, bupati/walikota se-Sumut, BPBD Sumut dan kabupaten/kota, serta kalangan pengusaha.

Hujan yang turun beberapa hari terakhir, kata Gubernur, menjadi penyelamat sehingga dampak kabut asap tidak begitu parah.

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi didampingi isteri, menyalami para anggota DPRD Sumut terpilih, di ruang sidang Paripurna, Jalan Imam Bonjol, Kota Medan, Senin (16/9/2019).
Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi didampingi isteri, menyalami para anggota DPRD Sumut terpilih, di ruang sidang Paripurna, Jalan Imam Bonjol, Kota Medan, Senin (16/9/2019). (Tribun Medan/Satia)

"Memang dampak yang kita rasakan kecil, karena kita diselamatkan hujan. Sumatera Utara sedang sering hujan, kalau tidak kita bisa jadi penyumbang asap. Saya pernah meninjau langsung lokasi kebakaran hutan, hanya 10 menit saja tidak tahan, bayangkan betapa menderitanya warga yang merasakan berhari-hari," terang Edy.

Untuk penanggulangan Karhutla, Gubernur juga mengingatkan pentingnya kerja sama antara TNI, Polri dan Pemerintah untuk memantau hotspot (titik api) di lapangan, dan senantiasa mempedomani instruksi Presiden Nomor 11 tahun 2015 tentang peningkatan pengendalian Kahutla dan Peraturan Perundang-undangan terkait pengendalian Karhutla.

“Saya harap dengan rapat yang terbatas ini bisa mencegah meluasnya kebakaran hutan, " tegas Gubernur yang juga Dansatgas Karhutla.

Kepada pihak berwajib, Gubernur pun berpesan agar segera mencari dan mendapatkan pelaku.

"Kepada Polisi saya sudah minta untuk segera mencari dan mendapatkan para pelaku, kita akan lakukan tindakan tegas, hingga pada pencabutan izin bila memang ada perusahaan yang lalai yang mengakibatkan Karhutla," terang Edy Rahmayadi.

Kabut asap di Kota Medan, Kamis (19/9/2019).
Kabut asap di Kota Medan, Kamis (19/9/2019). (Tribun Medan/Nanda Rizka Nasution)

Para pengusaha yang hadir, juga diminta turut andil dalam menjaga hutan.

"Saya tidak mau berburuk sangka, kepada pengusaha tolong bantu dan ikut jagalah hutan kita, saya tak mau menuduh, yang saya inginkan bapak-bapak berpartisipasi untuk mencegah ini, karena kebanyakan kebakaran hutan terjadi didekat usaha bapak," tegas Edy Rahmayadi.

Edy Rahmayadi juga meminta para bupati/wali kota mengaktifkan Satgas Karhutla dan melibatkan masyarakat secara intensif.

Kepala daerah harus siaga penanggulangan Karhutla di wilayahnya. Dalam keadaan mendesak atau darurat, kepala daerah dapat menggunakan belanja tidak terduga untuk memenuhi kebutuhan daerah atau masyarakat. Serta mendukung penegakan hukum terhadap pelaku Karhutla.

Pangdam I/BB Mayjen TNI MS Fadhilah menyampaikan, terjadinya Karhutla 95 % karena ulah manusia.

"Kebakaran hutan ini 95 % karena ulah manusia, ada yang tingkatnya kecil hingga tingkat korporasi, motivasinya pun beragam, ada motivasi karena tuntutan ekonomi, ada juga yang termotivasi melakukan Karhutla karena urusan politik. Untuk itu semua berpikirlah untuk melakukan terbaik, kita cinta Sumut, kita hidup di sini, mari kita jaga hutan kita. Mari kita bergandengan tangan selamatkan bumi kita dan anak anak kita, karena yang menjadi korban adalah generasi penerus bangsa," ujarnya.

Sementara itu, Wakapolda Sumut Brigjen Pol Mardiaz Kusin Dwihananto menyampaikan, untuk wilayah Sumut ada tiga daerah yang rawan Karhutla dan perlu diwaspadai, yakni Mandailing Natal, Labuhanbatu Selatan, dan Taman Nasional Gunung Leuser.

"Saat musim kemarau, tiga lokasi tersebut rawan terjadi Karhutla, namun Taman Nasional Gunung Leuser yang berada di dekat Bahorok bisa diatasi karena sering terjadi hujan," terangnya.

(cr19/Tribun-Medan.com)

Penulis: Satia
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved