TRIBUNWIKI

Kuburan Jepang, Jejak Negeri Samurai di Deli Tua Deliserdang

Adapun data terkait jejak negeri Samurai yang ada di tanah Sumatera Utara, juga dapat dilihat dari tugu Appolo Medan Area di Pajak Sambu.

Kuburan Jepang, Jejak Negeri Samurai di Deli Tua Deliserdang
Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
Tempat Pemakaman Umum orang Jepang (Kuburan Jepang), merupakan satu di antara tanda jejak Negeri Samurai di Sumatera Utara, yang berada di Deli Tua Barat, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Minggu (22/9/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Dalam catatan sejarah Indonesia, Negara Jepang atau terkenal dengan sebutan Negeri Samurai pernah menjajah Indonesia. Hal ini juga terbukti dari jejak peninggalan Negeri Samurai tersebut.

Konon satu di antara jejak tersebut merupakan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jepang atau sering disebut Kuburan Jepang yang berada di Deli Tua Barat, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Hal itu turut dibenarkan Hartati dan Koko, warga setempat yang ditemui Tribun Medan.

Adapun data terkait jejak negeri Samurai yang ada di tanah Sumatera Utara, juga dapat dilihat dari Tugu Appolo Medan Area yang terletak di Pajak Sambu. Pasukan Jepang yang masuk ke Sumatera Utara terkenal dengan julukan Harimau Malaya (Malay To Tora).

Selanjutnya untuk mendalami tentang jejak Jepang, anda juga bisa mencari referensi literatur yang membahas kehadiran Jepang di Tanah Deli. Hal ini dapat ditemukan di sejumlah perpustakaan kampus USU dan perpustakaan daerah Sumatera Utara.

Kemudian berdasarkan sejarahnya Negeri Samurai masuk Wilayah Sumatera pada Tahun 1942. Setelah Penjajahan Belanda berakhir di Sumatera, yang dikompilasi Jepang mendarat di beberapa wilayah seperti Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan khusus di Sumatera Jepang mendarat di Sumatera Timur.

Tentara Jepang yang mendarat di Sumatera adalah tentara XXV yang berpangkalan di Shonanto yang lebih dikenal dengan nama Singapura, mendarat di daratan tanggal 11 malam 12 Maret 1942. Pasukan ini terdiri dari Divisi Garda Kemaharajaan ke-2 ditambah dengan Divisi ke-18 yang dioperasikan langsung oleh Letjend Nishimura.

Ada empat tempat pendaratan mereka yaitu Sabang, Ulele, Kuala Bugak (dekat Peurlak Aceh Timur sekarang) dan Tanjung Tiram (kawasan Batubara sekarang). Pasukan tentara Jepang yang mendarat di kawasan Tanjung Tiram inilah yang masuk ke Kota Medan.

Mereka menaiki sepeda yang dibeli dari rakyat sekitar dengan barter. Mereka bersemboyan karena mereka membantu orang Asia karena mereka adalah saudara orang tua Asia sehingga mereka dieluelukan menyambut kedatangannya.

Ketika peralihan kekuasaan Belanda ke Jepang Kota Medan kacau balau, orang pribumi mempergunakan kesempatan ini membalas dendam terhadap orang Belanda. Keadaan ini segera ditertibkan oleh tentara Jepang dengan mengerahkan pasukannya yang bernama "Kempetai" (Polisi Militer Jepang).

Dengan masuknya Jepang di Kota Medan, keadaan berubah berubah menjadi pemerintahan sipil yang disebut Belanda “Gemeente Bestuur“ oleh Jepang dirobah menjadi “Medan Sico“ (Pemerintahan Kotapraja), yang mengatur pemerintahan sipil di tingkat Kotapraja Kota Medan kompilasi hingga berakhirnya kekuasaan Jepang bernama Hoyasakhi.

Halaman
12
Penulis: Aqmarul Akhyar
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved