Sarinah dan Suaminya Rintis Usaha Rotan Sejak 27 Tahun Silam, Begini Lika-liku Perjalanannya

Sarinah adalah seorang perajin rotan di sudut kota Medan tepatnya di Gang Kecil Medan Sunggal.

Sarinah dan Suaminya Rintis Usaha Rotan Sejak 27 Tahun Silam, Begini Lika-liku Perjalanannya
TRIBUN MEDAN/NATALIN SINAGA
Sarinah dan suaminya Suparno merintis usaha rotan sejak 27 silam hingga saat ini di Gang Kecil Medan Sunggal. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Di era modern saat ini, teryata masih banyak warga yang menyukai perabotan rumah yang terbuat dari kayu rotan. Peluang ini ditangkap Sarinah, untuk dijadikan lahan peluang usaha yang menjanjikan dan pendulang rupiah bagi keluarganya.

Sarinah adalah seorang perajin rotan di sudut kota Medan tepatnya di Gang Kecil Medan Sunggal. Ia membuat kerajinan perabotan rumah tangga berupa kursi, meja, lemari dan berbagai kerajinan lainnya adalah kegiatan sehari-sehari yang dikerjakannya bersama sang suami.

Diakui Sarinah, usaha rotan miliknya ini sudah berjalan lebih kurang 27 tahun. Tentu waktu tersebut tidaklah singkat, jatuh bangun pun dirasakan Sarinah bersama suaminya, Suparno dalam merintis usaha kerajinan rotannya sampai sekarang.

Ditemui kediamannya, Sarinah menuturkan perjalanannya menjalankan usaha kerajinan rotan yang dirintis 27 tahun silam sampai sekarang.

"Saya dulu hanya pekerja perajin rotan di salah satu perusahan kerajinan rotan, dan suami juga tapi beda perusahaan. Setelah itu kami menikah dan memutuskan untuk membuat usaha sendiri, di tahun pertama sampai beberapa tahun berikutnya usaha berkembang pesat, karena kita ekspor ke beberapa perusahaan, dan omzetnya juga lumayan, namun di tahun 2000 an usaha mulai mengalami penyusutan karena banyak perusahaan ekspor yang tutup," ujar Sarinah.

Akhirnya, penjualan dan pendapatannya pun menurun, dan ia harus mulai menyusun strategi kembali untuk melakukan pemasaran.

"Kita menjual dengan sistem pesanan saja dan melempar ke agen yang mau memasarkan keliling, pendapatan pun tetap berbeda dan sedikit menurut bila dibandingkan pada saat ekspor," ungkapnya.

Seiring berjalannya usaha, sempat juga mengalami kekurangan modal karena harus membeli bahan baku rotan. Dan pada 2016 ditawarkan oleh BTPN Syariah untuk pembiayaan.

"Dengan tawaran tersebut, saya tertarik dan mengikuti sistem yang BTPN Syariah cari, ikut sekolah selama lima hari, dan diajarkan berbagai banyak pengalaman dan ilmu salah satunya tentang pemahaman dalam menjalankan bisnis dan memasakannya brand," ungkapnya.

Kemudian, dibentuk kelompok centra oleh pihak BTPN Syariah, satu kelompok terdiri dari 5 hingga 10 orang. Di mana masing-masing anggota memiliki peminjaman yang berbeda-beda.

"Saya pada waktu itu, pinjam Rp 5 juta untuk tambahan modal usaha, karena memang stok bahan abis dan hasil kerajinan sepi pembeli, Alhamdullilah BTPN Syariah menyetujui dan memberikan pembiayaan tanpa agunan, cicilan juga tidak memberatkan saya," kata Sarinah.

"Alhamdullilah, berangsur usaha saya semakin membaik, karena saya bisa membeli bahan baku tanpa harus menunggu pesanan pembeli, dan BTPN Syariah juga mengajarkan banyak hal tentang mengembangkan bisnis, programnya sangat bagus buat para usaha-usaha seperti saya," ucapnya.

(nat/tribun-medan.com)

Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved