Ngopi Sore

Catenaccio Sudah Kuno, Pak Jokowi! Sekarang Era Gegenpressing

Persoalannya, Pak Jokowi, Anda sepertinya tidak sadar situasi sudah tidak sama lagi. Anda masih saja mengandalkan catenaccio kuno made in 1938.

Catenaccio Sudah Kuno, Pak Jokowi! Sekarang Era Gegenpressing
TRIBUNNEWS
PRESIDEN JOKO Widodo saat bermain sepak bola bersama sejumlah artis dan relawan pendukungnya, pada masa kampanye pemilihan presiden tahun 2014. 

Saya tak bisa memastikan apakah Presiden Joko Widodo menyukai sepak bola atau tidak. Ini penting diungkap di depan sebab memang hanya penyuka sepak bola yang tahu perihal catenaccio. Perlu digarisbawahi, sampai di sini batasannya adalah sekadar tahu. Iya, suka sepak bola dan tahu catenaccio. Belum sampai pada tingkat mengerti --terlebih-lebih paham; sebab pelatih bola kaliber berat macam Jose Mourinho, Josep Guardiola, atau bahkan Carlo Ancelotti yang berkebangsaan Italia sekalipun belum tentu memahami catenaccio.

Baiklah, saya anggap saja Pak Jokowi tidak tahu. Apa boleh buat, selama ini, ia memang tak pernah menunjukkan gelagat sebagai penyuka sepak bola. Kita sama sekali tidak tahu gerangan apa klub favoritnya. Apakah Persis Solo? Apakah PSS Sleman? Atau jangan-jangan Glasgow Rangers atau Blackburn Rovers? Kita tidak tahu. Bahwa ia sering menonton pertandingan tim nasional Indonesia, tidak bisa dijadikan tolok ukur lantaran ia hadir di stadion dalam kapasitas sebagai kepala negara. Bukan penyuka apalagi penggila sepak bola.

Dalam hal ini, Pak Jokowi berbeda bak langit dan bumi dengan presiden keempat almarhum Kyai Haji Abdurrahman Wahid. Gus Dur bukan cuma penonton bola yang khusyuk. Gus Dur juga penganalisis sepak bola yang aduhai. Pada Gus Dur sama sekali tak perlu dijelaskan perihal apa dan bagaimana catenaccio. Sekiranya memiliki takdir lain sebagai pelatih sepak bola, Gus Dur barangkali akan mengejawantahkan catenaccio lebih baik dari Helenio Herrera dan Enzo Bearzot.

Catenaccio terlanjur dipahami sebagai sistem pertahanan yang solid dan alot. Premisnya: bertahan total untuk menang. Caranya? Menunggu lawan lelah, lengah, lalu melancarkan serangan balik yang ciamik. Para pengusung catenaccio tak perlu berlama-lama menguasai bola, tak perlu sebanyak-banyaknya melancarkan serangan. Mereka memilih menunggu diserang, bertahan dan bertahan, kemudian secara mendadak menggempurkan pukulan balasan.

Di tangan peracik piawai catenaccio bisa sangat mematikan. Helenio Herrera membuat Inter Milan begitu kuat. Tiga kali juara Serie A (1962-1965) dan dua gelar juara Eropa (1963-64 dan 1964-65) merupakan bukti sahih. Sedangkan Enzo Bearzot membawa Italia meraih tropi Piala Dunia di tahun 1982.

Pak Jokowi, walau Anda barangkali bukan penyuka sepak bola dan oleh sebab itu mungkin saja tak tahu apa dan bagaimana catenaccio, secara tidak sadar, Anda justru telah menerapkan sistem ini. Anda bahkan menerapkannya nyaris secara kaffah. Melebihi Herrera dan Bearzot, Anda menerapkan catenaccio murni yang dilahirkan Karl Rappan di Swiss pada tahun 1938 dan disempurnakan Giuseppe Viani di Salernitana, Italia, delapan tahun berselang. Empat garis permainan dengan dua lapis pertahanan: satu verrou atau gerendel berdiri di belakang tiga libero.

Di periode pertama kepemimpinan Anda, catenaccio ala Rappan dan Viani ini efektif. Verrou yang Anda pilih, yang tanpa keraguan sedikit pun saya sebut adalah Luhut Binsar Panjaitan, bisa bersinergi sangat baik dengan tiga libero di depannya; Menko Polhukam Wiranto, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kepala Polisi RI Jenderal Tito Karnavian. Sinergisitas apik mereka mampu menghalau berbagai gangguan dari kelompok-kelompok oposan, baik yang datang dari dalam maupun luar negeri.

Namun lambat laun kolektivitas keempatnya makin kehilangan greget. Mereka makin keteteran menghadapi serangan-serangan yang makin kencang, makin variatif, dan makin canggih pula teknik-tekniknya. Pertahanan Anda goyah. Terutama karena sekarang Anda hanya bisa bertahan. Padahal Helenio Herrera bilang, catenaccio sesungguhnya merupakan seni menyerang. Persisnya, menyerang dengan menggunakan kekuatan lawan. Mirip tai chi dalam ilmu bela diri.

Persoalannya, Pak Jokowi, Anda sepertinya tidak sadar situasi sudah tidak sama lagi. Anda masih saja mengandalkan catenaccio kuno made in 1938. Padahal di Italia sendiri modifikasi catenaccio telah dilakukan beberapa kali. Paling terkenal versi 1982. Sejumlah pelatih Italia mengkombinasikannya dengan zona mista; sistem penjagaan zona dipadu man to man marking.

Anda memilih tetap bertahan dari serangan. Lebih celaka lagi, di tengah pertahanan yang goyah, Anda malah membuka diri pada pemain lain yang keberadaannya sama sekali tidak berguna untuk mengembalikan kekokohan pertahanan. Sebaliknya, mereka melakukan berbagai maneuver yang membuat pertahanan makin rapuh.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved