Eks Ketua BEM di Sumut Menyesalkan Penerapan Demokrasi Berujung Anarki

Eks Ketua BEM Al-Azhar Medan, Bayu Zulhamda lebih menekankan soal sikap pengamanan yang harus lebih mengedepankan humanisme.

Eks Ketua BEM di Sumut Menyesalkan Penerapan Demokrasi Berujung Anarki
TRIBUN MEDAN/NATALIN SINAGA
Agustin Sastrawan Harahap, Mantan Ketua BEM UNIMED, satu di antara beberapa eks Ketua BEM di Sumut yang menyesalkan kericuhan dan tindakan refresif aparat saat aksi unjuk rasa mahasiswa di seputaran Gedung DPRD Sumut. 

TRIBUN-MEDAN.com - Aksi demonstrasi menolak RKUHP dan RUU KPK berlangsung di banyak daerah di Indonesia. Gelombang massa mahasiswa turun ke jalan dan mendatangi gedung-gedung DPR di tiap tingkatan.

Demonstrasi menyampaikan aspirasi hal yang lumrah dalam Demokrasi. Ketika berujung anarki, tentu sangat disesali. Karena berakhir bentrokan, kerusakan, luka-luka bahkan bisa saja sampai ada yang mati.

Agus Sastrawan Harahap, eks ketua BEM Unimed menyesalkan demonstrasi yang berujung anarki yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Agus yang mengaku tergabung dalam Eksponen Presidium Aliansi (Ekspresi) BEM Sumatera Utara menuturkan, tindakan anarkistis datang dari Mahasiswa dan juga petugas kepolisian. Kedua belah pihak, menurut dia sama-sama tak mampu menahan diri.

"Kita menolak anarki dalam bentuk apapun, baik yang dilakukan adek-adek mahasiswa maupun petugas kepolisian," ujar Agus kepada awak media, Rabu (25/9/2019).

Dosen Universitas Negeri Medan (Unimed) ini menyesalkan aksi demonstrasi di saat demokrasi diharap lebih matang, sebaliknya berakhir antiklimaks. 

"Mahasiswa anarki dan memaksakan kehendak dan merusak fasilitas, sementara petugas kepolisian asik main gebuk, padahal ada mahasiswa yang sudah tidak berdaya, saya melihat ini bentuk kemunduran demokrasi," kata Agus.

"Harusnya, jika berpikir maju dalam demokrasi, maka sampaikanlah aspirasimu sesuai aturan, jangan merusak, lantas petugas keamanan, amankanlah aksi itu dengan kesabaran, jika provokator tangkap, tapi apa ya betul harus disiksa seperti video-video yang beredar?" kata Agus.

Azrul Hasibuan, eks Ketua BEM Universitas Alwasliyah (UNIVA) Medan menimpali, anarki yang terjadi dipicu tersumbatnya ruang-ruang dialogis antara mahasiswa dan legislatif.

"Ruang dan momentum dialog harusnya lebih terbuka, DPR RI juga seharusnya bergerak cepat, karena gelombang demonstrasi kan sudah terjadi dimana-mana, jika saja cepat direspon, anarkisme tentu bisa terhindarkan," katanya.

Soal tudingan tunggangan atas aksi-aksi mahasiswa, Azrul berpesan agar tudingan ini diungkap secara faktual. Dia menyayangkan jika itu benar terjadi.

"Tapi harus dengan bukti, kita yakin Polisi akan bekerja profesional, dan kami juga meminta agar mahasiswa mengevaluasi aksi-aksi yang dilakukan, presure memang penting, tapi apa iya dengan cara merusak? Kalau fasilitas negara yang dirusak, menggantinya kan pakai uang rakyat juga, ini coba dipertimbangkan," saran Azrul.

Sementara eks Ketua BEM Al-Azhar Medan, Bayu Zulhamda lebih menekankan soal sikap pengamanan yang harus lebih mengedepankan humanisme. Bayu menyesalkan pemukulan berlebihan terhadap mahasiswa yang berdemonstrasi.

"Jika mereka para pendemo salah, maka tangkap dan adili secara hukum, bukan malah di adili tanpa dasar hukum. Itulah substansi pengamanan, bukan main pukul dan main gebuk," tukasnya.

(*/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved