TRIBUNWIKI

How To Maximum Elephant Happiness, Upaya Barumun Nagari Wildlife Sanctuary Kembalikan Naluri Satwa

Pertanyaannya pun muncul, apakah satwa seperti gajah dan harimau mencapai kebahagiaannya kala bertemu manusia?.

How To Maximum Elephant Happiness, Upaya Barumun Nagari Wildlife Sanctuary Kembalikan Naluri Satwa
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Penampakan bebas Gajah pada alam yang indah di Taman Barumun Nagari Wildlife Sanctuary, Padanglawas Utara, Sumut. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Degradasi hutan yang terus menerus terjadi di Indonesia belakangan ini, mulai dari perambahan hutan oleh perusahaan perkebunan, kebakaran hutan hingga pembalakan liar tentunya menjadi perhatian khusus untuk satwa yang ada di dalamnya. Ke mana lagi satwa mendapatkan surganya, atau bagaimana lagi satwa mendapatkan kebahagian hidupnya.

Seekor gajah ataupun harimau hanya menjadi hiburan manusia dalam sebuah tenda sirkus atau taman hewan di kota kota besar. Atraksi gajah bagaikan tontonan pendulang penghasilan bagi sekelompok manusia yang mengkalim pecinta/pemerhati satwa.

Pertanyaannya pun muncul, apakah satwa seperti gajah dan harimau mencapai kebahagiaannya kala bertemu manusia?. Malah sebaliknya, satwa dihujam berbagai benda keras untuk mampu dididik melakukan aktivitas drama yang tak seharusnya mereka lakukan. Trauma menyelimuti jiwa mereka, tepatnya.

Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS), dengan sebuah kalimat luar biasa "How To Maximum Elephant Happiness" mencoba memperjuangkan hak-hak hidup layak bagi sejumlah gajah dan satwa langka di Sumatera, Indonesia. BNWS menyadari bahwa kehidupan dunia yang diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan hanya untuk manusia saja.

"Mengusung 'How To Maximum Elephant Happiness'. Kita ingin menjadi pemangku kepentingan yang berbeda dari seluruh daerah di Indonesia. Kita ingin kehidupan yang liar, layak, dan mengembalikan kembali naluri hewani sejumlah satwa, sebelumnya," ujar Sugeng, salah seorang Mahout (Pawang) Gajah di BNWS.

Program rescue (penyelamatan) adalah pokok penting yang diusung dalam mengembalikan kembali insting tajam para satwa. Satwa satwa yang 'pensiun' dari sirkus dan konflik dengan masyarakat coba diakomodasi BNWS di tanah seluas 450 hektar, yang berlokasi di Kecamatan Batang Onang, Kabupaten Padanglawas Utara.

Sugeng menyampaikan, BNWS fokus bagaimana menjaga ekosistem tetap terjaga. Bagaimana melepaskan ketergantungan Gajah Sumatera, Harimau, Tapir, Siamang dan satwa lainnya dari manusia dalam mencari makanan di alam liar.

"Proses demi proses masih kita jalani sebelum para satwa kita serahkan kembali ke Kementerian LHK RI sampai akhirnya mereka dirilis ke hutan. Banyak yang kita pikir sudah layak, seperti tapir bernama Christine, tapi setelah dirilis ke hutan dia balik lagi ke perkampungan warga. Dia gak bisa mandiri di hutan, makanya mau kita asah lagi instingnya," ujar Sugeng.

Sugeng bukan orang lama di dunia fauna. Pengalaman demi pengalaman ia tempuh memahami jiwa fauna, seperti turut terlibat dalam konservasi Tangkahan, Langkat yang merupakan Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

"Pung kipang kuping, nak," ujar Sugeng merayu anak seekor gajah sembari meletakkan pipinya di pipi gajah. Suasana harmonis antara dirinya dengan gajah pun menyentuh kagum para wartawan, fotografer, dan pihak travel agent.

Tempat bersantai di Taman Barumun Nagari Wildlife Sanctuary, Padanglawas Utara, Sumut.
Tempat bersantai di Taman Barumun Nagari Wildlife Sanctuary, Padanglawas Utara, Sumut. (TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI)
Halaman
12
Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved