Breaking News:

Lewat Musik, Puisi, Drama hingga Lukisan Mahasiswa Sampaikan Aspirasi soal Kabut Asap

Para mahasiswa ini ingin menyampaikan aspirasinya dengan cara yang terbilang menarik, yaitu lewat musik, puisi, drama teatrikal hingga lukisan.

Penulis: Alija Magribi |
TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
Suasana pertunjukan alunan asap nusantara menyayat pengendara di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara yang dilaksanakan, Rabu (25/9/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sejumlah mahasiswa sekitar Kota Medan yang konsern dalam dunia kesenian, menggagas aksi teatrikal bertajuk 'Alunan Asap Nusantara', Rabu (25/9/2019) siang di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Imam Bonjol, No. 30, Medan.

Acara yang dilaksanakan dan dihadiri oleh sesama generasi muda penikmat seni ini berlangsung hikmat meski hiruk pikuk kenderaan berlanjut.

Bukan seperti demo pada umumnya. Para mahasiswa ini ingin menyampaikan aspirasinya dengan cara yang terbilang menarik, yaitu lewat musik, puisi, drama teatrikal hingga lukisan.

Salah satu puisi yang dimainkan Ade Syahputra mendapat perhatian teman temannya, bahkan pengendara yang berlalu lalang. Ia menampilkan 'Sajak Pertemuan Mahasiswa' karya WS Rendra.

Ya! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka
Ada yang duduk, ada yang diduduki
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras
Dan kita di sini bertanya:

“Maksud baik saudara untuk siapa?”
“Saudara berdiri di pihak yang mana?”
Kenapa maksud baik dilakukan
Tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota
Perkebunan yang luas.
Hanya menguntungkan segolongan kecil saja," sepenggal ucapan Ade dalam aksinya.

Pada kesempatan yang sama penggagas acara Rizal Tarigan menyampaikan makna dari apa yang mereka laksanakan pada hari itu adalah bagaimana Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Pemprov Sumut, Kodam I/BB dan Polda Sumut serta jajaran Forkopimda memiliki rasa tanggungjawab yang besar.

"Mereka punya tanggung jawab. Tapi tiap tahun masalah kebakaran hutan bagai rutinitas yang seperti tak ada solusinya. Kerja mereka apa, tanggungjawab mereka apa. Kenapa tak pernah ada sanksi pada seorang pemangku jabatan yang lalai dalam fungsinya," ujar Rizal Tarigan.

Mahasiswa teknik mesin semester akhir di Universitas Medan Area ini merupakan salah satu diantara sekian mahasiswa yang menyayangkan kinerja pemerintah saat ini. Ia kembali bertanya identitas Indonesia akan hutannya yang terkenal.

"Paru paru dunia katanya. Ke mana lagi semua?. Bukankah hutan adalah sumber kehidupan manusia. Tersimpan kekayaan alam dan satwa yang juga diciptakan Tuhan, selain manusia sendiri," katanya.

Ia mengatakan pemerintah harus jantan. Siapa yang tak bisa bekerja silakan mundur dari jabatannya. Silakan mencopot anggotanya. Biarkan orang orang yang berperan dalam lingkungan mengambil bagian.

"Pak Pangdam I/BB dan bapak Kapolda Sumut, beberapa hutan yang terbakar berada dalam wilayah kalian. Kenapa tidak dievaluasi anggotanya. Kenapa ini bisa terjadi?," Pungkasnya.

Amatan Tribun Medan di lokasi, aksi para mahasiswa ini tak pelak mendesak kagum para pengendara. Mereka terlihat memperlambat dan membuka kaca, mendengar sekilas bait bait puisi yang dimainkan.

Bahkan tampak salah satu pengendara mobil Mercedes Benz menitipkan uang Rp 50.000 ke dalam kotak amal yang nantinya akan dipergunakan membeli lagi masker untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat.

(cr15/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved