Tokoh Separatis Benny Wenda Teriak ke Dunia Internasional, Minta Pasukan PBB Untuk Papua

Tokoh separatis Papua, Benny Wenda, dilaporkan hadir dalam Sidang Umum PBB yang berlangsung pada pekan ini di New York, AS.

Tokoh Separatis Benny Wenda Teriak ke Dunia Internasional, Minta Pasukan PBB Untuk Papua
Twitter/Benny Wenda
Benny Wenda saat memberikan petisi 'Papua Merdeka' pada Komisioner PBB untuk hak azasi manusia 

"Saya mendesak Pemerintah Australia agar bertindak cepat. Kita tidak ingin mengulangi sejarah yang sama dengan yang terjadi di Timor Timur," ucapnya.

Sebelumnya Benny Wenda yang mengklaim telah memperoleh petisi warga Papua dan mengirimkannya pada Michelle Bachelet Komisioner HAM PBB.

Dalam postingannya di Twitter Benny tampak memberikan tas berisi dokumen petisi 1,8 juta pada Bachelet dan menuntut kemerdekaan dari Indonesia. 

"Lebih dari 1,8 juta orang Papua Barat menandatangani petisi yang menuntut kemerdekaan dari #Indonesia, yang dikirim ke @UNHumanRights Commissioner @mbachelet," twet Benny di akun Twitternya kemarin.

"Penentuan nasib sendiri adalah hak kita yang tidak dapat dicabut. Sudah waktunya bagi @UN untuk meluruskan kesalahan masa lalu. #UNGA #WestPapua.

Benny Wenda sebelumnya tidak diijinkan masuk ke ruang sidang umum PBB di New York, Amerika Serikat.

Benny Wenda awalnya berupaya masuk ke ruang sidang, ketika sidang Majelis Umum PBB yang diikuti perwakilan ratusan negara seluruh dunia sedang berlangsung.

Benny Wenda yang diduga menjadi dalang kerusuhan di Papua tidak di ijinkan masuk ke ruang sidang karena PBB saat ini memiliki peraturan baru.

“Kini PBB punya aturan baru, hanya warga negara resmi dari negara peserta yang bisa masuk dan hadir dalam Sidang Umum PBB,” kata Delegasi RI asal Papua, Nick Messet, melalui pesan WA, Jumat 27/9/2019) malam.

Sementara itu Benny Wenda tampak bertemu dengan Michelle Bachelet seorang Komisioner HAM PBB lalu memamerkan tas buatan tangan berisi diduga berisi bundelan dokumen.

Benny Wenda sebelumnya mencoba masuk ke ruang sidang melalui delegasi Vanuatu.

Halaman
1234
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved