Narapidana Lapas Siborong-borong Raup Uang Ratusan Juta, Modus Lelang Tipu Korban Lewat WhatsApp

Penipuan lewat medsos berkedok pelelangan di Kementerian Keuangan oleh seorang napi di Lapas Siborong-borong meraup uang Rp 110 juta

Narapidana Lapas Siborong-borong Raup Uang Ratusan Juta, Modus Lelang Tipu Korban Lewat WhatsApp
TRIBUN MEDAN/VICTORY HUTAURUK
Para terdakwa penipuan lewat medsos berkedok pelelangan di Kementerian Keuangan oleh seorang napi di Lapas Siborong-borong berhasil meraup uang Rp 110 juta dari korban. 

Terdakwa Fauzi dan Hendra mengetahui bahwa uang yang masuk ke rekening tersebut adalah hasil dari kejahatan yang dilakukan Hendra. kemudian hasil kejahatan tersebut para terdakwa mendapat bagian.

Dimana rinciannya adalah terdakwa Muhammad Fauzi mendapat bagian sebesar Rp. 1.250.000. Terdakwa M. Arsal mendapat bagian sebesar Rp. 1.350.000. Terdakwa Afdiyan mendapat bagian sebesar Rp. 11.000.000, terdakwa Kiki Rizki Yunanda mendapat bagian sebesar Rp. 11.000.000 dan terdakwa Ahmad Taufan mendapat Rp. 11.000.000.

Kemudian pada 1 Maret 2019, korban Honer Bochem mendatangi kantor Arik Haryono di Kantor Kementerian Keuangan (Direktorat Jenderal Kekayaan Negara) untuk mengkonfirmasi kebenaran apakah Kementerian Keuangan melaksanakan lelang.

Dimana disitu Arik Haryono menjelaskan mengenai proses lelang dimana tidak boleh ada dalam proses lelang untuk mentransfer ke rekening pribadi.

"Maka atas keterangan saksi Arik tersebut, korban merasa telah ditipu oleh Hendra yang mengatasnamakan saksi Arik Haryono. Selanjutnya korban dan saksi Arik Haryono bersama-sama datang ke kantor Bareskrim MABES POLRI untuk melaporkan perbuatan Hendra Adi Syahputra dan para Terdakwa," tuturnya.

Atas perbuatan para Terdakwa diatur dan diancam pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 A Ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.

Seusai sidang, Jaksa Nur Ainun menyebutka. Bahwa kasus ini menjadikan pembelajaran bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam penipuan/iming-iming melalui media sosial.

"Kasus ini pembelajaran juga untuk seluruh masyarakat. Karena media sosial membuat semua informasi dengan mudahnya masuk. Untuk itu agar kita tidak mudah untuk mempercayai sesuatu tanpa melakukan klarifikasi. Agar tidak ada lagi korban-korban penipuan seperti ini lagi," pungkasnya.

(vic/tribunmedan.com)

Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved