Breaking News:

Mengenal Abu Bakar Ja'cub Ulama Penyair Terlupakan dari Medan, Pernah Tulis Ratusan Buku

Sumut memiliki kekayaan warisan intelektual sastra yang selama ini tidak diungkap.

Tribun Medan/Gita Nadia Putri Tarigan
Seminar Dekonstruksi Sejarah Sastra: Haji Abu Bakar Ja'cub Ulama penyair terlupakan dari Medan. (Penyambung Sastra Lama Indonesia Modern) di Museum Sejarah Alquran, Sumatera Utara Jalan Williem Iskandar Nomor 9, Kenangan Baru, Sabtu (5/10/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Dari Mesjid Gang Bengkok Medan, ada seorang ulama terkenal di Medan yang sangat aktif tidak hanya berdakwah tapi juga menulis, termasak menulis syair keislaman yang sangal produktif. Dialah H. Abubakar Ja'cub, ulama Medan yang legendaris pada era 1950-1970 an.

Sosok H. Abubakar Ja'cub diperkenalkan kembali oleh Dr. Phil. Ichwan Azhari, saat mengisi seminar Dekonstruksi Sejarah Sastra: Haji Abu Bakar Ja'cub Ulama penyair terlupakan dari Medan. (Penyambung Sastra Lama Indonesia Modern) di Museum Sejarah Alquran Sumatera Utara Jalan Williem Iskandar Nomor 9, Kenangan Baru, Sabtu (5/10/2019).

"Sumut memiliki kekayaan warisan intelektual sastra yang selama ini tidak diungkap. Kita memiliki ulama yang sekaligus penyair yang dilupakan. Jadi kita ingin mengungkap hal tersebut," katanya.

Ia mengatakan, berdasarkan data yang sudah dihimpun, telah ditemukan lebih dari 80 naskah Koleksi H. Abubakar Ja'cub dan sebanyak 40 buku telah dipajang di Museum Sejarah Alquran khusus untuk dinikmati khalayak ramai. Meski demikian buku tersebut tidak dapat di fotocopy untuk umum dan hanya diperbolehkan untuk para peneliti.

"Sumut memiliki ulama yang pada zamannya legendaris, yang ternyata juga seorang penyair. Karena tema kita dekonstruksi sesungguhnya peran dia dalam dunia sastra itu penting. Bahwa syair lama yang dibilang mati pada tahun 1920 dalam sejarah sastra, ternyata di Medan beliau menulis dalam bentuk syair, dan dakwahnya juga dipublikasi dalam bentuk syair, bahkan dicetak sampai ribuan eksemplar," katanya.

Buku-buku karya H. Abubakar Ja'cub tidak dapat dipandang sebelah mata, sebab pada masanya, beberapa bukunya sempat dicetak berulang kali dengan jumlah ribuan, dan tersebar ke seluruh pelosok Indonesia bahkan dunia.

Cucu H. Abubakar Ja'cub, Muaz Tanjung mengatakan, beberapa diantaranya yakni syair berjudul Dewi Masjitah yang dicetak sebanyak 5000 eksemplar, karya lainnya adalah syair Qijamat Dan Mahsjar. Karya tersebut ditulisnya dalam buku berukuran 15x11 cm, terdiri dari 36 halaman, dan jumlah bait syairnya sebanyak 196 bat. Buku tersebut mengalami cetak ulang sebanyak empat kali. Cetakan pertama dilakukan pada
tahun 1953 sebanyak 3.000 eksemplar. pada tahun 1955 diterbitkan cetakan kedua sebanyak 8000 eksemplar.

Pada tahun 1959 dilakukan pencetakan ketiga kalinya sebanyak 5.500 eksemplar, dan pencetakan yang keempat kalinya dilakukan pada tahun 1960 sebanyak 7.500 eksemplar. Data tersebut, Ia peroleh dari buku harian Ja'cub serta gores langsung yang tertulis jelas di buku Aslinya.

"Kakek saya itu punya kebiasaan, di setiap halaman depan bukunya, Ia selalu menulis jumlah eksemplar, gaji, tanggal dan tandatangan. Selain itu beliau kemana-mana selalu bawa buku harian sehingga informasi tentang dia dapat mudah saya ketahui, selain itu saya memang banyak menghabiskan waktu dengan dia, sebab emak saya meninggal sejak SD dan saya tinggal dengan beliau," katanya.

Ia bercerita bahwa Ja'cub Lahir di Medan pada tanggal 22 juli 1915, pada tahun 1923 Ja'cub mulai belajar di sekolah HIS Sukaraja Medan dengan bantuan seorang penilik, karena pada masa itu yang diterima di sekolah tersebut hanya anak-anak pegawai pemerintah kolonial Belanda. pada tahun yang sama Ia juga mulai belajar di madrasah yang bernama Maktab Islamiyah Tapanuli (Mit) Medan.

"Tahun 1936, Ia melanjutkan pendidikan di Makkah, dan pada tahun 1950 Ia mulai menulis buku dengan judul kursus kilat belajar sembahyang. Diterbitkan oleh penerbit Damai dan disambut baik oleh masyarakat sehingga dicetak ulang sebanyak 18 kali dan terakhir diterbitkan tahun 1969," katanya.

Beberapa kategori karyanya yakni buku Fiqh sebanyak 15 judul, Khutbah Pidato sebanyak 17 judul, sejarah atau kisah sebanyak 7 judul, kata-kata berharga sebanyak 2 judul, Syair sebanyak 18 judul, obat-obatan 2 judul dan pelajaran sekolah 2 judul serta Tajwid sebanyak 1 judul.

"Sampai akhir hayatnya, Ia telah menulis lebih dari seratus buku. Namun yang ada dokumentasinya sampai saat ini hanya sebagian saja," katanya

(cr21/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved