Begini Analisis Psikolog, Kasus Aiptu Pariadi yang Tembak Istri Kemudian Tembak Kepala Sendiri

Hingga saat ini pihak kepolisian belum mampu menyimpulkan apa yang menjadi penyebab pertikaian antara Pariadi dengan istrinya

Facebook
Foto pasangan Aiptu Pariadi dan istrinya, Fitri semasa hidup. 

SEIRAMPAH, TRIBUN- Teka-teki kematian Kepala Tim (Katim) Satresnarkoba Polres Serdang Bedagai, Aiptu Pariadi dan istrinya Fitri Handayani masih menjadi misteri.

Hingga saat ini pihak kepolisian belum mampu menyimpulkan apa yang menjadi penyebab pertikaian antara Pariadi dengan istrinya sehingga bisa terjadi pembunuhan dan kejadian bunuh diri. Pihak kepolisian pun pada saat ini sudah irit untuk berbicara kepada awak media.

Psikolog Irna Minauli mengatakan Tekanan pekerjaan yang menimbulkan kejenuhan (burnout) tampaknya menjadi salah satu penyebab tindak kekerasan yang dilakukan oleh petugas kepolisian. Tekanan pekerjaan yang besar namun kurang disertai dukungan yang dibutuhkan baik dalam lingkup pekerjaan atau keluarga juga dapat menjadi pencetus timbulnya masalah emosional.

Petugas polisi sebenarnya adalah orang-orang pilihan karena telah melalui serangkaian seleksi ketat namun dalam perjalanan pekerjaannya banyak yang kemudian menjadi kehilangan kendali.

"Ketika seseorang memiliki senjata api, ada semacam kekuatan yang mereka miliki yang jika tidak dikendalikan secara tepat dapat menimbulkan dampak melukai orang lain atau diri sendiri. Itu sebabnya, kemampuan pengendalian emosi menjadi hal yang sangat penting bagi para pemilik senjata api. Mereka tidak boleh terpancing emosinya sehingga tergoda untuk menggunakan senjata apinya,"katanya Senin, (7/10).

Direktur Minauli Consulting ini menyebut para petugas kepolisian seringkali sulit beralih peran dari tugasnya di kepolisian dan peran di rumah tangganya. Itu sebabnya kedua belah pihak, baik istri maupun suami sebaiknya memahami tugas berat yang dilakukan pasangannya dan memberi kenyamanan ketika berada di rumah. Suami (petugas kepolisian) harus bisa menempatkan diri ketika dia berperan sebagai polisi dan sebagai suami atau orangtua. Kebiasaan baik yang ada di kedinasan yang perlu ditanamkan dalam keluarga seperti kedisiplinan perlu dipertahankan akan tetapi sikap otoriter dan agresif sebaiknya tidak dibawa ke rumah.

"Pasangan juga perlu memberi dukungan agar suami dapat melepaskan stres yang diperoleh di tempat kerja dan jangan menambah stres baru. Dukungan dari pasangan menjadi sangat penting ketika memiliki suami/istri dari kepolisian. Pertengkaran yang terjadi hendaknya jangan sampai memicu emosi yang menyebabkan tindakan yang diluar batas. Keduanya harus dibekali dengan kemampuan untuk mengatasi konflik dalam keluarga secara positif,"katanya.

Alumnus Fakultas Psikologi Unpad, Bandung ini menambahkan hal yang perlu dievaluasi adalah kemungkinan adanya masalah-masalah gangguan jiwa seperti depresi atau trauma yang diakibatkan pekerjaan. Post-traumatic stress disorder adalah salah satu gangguan yang banyak diderita oleh petugas kepolisian karena mereka sering terpapar dengan kekerasan. Depresi terselubung (hidden depression) juga banyak terjadi sehingga beberapa diantara petugas melarikan diri dengan narkoba atau perempuan lain.

"Itu sebabnya konseling dan pemeriksaan psikologi rutin, minimal 6 bulan sekali, perlu dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan adanya masalah psikologis yang dialami. Perlu sistem seleksi tambahan seperti halnya pada seleksi untuk pilot atau penerbang yaitu adanya kemampuan pengendalian emosi sehingga tidak mudah terpancing dan mampu menyelesaikan masalah dalam situasi krisis,"katanya.

Baca: Kasus Oknum Polisi Diduga Tembak Istri Gugur secara Hukum

Baca: Aiptu Pariadi Sudah Tak Saling Bicara dengan Istrinya Sebelum Bunuh Diri Tembak Kepala

Baca: Menguak Motif Aiptu Pariadi Tembak Istri Lalu Menembak Kepala Sendiri, Ini Kata Kapolres Sergai

(dra/tribun-medan.com)

Penulis: Indra Gunawan
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved