Pedagang Pusat Pasar Keluhkan Pembeli Sepi
Cabai merah sudah turun harganya sekarang Rp 40 ribu per kg kemarin sempat Rp 60 ribu ke atas.
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN- Sejumlah pedagang di Pusat Pasar Kota Medan keluhkan pembeli yang sepi. Padahal harga kebutuhan saat ini sudah mulai menurun dan stabil. Salah satu pedagang sayuran di Pusat Pasar Kota Medan, Ros mengatakan, saat ini daya beli masyarakat minim sehingga berdampak pada penjualan yang sepi.
"Cabai merah sudah turun harganya sekarang Rp 40 ribu per kg kemarin sempat Rp 60 ribu ke atas.
Bawang merah pun harganya sudah merosot sekali Rp 16 ribu per kg, biasanya Rp 32 ribu ya. Apalagi tomat hanya Rp 6 ribu per kg. Tapi pembeli sepi," ujar Ros pada, Senin (7/10/2019).
Selain itu, kata Ros, harga komoditas lainnya yang turun seperti cabai hijau Rp 30 ribu per kg biasanya lebih dari itu. Cabai rawit (kecil) Rp 32 ribu per kg. "Sabtu lalulah sempat naik Rp 8 ribu untuk cabai merah tapi hari ini harga kembali stabil lagi," jelasnya.
Sementara itu untuk harga sayur yang cukup mahal hari ini yakni harga sayur brokoli yakni Rp 15 ribu per kg, padahal biasanya brokoli hanya Rp 10 ribu. Menurut Ros lantaran mahal biasanya melihat kondisi bagus tidaknya hasil sayur yang ditanam. "Sayur yang lain seperti sawi putih masih bisanya Rp 5 ribu per kg, sayur kol Rp 4 ribu per kg," katanya.
Hal yang sama juga dikatakan Apuk, salah seorang pedagang bahan pokok di Pusat Pasar Kota Medan harga seperti beras, minyak goreng dan gula putih tidak ada kenaikan. Namun daya beli masyarakat lesu.
"Sepilah, lihatlah pembeli saja sepikan. Padahal harga-harga stabil seperti beras dikisaran Rp 10 ribu sampai Rp 11 ribu per kg. Gula putih Rp 13 ribu per kg, minyak goreng kemasan 2 liter Rp 25 ribu," ucap Apuk.
Dalam kesempatan yang berbeda,
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin mengatakan tren penurunan harga barang kebutuhan pokok belakangan memang mengalami penurunan disebabkan adanya tambahan sisi persediaan atau supply. Untuk beberapa komoditas lainnya seperti bawang putih, harganya tertekan seiring dengan penurunan harga bawang merah sebagai komoditas substitusi dan juga pelengkap.
"Daya beli masyarakat yang cenderung menurun, hal ini juga tidak bisa kita abaikan, karena memang faktanya daya beli masyarakat bermasalah sejak terjadi perang dagang di tahun lalu yang mengakibatkan harga komoditas mengalami penurunan. Ini akar masalah dari penurunan daya beli belakangan ini," ungkap Gunawan.
"Namun, kita harus melakukan evaluasi lebih mendalam dan lebih lama untuk melihat fenomena penurunan daya beli tersebut. Yang penting, deflasi atau penurunan harga akhir-akhir ini tidak dikarenakan oleh penurunan daya beli tetapi lebih disebabkan oleh membaiknya sisi pasokan," tambahnya.
Ia menjelaskan kalau sampai daya beli memicu deflasi, ini lebih serius masalahnya. Karena daya beli yang turun memgakibatkan menurunnya sisi permintaan. Kalau sisi permintaan terganggu ini maka tentu berbahaya. Indikasi krisis muncul disitu dan penanganannya harus ekstra.
"Sejauh ini indikasi deflasi lebih karena supply. Untuk melihat fenomena daya beli masyarakat turun memicu penurunan harga, kita butuh melewati sejumlah perayaan keagamaan besar yang bisa menunjukan fenomena permintaan disitu. Tetapi memang, dunia bukan hanya Indonesia tengah mewaspadai adanya potensi krisis akibat perang dagang yang justru semakin diperluas oleh AS. Bukan hanya terhadap China, tetapi Eropa pun terseret dalam perang dagang baru," katanya.
(nat/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/konsumen-berbelanja-di-pusat-pasar-medan.jpg)