Wanita Cantik Didakwa Palsukan Surat Tanah, Sempat Berbincang dengan Hakim di Ruangan

di samping pintu masuk ruangan Humas jelas tertulis dengan huruf kapital 'TIDAK MENERIMA TAMU URUSAN PERKARA'.

Wanita Cantik Didakwa Palsukan Surat Tanah, Sempat Berbincang dengan Hakim di Ruangan
TRIBUN MEDAN/VICTORY HUTAURUK
Terdakwa kasus pemalsuan surat tanah seluas 2.349 M2 Apriliani (28) menjalani sidang perdana (dakwaan) di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (8/10/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Terdakwa kasus pemalsuan surat tanah seluas 2.349 M2 Apriliani (28) menjalani sidang perdana (dakwaan) di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (8/10/2019).

Namun, amatan Tribun, sebelum memasuki ruang sidang, Apriliani terpantau wartawan memasuki ruangan Humas Hakim Jamaluddin diikuti oleh dua orang yang diduga keluarganya.

Padahal tepat di samping pintu masuk ruangan Humas jelas tertulis dengan huruf kapital 'TIDAK MENERIMA TAMU URUSAN PERKARA'.

Bahkan, sebelum masuk ke dalam ruangan, Hakim Jamaluddin dan terdakwa Apriliani juga terlihat mengobrol di depan ruangan tunggu jaksa yang berada persis di samping ruangan Humas PN Medan.

Setelah 5 menit berada d Aprliani pun keluar untuk selanjutnya mengikuti proses persidangan dirinya di Ruang Cakra 7.

Dalam sidang perdana tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Randi Tambunan dalam surat dakwaannya menyebutkan kasus ini bemula saat Ng Giok Lan (ibu kandung terdakwa Apriliani) mempunyai warisan tanah yang terletak di Jln Pancing II Lk. II Kel Besar d/h Kampung Besar, Kec Medan Labuhan seluas 14.910 M2.

"Selanjutnya pada tanggal 17 Maret 2014 bertempat di Kantor Notaris dan PPAT Nuriljani Iljas, SH yang beralamat di Jln Helvetia By Pass No. 108 B, Labuhan Deli, Kab Deliserdang terdakwa menjual tanah tersebut berdasarkan Akta No. 20 kepada Lo Ah Hong seharga Rp 8.585.500.000," cetus Jaksa.

Terdakwa Apriliani menjual tanah tersebut dasar Surat Keterangan Hak Warisan Ahli Waris Kelas Satu Nomor: 12/NI/N-SKHW/III/2014 tanggal 17 Maret 2014 bertalian dengan Surat Keterangan No. 470/971/RP-II/2014 tanggal 19 Februari 2014.

Randi melanjutkan bahwa sebelumnya tanah tersebut sudah dijual oleh Ny. Djoe Ho/Ny Yap Kim Kiok merupakan (nenek terdakwa Apriliani) kepada Mochtar Daud pada tahun 1977 di hadapan Notaris Rachmat Sentosa, SH.

"Setelah mendengar informasi bahwa tanah miliknya dijual tersebut saksi korban Anto dan Lina merasa keberatan bahwa tanah yang dijual terdakwa tersebut merupakan milik mereka dengan Sertifikat Hak Milik (SHM) No. 4852 dengan luas 2.349 M2," tutur JPU.

Akibat perbuatan terdakwa, kedua korban merasa keberatan dan melaporkannya ke Polda Sumut. Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 385 ke-1 KUHP subsider Pasal 263 ayat (1) KUHP.

Usai pembacaan dakwaan, majelis hakim menutup sidang dan melanjutkannya pekan depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Terdakwa dan penasihat hukumnya tidak mengajukan eksepsi.

(vic/tribunmedan.com)

Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved