Breaking News:

Ngopi Sore

Perkara Berak di Jakarta

Jika sudut pandang bilangan dialihkan ke sudut pandang persoalan inti, maka angkanya tak saja berubah jadi besar, tetapi juga terasa mengerikan.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUN MEDAN/T AGUS KHAIDIR
SALAH satu sudut Kota Jakarta, permukiman kumuh dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit. 

Mari sejenak kita tarik garis lebih jauh. Tahun 2014, laporan bersama WHO dan Unicef menempatkan Indonesia di peringkat kedua terburuk di dunia dalam klasifikasi sanitasi tak aman dan sanitasi tak layak. Menurut laporan itu, terdapat sedikitnya 54 juta orang Indonesia buang hajat sembarangan. Kita hanya kalah dari India.

Ah, sejenak saya tertawa saat pertama kali mendapati angka ini. Rasanya lucu sekali, negeri yang dikenal melahirkan banyak perempuan cantik dan lelaki tampan; sebutlah Aiswarya Ray, Deepika Padukone, atau Shah Rukh Khan, ternyata 1,1 miliar warganya berak sembarangan.

Tawa saya tak lama, memang. Langsung terhenti sebab teringat Indonesia persis berada setingkat di bawahnya. Di ASEAN kita terburuk. Cuma sedikit lebih baik dari Timor Leste dan Kamboja. Dan lima tahun setelahnya, angka yang menyedihkan ini tidak jauh bergeser.

Ironis pula karena sumbangan angka juga masih ada yang datang dari Jakarta, kota yang di lain sisi bahkan sudah dipandang kosmopolitan sebagaimana Paris, London, Sidney, Hong Kong, atau New York yang pada tahun 1970-an sudah cukup untuk membuat Marno dalam cerita Umar Kayam menjadi gamang.

KONDISI salah satu gang di kawasan Grogol Petamburan, Jakarta. Di kawasan ini disebut-sebut banyak rumah yang tidak memiliki sanitasi memadai.
KONDISI salah satu gang di kawasan Grogol Petamburan, Jakarta. Di kawasan ini disebut-sebut banyak rumah yang tidak memiliki sanitasi memadai. (kompas.com)

Kemudian, seperti yang juga sudah jadi biasa di negeri terkasih ini, perkara berak sembarangan melipir ke Anies Baswedan. Lalu ujug-ujug ke Jokowi. Gubernur Jakarta disebut tidak becus. Presiden dituding tidak becus. Mengurus orang buang hajat saja tak mampu. Lantas, ada pula yang iseng menghubung-hubungkannya dengan rencana perbaikan atap rumah dinas gubernur yang besarannya mencapai Rp 2,4 miliar.

Anies menanggapi. Bilangnya, perkara ini jadi pekerjaan rumah yang akan secepatnya diselesaikan. Kapan selesainya, tentu saja, hanya Anies dan Tuhan yang tahu. Sementara itu, bawahannya, mengajukan usul: warga yang saat ini belum punya jamban baiknya menumpang dulu di rumah tetangga yang punya jamban.

Saya tak hendak membela Anies Baswedan. Namun terlepas dari biaya renovasi atap rumah dinas yang jumlahnya menakjubkan dan usul bawahannya yang demikian aduhai tingkat kengawurannya itu, menimpakan perkara 42 ribu orang Jakarta berak sembarangan melulu pada dia rasa-rasanya tidak adil juga.

Toh ini bukan perkara baru. Jauh sebelum Anies jadi gubernur orang-orang Jakarta sudah punya kebiasaan berak sembarangan. Bahkan sejak kota ini masih disebut Batavia dan dipimpin orang Belanda bernama Jan Pieterszoon Coen.

Sang Gubernur Jenderal JP Coen, alias Tuan Mur Jangkung, berkuasa dalam dua periode berbeda di Batavia sebelum akhirnya menemui ajal tahun 1629 lantaran kolera, penyakit yang disebabkan infeksi bakteri Vibrio cholerae. Bakteri ini hidup, menyebar, dan menjangkiti lewat air dan makanan di lingkungan sekitar perairan, khususnya sungai dan danau, yang tak bersih.

Konon saat itu, kecuali di benteng yang dibangun JP Coen, memang tidak ada jamban di seantero Batavia. Semua orang berak di sungai. Termasuk Sungai Ci Liwung yang mengalir di depan benteng.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved