Jadi Jutawan dari Satu Hektar Kebun Aren

Satu tumbuhan aren bisa menghasilkan 10 liter nira per hari atau 2000 liter per hari dalam satu hektar lahan.

Tayang:
Kompasiana
Pohon aren 

TRIBUN-MEDAN.com-Aren atau enau banyak tumbuh di Sumatera Utara. Tumbuhan bernama latin arenga pinnata ini terkenal serbaguna karena hampir seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan. Namun sayangnya masih banyak masyarakat yang menggenal aren sebagai bahan baku tuak saja.

"Saat ini kami mengedukasi bahwa nira aren bukan sakadar bahan baku tuak. Kita edukasi masyarakat untuk membuat produk turunan yang coba kita pasarkan nanti ke luar Sumatera Utara juga kalau memungkinkan ke luar negeri. Namun untuk konsumsi dalam provinsi aja sekarang sudah mulai cukup bagus," kata Bendahara Asosiasi Aren Indonesia DPW Sumut, Hendra Perangin-angin, Kamis (10/9/2019)..

Hendra mengatakan, satu hektar kebun aren bisa menghasilkan hingga miliaran rupiah per tahun. Satu hektar lahan bisa ditanami hingga 200 aren. Satu tumbuhan aren bisa menghasilkan 10 liter nira per hari atau 2000 liter per hari dalam satu hektar lahan.

"Kalau dijual, nira ini harganya Rp2000 per liter. Pendapatan kotor dari penjualan nira saja bisa mencapai Rp 4 juta per hari atau Rp 1,44 miliar per tahun. Itu belum diubah menjadi brown sugar, tengguli, atau gula merah yang harga jualnya pasti lebih tinggi," jelasnya.

Hendra Perangin-angin didampingi pihak Bank Sumut dalam pameran produk turunan aren.
Hendra Perangin-angin didampingi pihak Bank Sumut dalam pameran produk turunan aren. (Tribun Medan/Septrina Ayu Simanjorang)

Ia mengatakan, dulunya aren kebanyakan tumbuh di hutan. Namun saat ini aren mulai dibudidayakan. Di Sumatera Utara aren banyak ditemui di Desa Buluh Awar, Sipirok, dan daerah lainnya.

Saat ini pihaknya juga menjadikan kebun percontohan aren di Desa Buluh Awar, Sibolangit.

"Aren ini sudah banyak yang tanam tapi belum banyak yang membudidayakan. Sekaranglah coba kita edukasi masyarakat untuk membudidayakan aren. Agar konotasi masyarakat tidak melulu hasil aren adalah tuak, kita coba dengan memperkenalkan produk produk turunannya," imbuhnya.

Menurutnya, saat ini petani yang berada di naungan asosiasi ini juga sudah mulai mengemas agar produk mereka terlihat lebih bagus. Tak sedikit pula petani yang mulai mengganti tanaman sawit dan beralih untuk membudidayakan aren.

"Malahan ketua asosisasi ini menebang pohon sawitnya dan mengganti dengan aren. Ada juga beberapa petani yang melakukan hal yang sama. Sebenarnya kalau diseriuskan dengan pengolah produk turunan ini hasilnya lebih menguntungkan aren dari pada sawit," katanya.

Hal ini karena perawatan aren tidak repot. Jika sawit harus ada pemupukan rutin dua bulan sekali, kalau aren hanya dipupuk sekadarnya. Apalagi sebagai tanaman hutan, aren bisa tumbuh kuat. "Selain itu semua bagian aren bisa dimanfaatkan dan dijual seperti ijuk, daunnya bisa dijadikan sapu lidi, dan tentunya niranya," ungkapnya.

Aren bisa menghasilkan nira mulai usia lima sampai tujuh tahun. Pihaknya juga terus menggandeng berbagai pihak untuk pengembangan agar aren bisa lebih cepat disadap. Ada banyak produk turunan yang dihasilkan dari aren seperti tengguli atau gula aren cair. Tengguli merupakan gula aren yang berbentuk cair atau saat belum menjadi gula merah. Selain itu ada brown sugar yang dikemas dengan beberapa varian seperti brown sugar rasa jahe, cengkeh, kulit manis, dan lain sebagainya.

"Sekarang masyarakat sudah juga mengerti kegunaan dan manfaat gula aren dan brown sugar. Sekarang cafe cafe sudah mulai menggunakan gula aren, di hotel-hotel juga disajikan brown sugar sebagai pilihan pengganti gula pasir. Kita melihat cukup antusias masyarakat dengan gula aren ini. Kedepannya kami akan membuat juga gula aren yang dikemas dengan ukuran yang pas untuk satu gelas," katanya.

Asosiasi Aren Indonesia DPW Sumut ini baru terbentuk tahun ini. Hendra mengatakan pihaknya terus mencoba memperkenalkan lagi tanaman asli Indonesia ini. Nantinya pihaknya juga akan mencoba membuat desa binaan aren di daerah Samosir. Dimana di desa tersebut akan ada juga pengelolaan aren mulai dari penyadapan hingga membuat produk turunannya.

"Menyadap aren termasuk budaya lokal, zaman dulu menyadap aren enggak bisa sembarang orang, harus diberikan perlakuan khusus seperti dinyanyikan, baju tak boleh diganti. Ini merupakan budaya lokal yang mulai hilang. Nantinya dengan kerjasama dengan berbagai pihak kebudayaan ini akan kita hidupkan lagi di desa binaan aren tersebut. Jadi akan ada tambahan wisata edukasi juga saat orang mengunjungi Danau Toba," pungkasnya (cr18/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved