PNS Wamena Mardelina Manurung Berpikir Ulang Kembali ke Papua, 36 Orang asal Sumut Dievakuasi

"Saya sudah 15 tahun tinggal di Wamena. Kalau mau kembali ke sana masih mikir," kata Mardelina Manurung.

PNS Wamena Mardelina Manurung Berpikir Ulang Kembali ke Papua, 36 Orang asal Sumut Dievakuasi
TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Keluarga mencium pengungsi korban kerusuhan Wamena saat tiba di Kantor Pemprov Sumut, Medan, Rabu (9/10/2019). Sebanyak 36 pengungsi korban kerusuhan di Wamena, asal Sumatera Utara tiba di Kantor Pemprov Sumut untuk selanjutnya dikembalikan ke daerahnya masing-masing. 

TRIBUN-MEDAN.com-Gejolak yang terjadi di Wamena, Papua beberapa hari terakhir, memaksa warga asal Sumatera Utara, yang telah lama tinggal di kota tersebut, pulang kembali daerah asal untuk menyelamatkan diri.

Satu di antaranya adalah Mardelina Manurung (40), yang sehari-harinya kerja sebagai PNS di Puskesmas Homhom. Ia mengaku, saat kejadian pada Senin, 23 Septmebr 2019, melihat massa mulai menyiramkan bensin hingga api membesar.

"Saya sudah 15 tahun tinggal di Wamena. Kalau mau kembali ke sana masih mikir. Kalau memang langsung di ACC kita pengin pindah," kata Mardelina di Aula Raja Inal Siregar Pemprov Sumut, Senin (9/10) malam.

Mardelina menambahkan, saat pulang hanya membawa tas berisi pakaian, tapi tidak ada pakaian sekolah anak. Teman-temannya, bahkan ada yang sama sekali tidak membawa apa-apa saat pulang.

"Di sana sebenarnya, sebelum kejadian itu baik-baik saja. Kita bangga, malahan anak saya lahir besar Wamena. Anak saya empat lahir di situ. Saya berharap bisa tinggal di sini, di Tigabalata atau ke rumah orangtua suami di Sibolga," tutur Mardelina.

Istri Bripka Mislon Miam Sinambela (38), yang bekerja di Polres Jaya Jaya ini, mengaku, empat anaknya lahir di Wamena. Anaknya paling besar telah berusia 13 tahun, anak kedua dan tiga kembar berusia 11 tahun, dan yang paling kecil masih empat tahun.

Sejumlah pengungsi korban kerusuhan Wamena berjalan saat tiba di Kantor Pemprov Sumut, Medan, Rabu (9/10/2019). Sebanyak 36 pengungsi korban kerusuhan di Wamena, asal Sumatera Utara tiba di Kantor Pemprov Sumut untuk selanjutnya dikembalikan ke daerahnya masing-masing.
Sejumlah pengungsi korban kerusuhan Wamena berjalan saat tiba di Kantor Pemprov Sumut, Medan, Rabu (9/10/2019). Sebanyak 36 pengungsi korban kerusuhan di Wamena, asal Sumatera Utara tiba di Kantor Pemprov Sumut untuk selanjutnya dikembalikan ke daerahnya masing-masing. (TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR)

Mardelina menambahkan, awalnya hanya ada isu demo mahasiswa. Karena itu, pas hari H, ia santai saja.

Ternyata, meledak lah kerusuhan. Infonya demo mahasiswa, tapi banyak penyusup. Karena dua minggu sebelum kejadian, katanya, memang banyak isu beredar.

"Kondisi rumah kami tidak diapa-apain. Kami tinggal di aspol, kan suami polisi toh. Jadi, saat kami keluar, pengungsi yang lain masuk ke rumah kami. Sedih melihat kondisi di sana, banyak rumah orang terbakar," katanya.

Pengungsi lainnya, Marlina Ompusunggu (30) mengaku, sudah empat tahun bekerja sebagai guru kimia di SMA YPPGI Wamena dan berstatus PNS. Ibu satu orang anak ini, merasa nyaman tinggal di Wamena. Ia dan keluarga dianggap sebagai saudara oleh warga Wamena.

Halaman
1234
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved