Hari Hak Asasi Hewan 2019, Kecintaan Dengan Fauna Buat Sugeng Jalani Hidup sebagai Vegetarian

Kecintaannya dengan gajah membuat Sugeng menjalani hidupnya sebagai vegetarian selama 16 tahun terakhir.

Hari Hak Asasi Hewan 2019, Kecintaan Dengan Fauna Buat Sugeng Jalani Hidup sebagai Vegetarian
TRIBUN MEDAN/HO/Nail Syayer
Sugeng bersama gajah di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary, waktu lalu 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Hari Hak Azasi Hewan diperingati di seluruh dunia pada hari ini, Selasa (15/10/2019).

Peringatan yang dimaknai dengan introspeksi atas perilaku manusia dengan hewan di muka bumi, memunculkan sosok yang patut diacungi jempol bernama Sugeng.

Bernama asli Muhammad Syukur Al Fajar, pria berkulit sawo matang ini lebih dikenal dengan nama Sugeng. Kecintaannya dengan gajah membuat Sugeng menjalani hidupnya sebagai vegetarian selama 16 tahun terakhir.

"Jadi semuanya ada proses. Tidak serta merta membuat saya menjadi seorang vegetarian begitu mudah. Ada hal yang saya pikir manusia tidak layak memutus rantai makanan di dunia ini," ujar Sugeng, memulai pembicaraan dengan Tribun Medan di Hari Hak Azasi Manusia yang diperingati setiap 15 Oktober setiap tahunnya.

Sugeng mengatakan awal mula perjalanannya mencintai fauna adalah saat masa kanak-kanak ikut membantu orangtua beternak kambing di kampungnya, Aekkanopan, Labuhanbatu Utara pada tahun 1980-an.

Dari situ dirinya dan kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai guru, sering merasa tidak tega, jika kambing yang dipelihara bertahun-tahun peliharaan sendiri, justru dikonsumsi mengisi kekosongan lambung.

"Jadi kami itu dulu, pas saya remaja, mau makan daging kambing atau sapi itu, dijual dulu kambing peliharaan untuk digantikan daging kambing potong. Gak tega makan peliharaan sendiri lah," cerita Sugeng.

Singkat dari peristiwa itu, Sugeng dewasa tumbuh dan mulai melakoni pekerjaannya sebagai pawang gajah (mahout) di Tangkahan selama 4 tahun (1999-2003). Kecintaannya dengan gajah terbawa-bawa membuatnya hilang nafsu makan hewan.

Seperti cerita Sugeng di awal, ia tak serta merta meninggalkan daging begitu saja. Di Tangkahan, Sugeng mengaku sudah meninggalkan daging Ayam, Kambing, Sapi dan sebagainya, namun masih mengonsumsi ikan.

"Nah, waktu di sana itu saya makan ikan aja. Kemudian selepas dari sana, tahun 2003 saya membulatkan diri menjadi seorang vegetarian seutuhnya," cerita Sugeng.

Sugeng pun menyampaikan apa yang mendasarinya membulatkan diri menjadi seorang vegetarian. Ia menilai ada feeling (rasa) kesedihan di benaknya, melihat tangisan hewan saat dipotong, yang tentu tak ditunjukkan tumbuhan saat dipetik.

Ia pun mengaku prinsip hidup yang diambilnya, bukan untuk dipamerkan kepada oranglain. Pria kelahiran 8 Januari 1974 ini mengatakan banyak hal baik yang ia terima sebagai seorang vegetarian. "Kalau kita melansir penelitian saja, sebuah peternakan berkontribusi besar mencemari udara, bahkan lebih buruk dibandingkan udara di Terminal Sambu yang menghasilkan fosil," katanya.

"Kemudian saya pernah terinjak gajah, tulang rusuk saya patah dan mesti terbaring di Rumah Sakit. Dokter bilang, saya bisa selamat karena organ dalam tubuh saya sehat lantaran menjadi vegetarian. Darah saya pun ringan karena menjadi vegetarian," jelasnya.

Saat ini, Sugeng menjalani tugasnya sebagai Mahout Gojag di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS), Aek Godang, Padanglawas Utara. Sugeng memiliki pekerjaan rumah bersama BNWS, Yayasan PETAI, Komunitas Pilar dan beberapa aktivis lingkungan untuk mengembalikan naluri gajah gajah konflik maupun sirkus yang trauma dihujam tangan manusia.

(cr15/tribun-medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved