NEWS VIDEO

Kasubbag Umum Otoritas Bandar Udara Kualanamu Ditetapkan Tersangka Korupsi

Perhitungan kerugian negara sekitar 14,7 Miliar dalam proyek ini. Dan keduanya telah mengakui bahwa mereka mendapatkan fee proyek dari anggaran.

"Jadi sejak tanggal 8 Oktober 2019, dan selama 20 hari kedepan akan kita tahan di Rutan dan akan diperiksa. Untuk tersangka lainnya akan kita informasikan Tim Penyidik Kejaksaan Sumut.

Ia menyebutkan bahwa keduanya dikenakan Pasal 2 Ayat 1 junto pasal 3 junto pasal 18 UU no 31 tahun 1999 tentang UU Tipikor sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2010 junto Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHPidana.

Kedua tersangka tersebut adalah Dwi Cipto Nugroho (38) dan Anang Hanggoro (54). Dwi bekerja sebagai Konsultan di PT. Harawana dan Anang sebagai Direktur II PT Mitra Agung Indonesia.

Lebih lanjut, Sumannggar menjelaskan bahwa keduanya merupakan hasil dari pengembangan dari dua tersangka rekanan sebelumnya yang ditahan Kejati Sumut pada 8 November 2019.

Ia menjelaskan bahwa kronologi kejadian terjadi pada Tahun Anggaran 2016 dimana UPBU Lasondre Kecamatan Pulau-Pulau Batu mengadakan kegiatan Pekerjaan Peningkatan PCN Runway, Taxiway, Apron dengan AC-Hotmix termasuk marking volume 45.608 Meter2.

"Dimana awal semula pagu anggarannya adalah sebesar Rp 27 M yang bersumber dari APBN Kemenhub RI," jelasnya.

Setelah melalui tahapan proses pelelangan, Pokja ULP menetapkan pemenang lelang yaitu PT Mitra Agung Indonesia dengan Anang selaku Direktur II.

Dimanan penandatanganan kontrak dilaksanakan pada 9 Februari 2016 oleh PPK dengan nilai kontrak Rp 26.900.900.000. Untuk pengawasan pekerjaan dilakukan oleh PT Harawana Consultant dengan direktur Dwi Cipto.

"Pembayaran telah dilakukan hingga termin IV mencapai 80 persen senilai Rp 19.847.973.127. Namun kelengkapan dokumen setiap termin tidak dilengkapi pada waktu pengajuan pencairan dana termyn I sampai termyn IV. Sementara kemajuan hasil pekerjaan hanya mencapai 43,80 persen," tegas Sumanggar.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh rim ahli Teknik Sipil dari Fakultas Teknik Universitas Bengkulu ditemukan bahwa volume pekerjaan yang terpasang hanya 20 persen dan tidak sesuai dengan yang dilaporkan PT Harawana Consultant.

"Selanjutnya, dari hasil pemeriksaan fisik tersebut dilakukan perhitungan kerugian keuangan negara oleh auditor dari Kantor Akuntan Publik Pupung Heru menerangkan bahwa kerugian negara sebesar Rp 14.755.476.788," pungkasnya.

(vic/tribunmedan.com)

Penulis: Victory Arrival Hutauruk
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved