Program Studi Sastra Melayu FIB USU Gelar Seminar pada Momentum Dies Natalis Ke 34 Tahun

Kuliah itu jangan cuma nyari gelar dan izasah saja. Saya mendapatkan banyak pengalaman selama ke luar negeri.

Program Studi Sastra Melayu FIB USU Gelar Seminar pada Momentum Dies Natalis Ke 34 Tahun
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI br TARIGAN
Seminar bertajuk Perspektif Multi-Disiplin Dalam Kajian Melayu kepada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ilmu Budaya USU, Selasa (15/10/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Dalam Rangka merayakan Dies Natalis Program Studi Sastra Melayu Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU) yang ke 34 Tahun, adakan Seminar bertajuk Perspektif Multi-Disiplin Dalam Kajian Melayu kepada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ilmu Budaya USU, Selasa (15/10/2019).

Kegiatan seminar yang dilaksanakan di Ruang Rapat FIB ini, mengundang alumni Sastra Melayu yang kini bekerja sebagai ketua tim pelatihan bimbingan teknis DPRD di Jakarta, Iskandarsyah Siregar.

Ia mengatakan bahwa semakin hari peradaban dunia mulai kehilangan identitas. Banyak manusia yang menjalani hidup tanpa orientasi yang jelas. Sehingga sudah sepatutnya mahasiswa Sastra Melayu terkhususnya di Medan mengambil pernanan penting dengan meneliti segala aspek dalam perspektif kajian kebudayaan Melayu.

"Kuliah itu jangan cuma nyari gelar dan izasah saja. Saya mendapatkan banyak pengalaman selama ke luar negeri, orang-orang di luar sana udah enggak peduli lagi dengan izasah. Masuk kampus bukan cuma untuk nyari gelar, orientasinya jelas, maka kalian kuliah jangan cuma sampai kulutnya saja, " katanya.

Ia kemudain menjelaskan bahwa mahasiswa dalam bertindak dan berpikir harus didasarkan pada disiplin ilmu yang jelas, yang merupakan tertib pikir yang didasarkan pada kompwtensi keilmuan yang jelas.

"Ilmu adalah alat yang digunakan untuk mencari pemahaman dan pengertian yang didasarkan pada rangkuman-rangkuman pengetahuan. Dan pengetahuan adalah data dan informasi yang dapat kalian peroleh dari pengalaman. Kalau kuliah hanya ingin dapat pengetahuan saja, gampang ya googlekan saja," katanya.

Ia juga memotivasi mahasiswa Sastra Melayu agar tetap percayadiri dan memberikan yang terbaik selama berkuliah. Ia menekankan apapun jurusannya tidak boleh dikecilkan, gali ilmu sedalam mungkin.

"Yang terjadi di dunia saat ini, kita lalai dalam nilai-nilai keadatan dan tak peduli dengan substansi keadatan. Prinsip menghargai, menghormati serta menjadi tuntunan semakin tidak dipedulikan. Dan anda akan tersesat kalau hanya mencari di kulitnya saja. Ketika masuk ke disiplin ilmu jangan kecilkan objeknya," katanya.

Tidak kalah penting dalam seminarnya, Iskandar juga membantu mahasiswa mendapatkan inspirasi judul-judul skripsi yang menarik dan bernilai baik.

"Pertama lihat dari urgensinya lalu tingkat kemenarikannya. Kalo nulis skripsi itu carilah tema-tema yang menarik dan penting untuk dibahas. Misalnya judulnya itu berhubungan dengan kehidupan masyarakat Melayu pesisir dan lainnya, yang isinya memberi manfaat bagi orang lain. itulah perspektif multi disiplin" katanya.

Selanjutnya Ia menjelaskan bahwa Multi Disiplin merupakan sebuah konsep yang menggabungkan beragam sudut pandang, terhadap suatu objek masalah. Yang bertujuan untuk mendapatkan paradigma dan cakupan kajian yang lebih luas dan holistik.

"Dalam pengertian saya, Budaya merupakan konstruksi konsep yang lahir dari hasil pemikiran, perasaan, dan penjiwaan manusia yang wajar. Tapi sayangnya kini budaya kita jadi tontonan. Harusnya budaya bukan tontonan tapi tuntunan. Kita enggak butuh tontonan, jadi sara saya sekarang jadikan apapun yang kita lihat sebagai tuntunan, dan layaknya skripsi kalian juga harus jadi tuntunan," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved