Ngopi Sore

Kenapa Pejabat Korupsi? Karena Bodoh atau Serakah?

Keserakahan menemukan korelasinya dengan kebodohan. Persisnya, kebodohan yang tidak disadari.

Kenapa Pejabat Korupsi? Karena Bodoh atau Serakah?
Tribunnews/Irwan Rismawan
Wali Kota Medan, Tengku Dzulmi Eldin menggunakan rompi oranye dan tangan diborgol usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Kamis (17/10/2019) dini hari. 

Tatkala Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Bupati Indramayu dan Wali Kota Medan, pendapat yang mengemuka terbagi dua. Pertama, menyebut mereka bodoh. Kedua, serakah.

Kenapa bodoh? Bupati Indramayu, Supendi, maupun Wali Kota Medan, Dzulmi Eldin, sama- sama dijerat Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK dengan tudingan terlibat kasus suap sebesar Rp 200 juta. Bagi orang yang penghasilannya ngos-ngosan, tentu saja, uang ini besar sekali. Namun untuk Supendi, terlebih-lebih Eldin, Rp 200 juta serupa "recehan" saja.

Berdasarkan data LHKPN yang dilaporkan pada 30 Maret 2019, Supendi memiliki harta sebesar Rp 8,54 miliar. Eldin lebih besar lagi. Dari data yang sama, per 31 Desember 2018, total harta kekayaan Eldin mencapai Rp 20,39 miliar.

Lalu kenapa mereka masih mau meraup Rp 200 juta? Apakah mereka bodoh? Sama sekali tidak. Sebagaimana pejabat-pejabat lain yang terjerat hukum, mereka tak bodoh. Sebagian besar dari mereka justru cerdas. Bahkan sangat cerdas.

Logikanya, perlu kecerdasan untuk menyusun dan melaksanakan muslihat, bukan? Bahwa kemudian muslihat terbongkar, ini persoalan lain. Barangkali yang membongkar lebih cerdas. Atau mereka sedang apes belaka.
Jika tidak bodoh, lantas apa? Pendapat kedua menyebut Supendi dan Eldin serakah. Saya cenderung sepakat.

Mereka serakah alias tamak alias loba. Namun sampai di sini, keserakahan menemukan korelasinya dengan kebodohan. Persisnya, kebodohan yang tidak disadari.

Tiap-tiap kita sesungguhnya menyimpan sekaligus kecerdasan dan kebodohan dalam diri. Kecerdasan dan kebodohan ini bisa muncul kapan saja. Melesat begitu saja. Tergantung pada perkara yang dihadapi. Keduanya bisa muncul sendiri-sendiri. Bisa juga berbarengan.

Saya ambilkan contoh dari satu film pendek berjudul Black Hole. Berdurasi kurang lebih tiga menit, dalam kebisuannya (tidak ada dialog sama sekali) film produksi 2008 yang disutradarai Phillip Sansom dan Olly Williams benar-benar menunjukkan secara gamblang bagaimana keserakahan dan kebodohan berkelindan dalam diri manusia.

Tersebutlah seorang pegawai anonim. Dari suasana kantor yang sepi dan kerapian pakaian yang tak lagi maksimal, penonton diajak untuk memahami bahwa sang pegawai sedang bertugas lembur. Ia berdiri dengan tampak kusut dan gestur malas menghadap mesin fotokopi.

Pada penonton tidak dijelaskan apakah di kantor tempatnya bekerja pegawai ini (satu-satunya karakter dalam film) punya jabatan atau tidak. Penonton diajak menebak-nebak. Barangkali dia punya jabatan, tapi pastinya rendah. Sebab memang lazimnya demikian. Hanya pegawai-pegawai berpangkat rendah yang diberi kerja lembur saat pegawai-pegawai lain sudah meninggalkan kantor.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved