Ngopi Sore

Kenapa Pejabat Korupsi? Karena Bodoh atau Serakah?

Keserakahan menemukan korelasinya dengan kebodohan. Persisnya, kebodohan yang tidak disadari.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Tribunnews/Irwan Rismawan
Wali Kota Medan, Tengku Dzulmi Eldin menggunakan rompi oranye dan tangan diborgol usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Kamis (17/10/2019) dini hari. 

Mendapati kejanggalan ini, kecerdasannya melesat. Mula-mula ia mencobanya pada mesin makanan. Ditempelkannya kertas dengan lingkaran hitam itu di kaca mesin, lalu merogohkan tangannya ke dalam. Berhasil! Ia menarik sebatang coklat.

Kecerdasannya makin melesat-lesat. Dengan cara yang sama ia membuka pintu satu ruangan. Kemungkinan besar ruang pimpinan kantor atau ruang direktur atau manajer keuangan. Sebab di sana terletak lemari besi. Ia menempelkan kertas itu, kemudian merogohkan tangannya dan menarik keluar segepok uang.

Sampai di sini, keserakahan membekapnya. Tidak cukup segepok. Ia mengambil gepok demi gepok yang lain. Dan di saat sama, keserakahan membuat kecerdasannya hilang, berganti kebodohan.

Ia merogoh makin dalam. Sampai masuk setengah badannya. Masuk dua pertiga badannya. Sampai masuk sepenuhnya, dan kertas tersebut lepas dari lemari besi. Ia terkunci di dalam.

Begitulah, sekarang kita bisa membayangkan para pejabat yang terjerat perkara korupsi seperti pegawai serakah ini. Mereka menyusun langkah-langkah cerdas hingga mampu jadi pejabat. Siasat dan muslihatnya tentu bermacam. Ada yang positif, banyak juga yang negatif. Setelah menjabat, mereka menemukan "black hole" dan mulai tergoda untuk mengambil 'yang bukan haknya'.

Mula-mula mereka mengambil kecil-kecil saja. Sebatang coklat. Atau sebotol minuman dingin. Keberhasilan-keberhasilan kecil meningkatkan godaan. Mereka jadi serakah. Terlebih-lebih, ada peluang di depan mata. Maka dimulailah penjarahan. Pencurian meningkat jadi perampokan. Makin lama makin besar, dan keberhasilan-keberhasilan lanjutan dari aksi ini, membuat mereka merasa di atas angin.

Tak sadar telah kehilangan kecerdasan. Tak sadar telah berubah bodoh, kemudian terjebak, membuat kesalahan-kesalahan konyol. Seperti Supendi. Seperti Eldin.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved