Lindungi Kerugian Gagal Panen, Dengan Asuransi Usaha Tani Padi Premi cuma Rp 36 Ribu

Si petani hanya bayar Rp 36 per ha, per musim tanam dan itu sangat membantu dengan biaya yang sudah disubsidi oleh pemerintah.

Lindungi Kerugian Gagal Panen, Dengan Asuransi Usaha Tani Padi Premi cuma Rp 36 Ribu
TRIBUN MEDAN/NATALIN SINAGA
PIC Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) Jasindo Cabang Medan, Lisa Anggreni di Kantor Jasindo Medan. Premi AUTP yang dibayarkan petani hanya Rp 36 ribu. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Hingga September 2019, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) telah membayar klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) lebih kurang sebesar Rp 191 juta dengan total lahan yang diklaim seluas 31,98 hektare (ha) khusus di Sumatera Utara.

PIC Asuransi Usaha Tani Padi Jasindo Cabang Medan, Lisa Anggreni mengatakan AUTP ini adalah produk asuransi yang ditujukan untuk para petani padi, baik pemilik maupun penggarap dengan tujuan melindungi kerugian kerugian petani jika terjadi gagal panen dan memberikan kepastian adanya jaminan modal biaya produksi untuk pertamanan berikutnya.

"Kalau petani gagal panen, dia bisa mendapat biaya untuk pengolahan lahannya kembali. Kerusakan fisik dan kerugian pada tanaman padi yang dijamin yaitu banjir, kekeringan, hama tanaman dan penyakit tanaman," ujar Lisa di Kantor Jasindo Medan, Kamis (17/10/2019).

Ia menjelaskan program AUTP ini hanya mewajibkan petani membayar Rp 36 ribu per hektare per musim tanam, sementara sisanya atau sebesar Rp 144 ribu ditanggung oleh pemerintah. Bila terjadi gagal panen akibat hama, kekeringan, dan banjir, maka petani bisa mendapatkan ganti rugi sebesar Rp 6 juta per ha.

"Si petani hanya bayar Rp 36 per ha, per musim tanam dan itu sangat membantu dengan biaya yang sudah disubsidi oleh pemerintah. Tarifnya tiga persen dari biaya produksi atau biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam pengolahan lahan satu hektar dari mulai pengolahan tanah sampai panen itu kita cover Rp 6 juta, jika gagal panen diakibatkan banjir kering atau hama penyakit tadi, satu hektarenya kita bayarnya Rp 6 juta," ungkapnya.

Diakui Lisa, meskipun banyak juga petani yang mengeluh tentang seringnya gagal panen, namun tetap saja para petani itu tidak menggunakan asuransi.

"Kita sudah sosialisasi kemana-mana, dan petani itu tahu, kendalanya mereka (petani) enggak mau mengeluarkan uang Rp 36 ribu itu saja, kalau saya lihat di lapangan. Padahal mereka banyak bantuan dari provinsi dan kementerian, makanya kenapa dari kementerian itu suka mendampingkan bantuan dan disarankan untuk ikut asuransi tapi mereka enggak mau, disitulah yang susahnya kita. Mereka tidak mau mengeluarkan uang Rp 36 ribu padahal untuk keselamatan panennya. Begitu gagal panen lalu enggak punya duit, dia (petani) pinjam ke rentenir lalu binggung.
Tapi begitulah petani kita dan itu saya yang belum bisa menemukan cara untuk merubah mindset mereka," katanya.

Lisa mengatakan mulai tanam padi maksimal 30 hari, lalu setelah petani mulai tanam padi maka bisa didaftarkan asuransi, namun bila melewati 30 hari maka tanaman padi itu tidak bisa ditetapkan dalam asuransi.

"Luas lahan yang bisa diasuransikan maksimal hanya dua hektare per orang, per pertani. Petani juga harus masuk dalam satu kelompok tani (poktan), dan tidak boleh pribadi," ucap Lisa.

Diakuinya, pada 2019 ini setiap pendaftaran AUTP, sudah menggunakan aplikasi SIAP (Sistem Informasi Asuransi Pertanian).

Halaman
12
Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved