Belajar Fotografi Alam Bebas Bersama PFI Medan dan Consina Store Gatsu

Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan kolaborasi dengan Consina Store Gatsu adakan sharing sessions bertajuk Wild Photography

Belajar Fotografi Alam Bebas Bersama PFI Medan dan Consina Store Gatsu
Tribun Medan/Riski Cahyadi
Independent Photojournalis Sutanta Aditya (tengah) bersama penulis sekaligus Fotografer Regina Safri (kanan) memberikan penjelasan pada saat diskusi fotografi bertajuk "Wild Photography" di Medan, Sumatera Utara, Minggu (20/10/2019).TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

TRIBUN-MEDAN.com - Pertama kali di Medan, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan kolaborasi dengan Consina Store Gatsu adakan sharing sessions bertajuk Wild Photography sekaligus Bedah Buku Before Too Late karya Regina Safri di Consina Store Gatsu Jalan Sei Sikambing C. II, Kecamatan Medan Helvetia, Minggu (20/10/2019).

Sharing Sessions ini mengundang dua pembicara yakni Independent Photojournalis, Sutanta Aditya dan Penulis sekaligus Fotografer, Regina Safri. Kegiatan ini disambut antusias, terlihat para consiners, pecinta alam, mahasiswa, jurnalis hingga fotografer Medan memenuhi ruang diskusi.

Ketua PFI Medan, Rahmat Suryadi menjelaskan bahwa PFI merupakan organisasi profesi, yang anggotanya bekerja di media maupun freelance.

"Kami menghadirkan dua pembicara yang sudah sangat dikenal oleh penggiat foto, literasi maupun pecinta alam. Semoga acara ini dapat menambah wawasan dan memotivasi kita, baik dari segi fotografi ataupun pelestarian lingkungan," katanya.

Sutanta menjelaskan bahwa fotografi flora dan fauna merupakan klasifikasi spesifik dalam perkembangan fotografi sebagai ilmu. Fungsinya yakni sebagai pembaharu kamus di perpustakaan visual atau museum.

"Visual kekuatan alam merupakan nilai yang berpengaruh signifikan dalam kesenian visual di Asia, yang tercatat pada kerajaan dinasti tang," tutur lelaki yang pernah meraih First Place of International Photography Award tahun 2014 itu.

Ia juga mengungkapkan fungsi lainnya yakni sebagai perekam proses evolusi vegetasi maupun satwa yang berubah dinamis dalam waktu, sebagai gambaran kekuatan alam. Ia mengaku sudah menggeluti dunia fotografi selama 10 tahun dan mengalami berbagai peristiwa unik, menyenangkan, juga menyedihkan.

"Sebelumnya saya pernah bermusik, karikatur dan lainnya. Kini saya menangkap hal-hal sosial, apapun itu yang ada di dunia dan menginstrumenkannya dengan fotografi," katanya.

Ia menjelaskan bahwa kata fotografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu photos yang berarti cahaya atau sinar dan grafo yang artinya garis atau lukisan. Dan ketika photos dan grafo bersatu akan menjadi citra, dan citra menjadi karya.

"Awalnya fotografi itu tidak ada, yang ada itu imaji, dan imaji di influence dalam seni lukis dan itu berjaya di zaman dinasti Tang di Cina. Dan itulah cikal bakal nilai fotografi hadir," jelasnya.

Ia mengatakan jika seseorang memahami fotografi sebagai ilmu pengetahuan, maka ketika seorang fotografer menyaksikan atau memotret suatu momen, berati sang fotografer adalah saksi dari hasil karya tersebut, sehingga semua itu menuntut tanggung jawab pada diri sendiri.

"Ketika kita mengetahui hal yang miris, lalu pertanggungjawaban kita apa ketika foto itu sudah menjadi wakil dari sebuah momentum. Alam bebas bagi saya adalah bumi, dan bumi terdiri dari flora dan fauna. Kita tau daratan hanya seperempat persen dari bulatan bumi dan selebihnya lautan. Dan saat ini sekitar 13 peesen diketahui flora mengalami degradasi yang sangat besar," katanya.

Tidak ketinggalan Ia juga berbagi tips saat ingin mengambil gambar di alam liar, terdapat beberapa hal penting perlu dipersiapkan seperti aplikasi perkiraan cuaca, baterai, ukuran lensa yang baik, pakaian yang memadai, dan lainnya.

"Ketika kita berpatok pada ilmu pengetahuan, ini akan sangat mudah," katanya.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved