Kemala Sari Dagang Bunga sejak Umur 18 Tahun, Kini Bisa Jual Ratusan Buket Bunga Perbulan

Dalam sebulan, ia bisa menjual hingga ratusan buket. Peminat buket ini kebanyakan adalah mahasiswa.

Kemala Sari Dagang Bunga sejak Umur 18 Tahun, Kini Bisa Jual Ratusan Buket Bunga Perbulan
TRIBUN MEDAN/SEPTRIANA AYU SIMANJORANG
Kemala Sari saat menunjukkan produk miliknya di kiosnya Rumah Buket Medan yang terletak di Pasar Raya MMTC, Minggu (20/10/2019). Perempuan 21 tahun ini telah membangun Rumah Buket Medan sejak 2016. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN-Buket atau karangan bunga menjadi produk yang umum diberikan untuk mengucapkan selamat dalam berbagai perayaan misalnya dalam sidang ataupun wisuda. Kenaikan minat memberikan buket ini turut meramaikan pelaku usaha buket bunga. Kemala Sari misalnya, perempuan 21 tahun ini telah membangun Rumah Buket Medan sejak 2016.

"Jadi dulu aku masih 18 tahun waktu mulai usaha ini. Awalnya kakak aku punya usaha penjualan balon, dia nanya bisa gak aku merangkai bunga jadi buket, aku bilang bisa. Dari situ, aku mulai terus membuat buket sampai sekarang," ungkap Kemala.

Dalam sebulan, ia bisa menjual hingga ratusan buket. Peminat buket ini kebanyakan adalah mahasiswa. Ia menjual buket dari harga Rp 5 ribu hingga Rp 250 ribu.

"Dulu kami jualan di depan Unimed, sekarang sudah dialihkan ke Pasar Raya MMTC. Aku jual bunga buatan dan bunga hidup. Selain menjual secara offline aku juga menjual secara online," katanya.

Ia mengatakan untuk bunga buatan bahan baku pembuatannya dari kain flanel dan kain satin. Namun selain itu juga ada bunga palsu pabrikan. Kemala kini dibantu seorang teman dan seorang karyawan dalam menjalankan bisnis ini.

"Kalau bunga hidup biasanya satu hari siap, bunga buatan juga begitu. Biasanya jika ingin request warna atau bentuk tertentu harus pesan sehari sebelumnya. Tapi kalau mau yang sudah ready kami ada selalu stocknya," ungkapnya.

Untuk merangkai bunga buatan dari kain flanel dan satin, memakan waktu yang cukup lama. Pertama, kain flanel harus digunting terlebih dulu lalu dibentuk menjadi kelopak bunga, sedangkan untuk kain satin langsung digulung hingga membentuk kelopak bunga.

"Jika sudah jadi kelopak bunga tinggal ditempel satu persatu ke karton yang sudah dibentuk lingkaran sebagai alas buket bunga. Kartonnya terlebih dulu ditempelkan kertas batik agar nanti lebih cantik," ungkapnya.

Harga bunga asli dan bunga buatan ini cukup jauh berbeda. Kata Kemala bunga asli pertangkainya bisa dijual Rp 40 ribu, sedangkan bunga palsu hanya Rp 5 ribu.

Selain menjual bunga, ia juga menjual kado lain seperti boneka, buket uang, dan buket makanan ringan. Untuk boneka, Kemala membeli di pabrik lalu dijual lagi. Boneka yang ia jual ada juga yang dirangkai dengan bunga agar lebih cantik.

"Kalau anak mahasiswa biasanya juga suka buket makanan ringan karena harganya murah dan bermanfaat juga untuk temannya. Biasanya budget mereka (mahasiswa) Rp 100 ribu ke bawah," katanya.

Ia mengaku setiap bulan ia bisa menjual hingga ratusan buket. Penjualan ini berfluktuasi tergantung ramainya mahasiswa yang melakukan sidang ataupun masa wisuda. Saat wisuda ia bisa menjual ratusan bunga dalam satu hari.

(cr18/tribun-medan.com)

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved