Psikolog Beberkan Fakta Mengerikan soal Kecanduan Game

Anak-anak dibawah usia 3 tahun yang sudah terpapar gadget tambahnya diketahui banyak yang mengalami gangguan keterlambatan bicara.

Psikolog Beberkan Fakta Mengerikan soal Kecanduan Game
Internet
FOTO ILUSTRASI: Kecanduan Game 

TRIBUN-MEDAN.com - Kemajuan tehnologi berdampak pada banyak hal termasuk mental. Psikolog sekaligus Direktur Minauli Consulting, Irna Minauli mengatakan yang menarik saat ini adalah munculnya gangguan mental baru yang diakibatkan oleh kecanduan internet, khususnya kecanduan games.

Gangguan ini sudah masuk dalam DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual) yang dikeluarkan oleh American Psychiatry Association) pada tahun 2013 dan tahun 2018 WHO mencantumkan gangguan ini kedalam ICD-11.

"Hal ini menunjukkan banyaknya masalah yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi ini yang tidak disertai dengan kesiapan individu mengendalikan diri sehingga menjadi sangat bergantung dan kecanduan," katanya, Minggu (20/10/2019).

Ia menjelaskan kondisi yang dapat memicu kecanduan tersebut dijelaskan oleh Kastleman dengan singkatan BLAST yang merupakan singkatan dari Bored or Burn-out (Kebosanan atau kejenuhan), Loneliness (Kesepian), Anger (Kemarahan), Stress dan Tired (Kelelahan). Dengan adanya internet maka banyak kasus-kasus yang menyertai (comorbid) dengan gangguan Internet Addiction.

Anak-anak dibawah usia 3 tahun yang sudah terpapar gadget tambahnya diketahui banyak yang mengalami gangguan keterlambatan bicara (speech delayed). Selanjutnya, ketika mereka memasuki usia sekolah (6-12 tahun), banyak yang mengalami ADHD (Attention-deficit hyperactivity disorder) sehingga mereka sulit berkonsentrasi karena perhatiannya yang mudah teralihkan. Anak-anak yang terpapar gadget jarang yang bisa mengerjakan tugas dalam waktu lama.

"Pada saat menganjak remaja, banyak yang kemudian mengembangkan gangguan perilaku (conduct disorder) yang ditandai dengan perilaku melanggar aturan seperti berbohong, mencuri dan bolos dari sekolah," katanya.

Pada masa remaja juga banyak yang mulai mengembangkan gangguan depresi. Penelitian membuktikan bahwa semakin lama seseorang menghabiskan waktunya untuk berselancar di dunia maya, khususnya di media sosial, maka tingkat depresi semakin tinggi. Selain itu, remaja tersebut juga trampil lagi dalam membina hubungan sosial di dunia nyata. Hal ini mengakibatkan mereka sering merasa kesepian dan kurang mendapatkan dukungan sosial.

Tekanan sosial yang remaja hadapi seperti bullying membuat mereka mengalami depresi. Banyak remaja kemudian mengarahkan kemarahan yang tidak dapat disalurkan ke luar dan mereka kemudian cenderung melukai diri sendiri (self-harming).

Kasus-kasus melukai diri sendiri ini tampaknya semakin banyak dijumpai dalam praktik psikologi saya. Jika tidak ditangani dengan baik maka tidak mustahil hal ini dapat mendorong mereka melakukan bunuh diri.

Pengaruh film, khususnya drama-drama dari Korea tampaknya semakin memberanikan remaja untuk memiliki pikiran bunuh diri. Gerakan seperti ingin mengakhiri hidup mereka ketika merayakan ulang tahun ke 27 mulai merasuki banyak remaja. Hal ini didorong oleh banyaknya idola mereka yang melakukan bunuh diri.

Belum lagi semakin longgarnya penerimaan remaja terhadap LGBTQ yang dianggap sebagai gaya hidup sebagaimana dicontohkan oleh banyak bintang di Korea.

Banyaknya orang yang melakukan operasi plastik juga bisa memicu gangguan yang disebut Body Dysmorphic Disorder dimana seseorang merasa kurang puas dengan kondisi fisiknya sehingga selalu berusaha untuk mengubahnya dengan cara operasi. Hal ini biasanya berkaitan dengan masalah depresi.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved