Ramai Diperbincangkan Netizen, Ini Kata Psikolog soal Mental Illnes hingga Fakta Tentang Bullying

Apa lagi belum lama ini seorang aktris Korea diketahui bunuh diri karena merasa tertekan dengan social media bullying.

Ramai Diperbincangkan Netizen, Ini Kata Psikolog soal Mental Illnes hingga Fakta Tentang Bullying
Tribun Medan/Jefri Susetio
Direktur Minauli Consulting, Irna Minauli. 

TRIBUN-MEDAN.com - Saat ini publik hingga dunia maya sedang ramai memperbincangkan Mental Illnes, penyakit mental yang konon katanya dimiliki oleh karakter utama dalam film Joker tersebut semakin populer setelah film tersebut ditayangkan di Indonesia.

Banyak kalangan, baik psikolog, akademisi, mahasiswa, hingga anak-anak Millenials tidak ingin ketinggalan memberi komentar tentang Mental Illnes. Apa lagi belum lama ini seorang aktris Korea diketahui bunuh diri karena merasa tertekan dengan social media bullying yang kerap Ia alami, tidak sedikit netizen menyatukan tali penghubung terhadap dua topik tersebut.

Kepada Tribun Medan, Psikolog sekaligus Direktur Minauli Consulting, Irna Minauli menjelaskan bahwa Mental illness adalah suatu kondisi dimana status mental seseorang mengalami gangguan sehingga membuat individu merasakan distress (stres yang tidak menyenangkan) sehingga menghambat perkembangannya sebagai manusia, dan mengganggu hubungannya dengan orang lain, seperti pekerjaan, pencapaian akademik dan lainnya.

"Masalah yang dihadapi kaum milenial tampaknya jauh lebih kompleks. Banyaknya tekanan yang mereka hadapi terutama yang berhubungan dengan masalah sosial, akademik dan hubungan personal membuat semakin banyak orang yang mengalami mental illness," katanya, Minggu (20/10/2019).

Mental illness ini, katanya dapat terjadi secara biologis maupun faktor lingkungan. Secara biologis terbukti bahwa beberapa gangguan sepertinya diturunkan dan bersifat genetik.

"Misalnya, diketahui bahwa secara turun temurun keluarga Hemmingway mengalami gangguan depresi dan selalu mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Selain itu, lingkungan juga turut berperan. Misalnya lingkungan keluarga yang tidak berfungsi dengan baik atau kita sebut dysfunctional family, juga turut berkontribusi terhadap kejadian gangguan mental ini. Semakin tingginya angka perceraian, dikhawatirkan akan meningkatkan kasus-kasus kenakalan dan gangguan seperti depresi," katanya.

Di era ini, kaum millenials dihadapkan dengan begitu banyak pilihan dan tuntutan hidup. Tidak jarang kebiasaan yang dianggap tidak sesuai dengan etika umum, dengan mudah didiskriminasi atau dibullying sehingga korban dapat merasakan depresi.

Hal tersebut diungkapkan Dahliana, Ia berpendapat bahwa Bully mungkin bagi sebagian orang wajar, tapi sebenarnya tapi tidak, karena menyangkut kenyamanan hidup oranglain.

"Penyebabnya menyangkut hal-hal yang dianggap umum, dimana kita dituntut untuk selalu bersikap moralis, mengutamakan etika, tidak berani keluar dari konstruksi sosial. Sehingga kalau kita tidak mengikuti standar etika yang dibuat oleh lingkungan, kita dianggap berbeda dan bisa dibullying," katanya.

Ia beranggapan bahwa Mental Illnes itu adalah gangguan mental, yang biasanya menyerang sisi psikokogis seperti emosional. Dan hal seperti ini penyebabnya bisa karena trauma masa lalu dan banyak hal lainnya.

Halaman
12
Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved