Jelang Pelantikan Jokowi-Maruf, Eggy Sudjana dan Mayjen TNI (Purn) Soenarko Ditangkap Kembali

Selain Mayjen TNI (purn) Soenarko, Politikus Eggi Sudjana juga Ditangkap kembali. Ia Diamankan dari rumahnya pada Minggu Dini Hari dan Barang Bukti

Jelang Pelantikan Jokowi-Maruf, Eggy Sudjana dan Mayjen TNI (Purn) Soenarko Ditangkap Kembali
Kolase Istimewa/ Tribun Medan
Mayjen TNI (purn) Soenarko, Abdul Basith, dan Eggy Sudjana. 

Pada 12 Juli lalu, kuasa hukum Eggi, Alamsyah sempat menyambangi Polda Metro Jaya untuk menanyakan perkembangan pengajuan surat permohonan penghentian penyidikan perkara (SP3) kliennya.

Permohonan SP3 diajukan bersamaan dengan pengajuan penangguhan penahanan pada 4 Juni 2019.

Eggi merasa penyidik Polda Metro Jaya tidak mempunyai alat bukti yang cukup untuk menetapkan dirinya sebagai tersangka kasus dugaan makar.

Namun, polisi belum memberikan pernyataan terkait perkembangan pengajuan SP3 oleh Eggi tersebut.

Baca: Terungkap Sejumlah Fakta Jelang Pelantikan, Presiden Jokowi Telepon Danko Marinir dan KASAD Andhika

Baca: TERBARU Bocoran Kabinet Kerja Jilid II yang Diumumkan Besok Senin Pagi Ada Fadli Zon hingga Djarot

Jejak Kasus Makar

Sebelumnya, Eggi Sudjana menyandang tersangka kasus dugaan makar setelah dilaporkan terkait pernyataan 'people power' saat berorasi di depan rumah Prabowo Subianto, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/4/2019)

Video orasi Eggi kemudian beredar di medsos dan viral.

"Saya dengar tadi insya Allah setelah jam 7 atau jam 8 akan diumumkan resmi apakah betul ada kecurangan yang serius maka analisis yang telah dilakukan oleh pemimpin kita juga yaitu bapak Amien Rais maka people power mesti dilakukan. Setuju? Berani? Berani?."

"Kalau people power itu terjadi kita tidak perlu lagi mengikuti konteks tahapan-tahapan karena ini udah kedaulatan rakyat, bahkan ini mungkin cara dari Allah mempercepat Prabowo dilantik. Tidak harus menunggu 20 Oktober. Inilah kekuatan people power, Insyaallah," demikian orasi Eggi, seperti dikutip dari video yang viral.

Orasi itu berbuntut panjang. Ia dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh kader PDIP. Berdasarkan hasil gelar perkara penyidik pada 7 Mei 2019, Eggi akhirnya resmi ditetapkan sebagai tersangka.

Eggi disangkakan dengan Pasal 107 KUHP dan/atau Pasal 110 KUHP juncto Pasal 87 KUHP dan/atau Pasal 14 ayat 1 dan ayat 2 dan/atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946.

Atas penetapan tersangka itu, Eggi mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jumat (10/5/2019).

Di tengah “perlawanan” Eggi terhadap penetapan status tersangka, penyidik Polda Metro Jaya menjadwalkan pemeriksaan terhadap Eggi Sudjana sebagai tersangka, yang berujung penangkapan pada Selasa (14/5/2019) dini hari.

Proses penangkapan Eggi Sudjana dianggap tidak lazim. Kendati demikian, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, menegaskan penangkapan Eggi sudah sesuai prosedur.

Awalnya, Eggi datang ke Polda Metro Jaya untuk memenuhi panggilan penyidik.

Ia kemudian dicecar selama 13 jam dalam kapasitas sebagai tersangka kasus makar, terhitung sejak Senin (13/5/2019) sore sekitar pukul 17.00 WIB.

Setelah pemeriksaan selama 13 jam, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) sekaligus advokat itu tetap tak bisa meninggalkan Mapolda Metro Jaya.

Penyidik langsung membacakan surat penangkapan terhadap Eggi di ruang pemeriksaan pada Selasa (14/6/2019) subuh pukul 06.00 WIB.

Proses penangkapan Eggi dianggap janggal oleh tim kuasa hukumnya. Eggi juga sempat menuliskan surat di secarik kertas yang mengungkapkan keanehan penangkapannya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, penangkapan Eggi oleh penyidik seusai proses pemeriksaan sudah sesuai prosedur. Berita acara penangkapan, sambung Argo, juga sudah ditandatangani oleh Eggi pukul 06.25 WIB.

Baca: Viral Video Detik-detik Mobil Lamborghini Raffi Ahmad Terbakar, Kronologi dan Penjelasan Polisi

Baca: Mobil Nissan Terra B 1 RI Diamankan, Ada Parang dan Undangan Pelantikan Presiden

Argo mengungkapkan, penangkapan Eggi Sudjana dilakukan dengan berbagai pertimbangan penyidik. Di antaranya, dinilai tidak kooperatif saat menjalani pemeriksaan.

Bahkan Eggi sempat menolak menjalani pemeriksaan pada Senin sore saat datang menemui penyidik. Eggi juga enggan memberikan ponselnya saat penyidik memintanya untuk disita.

Karena beberapa alasan itulah penyidik akhirnya melakukan penangkapan terhadap Eggi, usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus dugaan makar.

Penangkapan dilakukan penyidik dengan membacakan dan menyampaikan surat penangkapan terhadap Eggi yang didampingi tim kuasa hukumnya, di ruang penyidik, Selasa subuh.

Sehari setelah penangkapan, penyidik menerbitkan surat penahanan terhadap Eggi.

Eggi Sudjana ditahan untuk 20 hari ke depan sejak 14 Mei.

Di tengah proses penahanan Eggi, proses gugatan praperadilan Edi mulai memasuki tahap persidangan di PN Jakarta Selatan.

Namun, tepat dua pekan setelah Eggi mendekam di sel tahanan Polda Metro Jaya, Rabu (29/5/2019), Eggi melalui kuasa hukumnya secara mengejutkan mengajukan pembatalan gugatan praperadilan. Tapi, alasan permohonan tidak dibacakan secara rinci di persidangan PN Jaksel.

Di sel tahanan, Eggi Sudjana alami Claustrophobia atau fobia tempat sempit.

Hal itu diketahui setelah Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon datang mengunjungi Eggi di sel tahanan Polda Metro Jaya pada Rabu (29/5/2019). Fadli juga sempat melihat kondisi sel tahanan yang ditempati Eggi Sudjana.

Menurut Fadli, Eggi menceritakan keluhannya mendekam di sel tahanan berukuran 3x1 meter.

Kata Fadli, curhat Eggi seputar keadaan dirinya di sel yang mengalami fobia tempat sempit.

Eggi pun kerap mengalami halusinasi selama mendekam di rumah tahanan (rutan) Polda Metro Jaya.

"Selnya (Eggi Sudjana) itu (berukuran) 3x1 meter dan (Eggi Sudjana) ada riwayat penyakit macam-macam yang saya kira bisa juga ini fobia terhadap tempat sempit sehingga bisa ada halusinasi," kata Fadli Zon di Polda Metro Jaya, pada Rabu (29/5/2019).

Anggota Komisi 3 DPR RI yang juga Direktur Advokasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Sufmi Dasco Ahmad, mengajukan diri sebagai penjamin penangguhan penahanan untuk Eggi Sudjana.

Namun, penangguhan penahanan Eggi Sudjana baru terealisasi pada 24 Juni 2019. 

"Setelah penyidik menerima surat pengajuan penangguhan penahanan untuk tersangka Eggi Sudjana, tentunya penyidik pasti akan mengevaluasi dari pengajuan tersebut," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (24/6/2019).

"Setelah diilihat dan dievaluasi, kemudian pada hari ini, Senin tanggal 24 Juni, pengajuan penangguhan penahanan oleh penjamin Pak Dasco itu dikabulkan oleh penyidik," ujarnya. 

Selanjutnya, Eggi berkewajiban melapor ke Polda Metro Jaya dua kali sepekan yakni pada hari Senin dan Kamis. 

Namun, pada Minggu (20/10/2019) dini hari, tepat saat hari H pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Jokowi dan Ma'ruf Amin, Eggi Sudjana kembali ditangkap aparat Polda Metro Jaya.

Sebelumnya, selain Eggi Sudjana, Mayjen TNI (purn) Soenarko juga telah ditangkap kembali. 

Soenarko tersangka kembali terkait aksi perencanaan bom molotov Dosen IPB Abdul Basith. Selanjutnya>>>> Baca: Mayjen TNI (Purn) Soenarko Kembali Tersangka, Kali Ini Terseret Kasus Dosen IPB soal Bom Molotov

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sedang Dalam Penangguhan Penahanan, Eggi Sudjana Kembali Ditangkap Polisi", "Pengacara: Eggi Sudjana Ditangkap untuk Diklarifikasi sebagai Saksi Kasus Perakit Bom"

Editor: Abdi Tumanggor
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved