Curhat Pencipta Lagu Asal Sumut: Lagu Kami Ada Dimana-mana Tapi Tak Ada Royalti

"Lagu-lagu kami (teman teman pencipta lagu Karo) dimana mana, tapi kami enggak dapat royalti," kata Sudarto Sitepu.

Curhat Pencipta Lagu Asal Sumut: Lagu Kami Ada Dimana-mana Tapi Tak Ada Royalti
Tribun Medan/Alija Magribi
Pertemuan KCI Sumut dengan seniman Sumut, Rabu (23/10/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com-Sejumlah penyanyi legendaris ternama Sumatera Utara bertemu dengan Karya Cipta Indonesia Sumut, selaku lembaga kolektif yang menangani hak pencipta lagu, Rabu (23/10/2019) sore.

Dalam pertemuan ini, hadir 24 penyanyi kebanggaan masyarakat Sumut seperti Wak Uteh, Netty Vera Bangun, Usman Ginting, Sudarto Sitepu, Pinta Bangun, Darius Sembiring, dan Ismed Barus.

Penyanyi lain yang hadir adalah Emil Harsya, Mastar Ain Tanjung, Daud Barus, Egi Suranta Ginting, Tommit Tampubolon, John Paradep, Samoa Tarigan, Rimbun Tarigan dan beberapa nama almarhum penyanyi lainnya yang turut diwakilkan.

Penyanyi khas lagu Karo, Sudarto Sitepu, dalam pengantarnya menyampaikan pertemuan dengan KCI sangat dinanti-nantikan. Ia mengaku masih tidak tahu bagaimana memaksimalkan dari karya karyanya.

"Saya sudah 25 tahun berkarya. Ratusan lebih lagu yang dihasilkan. Tapi enggak tahu bagaimana lagu-lagu kita terdaftar dan bisa menerima royalti," ujar Sudarto.

Sudarto mengatakan, setiap kali ke luar daerah dirinya kerap mendengar lagu-lagu ciptaannya dimainkan di rumah karaoke/kafe. Tapi dirinya heran, keterkenalan lagu-lagunya tak berefek apa apa pada pencipta lagunya.

"Lagu-lagu kami (teman teman pencipta lagu Karo) dimana mana, tapi kami enggak dapat royalti. Kami berharap diberikan informasi bagaimana bisa lagu dapat royalti dan lagu kita bisa memaksimalkan hasil dari karya yang dicapai," tuturnya.

Ia pun mencontohkan, eksistensi lagu Bengawan Solo yang mendapat royalti besar dan kerap didaur-ulang oleh band-band asing. Padahal seniman daerah Sumut punya karya yang tak kalah, namun entah mengapa tak bisa maksimal berdaya.

Apa yang dikatakan Sudarto ditimpali Wak Uteh. Pencipta lagu "Ondak ke Laut Angin pun Koncang" yang tersohor di pesisir timur ini mengaku hanya menerima Rp 1,8 juta dalam setahun dari royalti yang ia terima.

"Kalau dulu, saya bisa Rp 7 juta sebulan. Lah, sekarang Rp 180 ribu, pun kurang. Bukan mendemo atau meminta uang. Kami ini ingin berdaya dengan karya karya yang kami ciptakan," ujar pria bernama asli Jalaut Hutabarat ini.

Halaman
12
Penulis: Alija Magribi
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved