Ngopi Sore

Kabinet Baru dan Langkah-langkah Catur Jokowi

Sejak mulai memanggil kandidat untuk mengisi komposisi menteri pada kabinet baru sampai pada pelantikannya, Jokowi seperti sedang bermain catur.

TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Masalah ini sebenarnya berakar dari bawah. Dari pendidikan tingkat dasar. Hakekat pendidikan di Indonesia masih kolonialis. Pendidikan dengan pemeringkatan sebagai tolok ukur sahih. Pemeringkatan yang berangkat dari hasil-hasil ujian.

Bagaimana mekanisme ujiannya? Sejak zaman jebot belum berubah. Pemberian soal-soal dan murid menjawabnya dengan menghapal. Kecuali bidang-bidang eksakta, jawaban benar adalah jawaban yang serupa dengan yang tertera di buku. Serupa persis hingga ke tanda baca. Perbedaan, walau konteksnya tidak melenceng, dianggap sebagai kesalahan.

Nadiem melihat persoalan ini dan memberikannya sebagai jawaban atas pertanyaan Jokowi. Saya membayangkan, sekiranya dia cukup punya cukup keberanian untuk mengubah pandangan dan alur pikiran "kaum tua" di dunia pendidikan Indonesia, dalam dua tiga tahun ke depan sekolah-sekolah di negeri ini akan jadi sekolah yang lebih ramah anak. Bukan sekolah yang penuh dengan aturan kolot dan tugas-tugas dan buku-buku setebal batu bata yang harus dibawa anak tiap hari hingga membuat punggung mereka jadi bungkuk sebelum waktunya.

Masih banyak lagi langkah catur Jokowi yang jika dibahas akan membuat tulisan ini jadi lebih panjang. Misalnya, kenapa Susi Pudjiastuti, menteri kesayangan publik, justru terlempar dari kabinet. Adakah dugaan lain yang lebih kuat dari isu perseteruannya dengan Luhut Panjaitan? Atau perihal "pemaksaan" Tito Karnavian mengakhiri kariernya sebagai polisi. Kenapa mesti dia yang didudukkan di pos Menteri Dalam Negeri?

Atau kenapa Yasonna Hamonangan Laoly masuk kabinet lagi? Kenapa Jokowi meletakkannya di bawah Mahfud MD? Padahal kedua orang ini, berbeda pandangan perihal Rancangan Undang Undang, termasuk RUU KPK. RUU ini telah sah jadi UU dan Mahfud merupakan orang yang termasuk paling kencang bersuara agar presiden mengeluarkan Perppu.

Masih ada yang lain, dan seperti saya bilang, akan panjang apabila diteruskan. Mungkin lain kali. Sekarang saya cukupkan sampai di sini.(t agus khaidir)

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved