Teater Tradisi Jong Bataks Arts Festival: Seperti Daun Kering yang Jatuh dari Dahan

Jetua Jong Bataks Arts Festival, Ojax Manalu mengatakan ruang tersebut adalah wadah refleksi para pengunjung terhadap keberadaan teater tradisi.

Teater Tradisi Jong Bataks Arts Festival: Seperti Daun Kering yang Jatuh dari Dahan
TRIBUN MEDAN/SEPTRIANA AYU SIMANJORANG
Penampilan tradisional di hari pertama dalam acara Jong Bataks Arts Festival 2019 yang diselenggarakan di Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 33, Gaharu, Jumat (25/10/2019) 

TRIBUN-MEDAN.com - Saat menyambangi lokasi Jong Bataks Arts Festival 2019 yang diselenggarakan di Taman Budaya Sumatera Utara, pengunjung akan disuguhkan patung jerami berbentuk manusia yang tersebar secara acak. Bentuk tubuh patung jerami menunjukkan gesture yang sama, yakni seperti ingin meraih sesuatu.

Mengambil tema Teater Tradisi, Jong Bataks Arts Festival tahun ini, ingin memberikan edukasi kepada masyarakat luas terkhusus anak muda, tentang keberadaan teater tradisi sebagai cikal bakal terbentuknya teater modern seperti sekarang ini.

Pesan tersebut disampaikan dalam sebuah Ruang beejudul Ruang Kini Kita. Jetua Jong Bataks Arts Festival, Ojax Manalu mengatakan ruang tersebut adalah wadah refleksi para pengunjung terhadap keberadaan teater tradisi.

Di sepanjang jalan menuju Ruang Kini Kita, terlihat patung jerami yang terletak dari berbagai arah seolah menyambut para pengunjung. Saat memasuki ruangan, akan tampak sebuah pohon yang disokong dengan tumpukan jerami, dengan daun yang sudah setengah mengering. Sebagian lainnya bahkan sudah gugur. Dibawahnya terdapat proyektor yang memantulkan penampilan teater tradisi.

Di sepanjang dinding Ruang Kini Kita, terdapat berbagai penjelasan tentang teater tradisi yang pernah eksis Seperti Mendu, Randai, Opera Batak, Kondobuleng, dan lainnya. Tidak ketinggalan goresan harapan pengunjung untuk teater tradisi sengaja digantung agar mudah dibaca.

"Teater tradisi itu seperti pohon ini, awalnya Ia tumbuh, lalu lama kelamaan kering ditelan oleh zaman. Ruang kini kita ini setiap tahun konsepnya berbeda-beda. Ruang ini seperti penyampaian visi kedepan. Kalau kita tidak mau seperti daun ini, rontok ya kita harus menumbuhkan daun-daun yang lain, sebagai penerus," jelasnya, Jumat (25/10/2019).

Tujuan diselenggarakannnya Jong Bataks Arts Festival kali ini kata Ojax agar para pengunujung tau jenis-jenis teater tradisi, selanjutnya menarik minat anak muda untuk terlibat di dalamnya.

"Kita lihat saja, sangat minim sekarang teater tradisi yang anak muda berperan di dalamnya. Setelah orangtua nanti pergi, lantas siapa yang akan melanjutkannya?, tidak ada masalah dengan teater modern, namun ada teater tradisi yang kearifan lokalnya sangat dekat dengan kita, lantas kenapa kita melupakannya," katanya.

Ojax mengatakan acara yang gelar hingga 27 Oktober tersebut akan diisi oleh komunitas-komunitas teater dari dalam maupun luar Sumatera Utara. Seperti Ketoprak Dor, Teater Sasada Bahtera, Teater Harapan, Teater Lampu Production, Komunitas Tanda Tanya(Aceh), Teater Randai (Padang) dan lainnya

"Selain itu ada juga penampilan sendratari dari Sanggar Jolo New, Sihuttur Dancer, dan Sanggar Sendratasik SMA PAB 4 Sampali. Juga, musikalisasi puisi dan pembacaan puisi berdialek kearifan lokal sumatera utara dari dalam maupun luar Medan," katanya.

Festival ini dikhususkan mengusung konsep teater tradisional. Menurut Ojax Teater tradisional adalah salah satu kekayaan nasionalisme bangsa. Teater merupakan salah satu karya seni yang dulunya digunakan sebagai kritik sosial yang terjadi. Terlebih pada masa penjajahan Belanda, Jepang, dan Orde Baru.

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved