Pekerja RSU Kabanjahe 3 Bulan Tak Gajian, Honorer Terpaksa Pinjam Uang Tetangga

"Jangankan beli yang lain-lain, untuk beli beras sama jajan anak berangkat sekolah saja harus pinjam ke sana ke mari," kata TS.

Pekerja RSU Kabanjahe 3 Bulan Tak Gajian, Honorer Terpaksa Pinjam Uang Tetangga
TRIBUN MEDAN/M NASRUL
Suasana RSU Kabanjahe di Jalan Selamat Ketaren, Kabanjahe, Kamis (24/10/2019). 

KABANJAHE, TRIBUN-Ratusan tenaga honorer yang bekerja di Rumah Sakit Umum (RSU) Kabanjahe sudah tiga bulan terakhir tidak menerima gaji.

Akibatnya, para pekerja ini terpaksa mencari jalan lain untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka terpaksa mengutang ke tetangga demi membeli beras.

"Jangankan beli yang lain-lain, untuk beli beras sama jajan anak berangkat sekolah saja harus pinjam ke sana ke mari. Ya, cari pinjamannya ke mana sajalah, tebal-tebal muka saja lah," ujar TS, seorang honorer, kemarin (24/10).

Hal senada disampaikan AG. Katanya, ia tidak tahu persis kenapa mereka belum gajian. Dirinya berharap, agar pihak rumah sakit segera membayarkan gaji mereka yang masih tertahan.

"Kami bingung juga kenapa gaji kami belum dibayar, tapi kami masih kerja seperti biasa. Ya kami berhak supaya gaji kami segera dicairkan," ucapnya.

Terpisah, Kepala Bagaian Tata Usaha, Agnes Tarigan mengatakan penunggakan gaji honorer lantaran anggaran rumah sakit minim. Setidaknya, ada 123 orang honorer yang belum gajian.

"Memang anggaran untuk honor Tenaga Harian Lepas (THL) kurang kemarin. Jadi sudah ditampung di P-APBD (2019). Mudah-mudahan minggu depan sudah gajian," katanya.

Agnes mengatakan, saat ini pihaknya masih menunggu Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) dari Bupati Karo. Pasalnya, untuk gaji honorer seluruhnya dibayar dengan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Minta Segera Diselesaikan
Wakil Bupati Karo, Cory Sebayang sudah meminta manajemen RSU Kabanjahe untuk segera menyelesaikan tunggakan gaji para honorer ini. Katanya, ia sudah berupaya menghubungi Direktur RSU Kabanjahe, dr Arjuna Wijaya Bangun. Namun, hingga saat ini belum ada jawaban.

"Sudah saya kabari kemarin, tapi belum ketemu-ketemu sampai sekarang. Kepala Dinas (Kesehatan) di Jakarta pula. Soalnya sudah saya telfon bolak-balik tapi belum ada jawaban," ujar Cory.

Saat diminta tanggapannya perihal kasus ini, Cory sangat menyesalkannya. Ia mengatakan, seharusnya permasalahan yang menyangkut ekonomi pekerja tidak terjadi.

"Namanya orang makan dari gaji itu. Tapi aku belum tahu pasti apa penyebabnya, entah dari bank atau dari mana, kan harus tahu dulu. Makanya nanti itu langsung kita tanyakan ke rumah sakitnya," ucapnya.

Terpisah, Asisten III Pemkab Karo, Mulianta Tarigan mengatakan manajemen RSU harus lebih teliti dalam menggunakan anggaran. Karena menurutnya, Pemkab sudah memberikan dana sesuai dengan yang dianggarkan oleh instansi terkait.

"Jadi kalau memang ada tunggakan, ya manajemen instansinya yang harus dipertanyakan. Apakah anggarannya masih kurang atau pemanfaatannya ke mana. Karena dana yang keluar dari Pemkab itu, berdasarkan pengajuan dari instansi yang bersangkutan," ucap pria berkacamata itu.

Mulianta menjelaskan, untuk penganggaran sendiri dirinya mengaku tidak dapat berkomentar lebih jauh. Karena untuk anggaran, instansi terkait langsung berhubungan dengan tim anggaran. (cr4)

Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved