Cara Soerkam Populerkan Cerita Rakyat Lewat Panggung Musik

Ia dan beberapa rekannya sepakat membentuk Soerkam Musik yang berfokus pada pelestarian dan pengembangan musik.

Cara Soerkam Populerkan Cerita Rakyat Lewat Panggung Musik
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI TARIGAN
Penampilan Soerkam dalam Festival Musik Tradisional yang diselenggarakan di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 33, Gaharu, Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com - Musik adalah irama kehidupan, sebab melalui musik manusia dapat mengekspresikan duka dan bahagia.

Musik tidak hanya menyetuh manusia, kajiannya tidak terbatas, sebab musik juga bisa berasal dari ekspesi alam hingga hingga jagat raya.

Demikianlah Founder Soerkam Musik, Zakki Fuadi memaknai musik secara luas. Karena kecintaannya terhadap musik, November 2013 Ia dan beberapa rekannya sepakat membentuk Soerkam Musik yang berfokus pada pelestarian dan pengembangan musik, tanpa meninggalkan unsur tradisi.

Ia menjelaskan Soerkam diambil dari kata sor atau soer yang artinya suka dan kam diambil dari bahasa daerah Karo dan salah satu suku di Aceh yaitu Gayo yang artinya kamu. Jadi apabila disatukan memiliki arti suka kah kamu. 

"Hal ini terlebih pada suatu pertanyaan apakah kamu suka terhadap yang kami suguhkan atau yang kami mainkan. Awalny nama ini sering dikaitan dengan suatu daerah di Tapanuli bernama Sorkam, padahal tak pernah terfikirkan sama sekali. Pemberian nama ini dicetuskan oleh personil kami yang bernama Jepta bangun, waktu itu dia ucapkan secara spontan dan disetujui oleh teman-teman berhubungan saat itu kita memang sedang tidak menyandang nama apapun di group kita," katanya, Senin (21/20/2019).

Di era millenials ini, Soerkam masih yakin, bahwa tradisi masih mampu bersaing dalam ranah eksistensi khususnya dunia musik. Dikarenakan pop dan musik modern lainnya saat ini juga hadil pengembangan dari unsur musik tradisional atau yang sering disebut dengan folk.

"Setidaknya kami mencoba dan berusaha bahwa pada hari ini kita masih mempunyai warna tradisi. Alat musik tradisi kita lebih keren dari alat yg sudah kita kenal saat ini dari wilayah barat," jelasnya.

Saat ini Soerkam sudah mempunyai 8 sampai 10 lagu yang sudah terkonsepkan dan sedang dalam prosea mengemasnya menjadi sebuah album. Rencananya kata Zakki akan dirilis pada awal januari 2020 mendatang.

Uniknya, melalui lagu, Soerkam menceritakan tentang folklor-folklor (Cerita Rakyat) yang pernah berkembang di tengah masyarakat tradisional. Satu diantaranya yakni mitologi gundala-gundala yang berasal dari tanah karo yang kemudian diangkat menjadi karya Soerkam.

"Niat nya juga sebagai refleksi terhadap masyarakat saat ini, agar mengingat kembalian cerita dahulu yang sebenarnya pernah eksis di zaman nya. Kita ingin memberikan informasi untuk kalangan anak muda yang barangkali sudah mulai lupa dan tidak tahu terhadap cerita folklor," katanya.

Karya-karya Soerkam umumnya diambil dari beberapa unsur etnis di Sumatera Utara dan Aceh yaitu etnis, Karo, Batak, Melayu, Aceh, Dan Gayo, yang mana kebetulan Anggotanya juga terdiri dari beberapa etnis tersebut.

Proses kreatif Soerkam kata Zakki, biasanya diawali dengan penelitian, setelah menemukan kesimpulan, maka akan dinarasikan layaknya penulisan sinopsis dan hal tersebutlah yang diimplementasikan dalam ranah proses bermusik.

"Kami bisa dikategorikan kelompok musik bergenre world music atau instrumental karena hanya berbentuk instrumen melodis dan tidak punya lirik seperti pop dan musik konvensional lainnya. Biasanya karya kami seperti storytelling yang diimplementasikan dalam musik," tuturnya

(cr21/tribun-medan.com)

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved