Udang di Tambak Bermatian, Petani Tuding PLTU Sumut II Penyebabnya

Petani udang yang memiliki tambak di sekitar PLTU Sumut II Desa Tanjung Pasir merugi karena udang bermatian.

Udang di Tambak Bermatian, Petani Tuding PLTU Sumut II Penyebabnya
Tribun Medan/Dedy Kurniawan
Pembudidaya udang di sekitar kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sumatera Utara II Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Pangkalansusu menunjukkan udang yang mati, Senin (4/11/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com - Penambak budidaya udang yang memiliki tambak di sekitar kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sumatera Utara II Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Pangkalansusu, merugi karena udang mereka bermatian.

Penambak udang, Junet (51) mengatakan, sebelum ada PLTU di sekitar tambak, mereka tidak pernah mengalami masalah udang bermatian hingga membuat mereka terancam bangkrut.

"Kalau begini kami para pembudidaya udang bisa-bisa gulung tikar. Kami hanya minta solusi, kalau terus-terusan kaya' gini, makan apa kami? Terus merugi gini ya terancam gulung tikar," katanya, Senin (4/11/2019).

"Tiap hari puluhan udang kami bermatian. Kalau begini terus, apa yang mau kami bawa untuk makan di rumah?" katanya geram.

Selain berdampak buruk ke pemilik tambak, para pekerja yang selama ini bekerja mengurus tambak pun terkena imbasnya. Beberapa pekerja tambak mendadak jadi menganggur.

"Tidak cuma kami. Warga sini yang bekerja di tambak juga mau makan. Cuma ini mata pencarian kami warga sini" kata dia.

Penambak lainnya, Usman (54) mengakui bahwa sudah ada beberapa rekannya yang terpaksa berhenti mengoperasikan tambak

"Berdampak betul sudah kondisi seperti ini, beberapa kawan terpaksa sudah menutup usaha karena mereka tidak sanggup dengan biaya operasional. Tidak balik modal," kata Usman.

Mereka berharap pemerintah hadir atas keberadaan PLTU yang beraktivitas di sekitar tambak.

"Kami hanya minta solusi dari pemerintah setempat. Tolong lah kami, mari duduk bareng dan cari solusi terbaik," ujarnya.

Manajer KSA PLTU Pangkalansusu, Arifin mengakui telah mendengar adanya keluhan warga. Katanya, dengan kondisi ini pihaknya berkoordinasi dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Langkat dan Provinsi.

"Hasil koordinasi kami mendapatkan informasi jika titik-titik spot polusi yang dianggap paling krusial masih dalam kondisi di ambang batas kewajaran. Kami sudah berkoordinasi kepada masyarakat dan menyosialisasikan permasalahan ini," katanya

Arifin juga mengatakan, pihaknya akan kembali berkoordinasi dengan PLTU Pusat mengenai keluhan warga. 

"Secepatnya kami melakukan pertemuan dengan masyarakat sekitar khususnya petani udang. Kami lebih dahulu koordinasi dengan pusat, setelah ada hasilnya kita akan melakukan pertemuan dengan masyarakat duduk bersama," pungkasnya. (dyk/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved