Sumut Mengalami Pelemahan Ekonomi, Tertolong Konsumsi Rumah Tangga

Secara historis, pertumbuhan ekonomi menurun jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Pedagang jilbab sedang melayani calon pembeli di Pasar Petisah, Medan, Selasa (28/5/2019). Jelang lebaran, penjualan busana muslim mulai meningkat, yang dijual dengan harga Rp 20 ribu hingga ratusan ribu rupiah per lembar. 

TRIBUN-MEDAN.com - Sumatera Utara mengalami pelemahan ekonomi pada triwulan ketiga 2019. 

"Perekonomian Sumatera Utara triwulan III 2019 tumbuh 5,11persen (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya yakni 5,25 persen (yoy). Meskipun demikian, pencapaian tersebut di atas pertumbuhan ekonomi Nasional dan Sumatera," ungkap Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumut, Wiwiek Sisto Widayat dalam Bincang Bareng Media di Medan, Rabu (6/11/2019).

Secara historis, pertumbuhan ekonomi menurun jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara spasial, pertumbuhan Sumut merupakan yang tertinggi ke-4 diantara 10 provinsi di Sumatera

Wiwiek mengatakan, pertumbuhan ekonomi Sumut pada triwulan pertama adalah 5,3 persen, triwulan kedua 5,25 persen, dan triwulan ketiga 5,11 persen. Jika dirata-ratakan ekonomi Sumatera Utara tumbuh 5,22 persen.

"Ini menjadi tantangan kita, karena 2018 kita tumbuh 5,18 persen. Kalau kita mau bawa pertumbuhan ekonomi pada 2019 kita ke 5,3 persen artinya kita harus tumbuh 5,6 persen pada triwulan keempat 2019," katanya

Dikatakannya perlambatan disebabkan oleh kontraksi dari sisi ekspor terutama ekspor antardaerah sejalan dengan penurunan LU Pertanian yang diindikasikan dipengaruhi oleh dampak kemarau panjang.

Selain itu Konsumsi Pemerintah juga tumbuh melambat sejalan dengan normalisasi belanja operasional pemerintah. Namun demikian, perekonomian masih ditopang oleh perbaikan Konsumsi Rumah Tangga didorong oleh tingginya belanja masyarakat pada masa liburan sekolah serta biaya pendidikan untuk tahun ajaran baru.

Menurutnya tiga bulan belakangan sumber pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara dari sisi permintaan selalu didorong oleh konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga pangsanya 54 persen dan di triwulan ketiga tumbuh 4,92 persen.

"Tetapi sumber-sumber permintaan lain masih dibawah rata-rata. Misalnya investasi hanya tumbuh rata-rata 6 persen. Ini yang menjadi tantangan Sumatera Utara agar bisa meningkatkan investasi baik dalam bentuk bangunan maupun non bangunan," katanya.

Menurutnya investasi harus terus didorong mengingat pangsa investasi di Sumut yang cukup tinggi mencapai 33. Mengingat 2018, pertumbuhan investasi di Sumatera Utara bisa mencapai 11 persen, ia berharap di triwulan keempat ini pertumbuhan investasi bisa didorong untuk tumbuh paling tidak 8 persen.

"Kita enggak muluk-muluk 11 persen, tumbuh 8 persen saja kita bisa mengungkit peetumbuhan ekonomi kita di triwulan keempat bisa tumbuh diatas 5,4persen hingga 5,5 persen. Selain itu potensi pertumbuhan ekonomi dari permintaan lainnya adalah dari konsumsi pemerintah," ujarnya

Kata Wiwiek selain itu potensi pertumbuhan ekonomi lainnya yang harus didorong adalah dari ekspor. Hingga saat ini ekspor di Sumatera Utara masih tergantung pada komoditas yaitu CPO, karet, dan kopi. Sementara dari data yang ada harga komoditas ini ditingkat global belum membaik.

"Tantangannya adalah apakah bisa ditingkatkan kuantitasnya. Kalau bisa ditingkatkan dari sisi ekspor tapi dengan harapan impor juga bisa ditekan. Saat ini impor kedua paling banyak adalah makanan ternak, apakah makanan ternak ini bisa kita tekan impornya," pungkasnya. (cr18/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved